Pringsewu, Arina.id — Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Lampung Prof Moh Mukri mengungkapkan bahwa akal manusia sering menjadi 'budak' dari perasaan. Dari hal inilah manusia cenderung subjektif dalam menilai sesuatu dan cenderung sulit untuk menilai diri sendiri.
Dengan menjadikan perasaan sebagai sumber untuk mengambil keputusan, maka manusia memiliki kecenderungan bisa mendahulukan keinginan dari pada kebutuhan. Sehingga daftar keinginan-keinginan akan 'berbaris' melebihi daftar kebutuhan.
"Kalau perasaan kita sudah senang dengan motif batik baju misalnya, maka otak atau akal akan mencari pembenaran untuk mendapatkan batik tersebut walaupun harganya mahal. Yang diutamakan perasaan dulu. Masalah harga, nanti dikalkulasikan otak," ungkapnya di Pringsewu, Lampung, Sabtu (7/9/2024).
Lebih lanjut, Ketua PBNU ini mengungkapkan buah dari akal diperbudak perasaan adalah fenomena seseorang yang selalu melihat semua hal tidak benar dimatanya. Seperti fenomena orang yang menilai negara ini salah dan jelak semua dimatanya.
"Jelek disimbolkan dengan setan dan kebaikan disimbolkan dengan Tuhan. Jika seseorang menilai semua jelek berarti Tuhan kalah dengan setan," katanya.
Prof Mukri pun mengungkapkan fakta bahwa manusia akan gampang mencari dan menilai kesalahan orang daripada kesalahan diri sendiri. Jika hal ini yang selalu bersemayam dalam diri seseorang maka kebaikan dan kebahagiaan dalam kehidupan akan sulit diwujudkan.
Padahal menurutnya, kebahagiaan hakiki adalah saat kita bisa menjadi bagian dari terselenggaranya kebaikan. Hal ini juga sudah ditegaskan oleh Nabi melalui haditsnya yang mengingatkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang mampu memberi manfaat bagi orang lain.
"Menjadi pengurus MUI menjadi momentum dan washilah untuk terselenggaranya kebaikan dan insyaallah akan jadi pasal untuk bisa masuk surga," katanya saat memberi amanat pada Pengukuhan Pengurus MUI Kecamatan Se-Kabupaten Pringsewu Lampung di Hotel Urban Pringsewu.
Sementara pada kesempatan tersebut, Ketua Umum MUI Kabupaten Pringsewu KH Hambali juga berpesan agar para pengurus MUI di Pringsewu harus benar-benar mampu berkhidmah dengan maksimal. Tiga hal khidmah atau khimayah yang perlu diperkuat adalah khimayatul ummah, khimayatud daulah, dan khimayatuddin.
"Kita perlu menjaga umat, menjaga negara, dan menjaga agama. Jangankan tidur, Pengurus MUI tidak boleh ngantuk," tegasnya.
Ia mengajak kepada pengurus MUI untuk tidak 'tersandra' oleh fakta bahwa menjadi pengurus MUI tidak bergaji. Ia mengajak pengurus menata niat dengan sebaik mungkin.
"Beda anggota DPR dengan pengurus MUI itu kalau setelah dilantik anggota dewan dapat RP kalau pengurus MUI setelah dilantik dapat PR," katanya
Sementara Ketua MUI Provinsi Lampung H Suryani M Nur yang menjadi pemateri Sarasehan dalam pengukuhan tersebut mengajak para pengurus MUI untuk senantiasa menguatkan kecintaan pada agama dan negara. Hal ini bisa dilakukan dengan senantiasa mematuhi aturan-aturan yang ada dalam agama dan negara.
"Pengurus MUI harus berpegang teguh pada dua ayat yakni ayat-ayat suci dan ayat konstitusi. Dan para pengurus juga harus mampu menjadi teladan sebab saat ini banyak yang bisa memberi contoh tapi jarang yang bisa menjadi contoh," ungkap Akademisi Universitas Tulang Bawang Lampung ini.
Hadir pada pengukuhan tersebut Sekda Pringsewu H Heri Iswahyudi, Ketua DPRD Pringsewu Suherman, jajaran Forkopimda, ketua Ormas keagamaan, dan Seluruh Pengurus MUI Kecamatan Se-Kabupaten Pringsewu.
Editor: Kendi Setiawan


