Jakarta, Arina.id—Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat. Militer AS melancarkan serangan udara ke sejumlah wilayah strategis di Iran pada Senin malam (13/7) waktu setempat atau Selasa (14/7) dini hari WIB. Serangan ini menjadi aksi militer AS untuk malam ketiga berturut-turut.
Media Iran melaporkan ledakan terjadi di sejumlah wilayah, antara lain Bandar Abbas, Bushehr, Jam, Kangan, Omidiyeh, Konarak, Chabahar, serta pulau-pulau strategis di Selat Hormuz, yakni Qeshm, Kish, dan Abu Musa.
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan sasaran serangan adalah fasilitas yang diklaim digunakan Iran untuk mengendalikan lalu lintas di Selat Hormuz. Target tersebut meliputi pos penjaga pantai, bunker perlindungan, dan berbagai infrastruktur militer yang disebut berkaitan dengan upaya menghambat pelayaran internasional.
Presiden AS Donald Trump juga mengonfirmasi operasi militer tersebut. Ia menyatakan tengah mempertimbangkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran, yang jika dilakukan akan menjadi serangan pertama ke wilayah pedalaman Iran sejak konflik kembali memanas.
Di sisi lain, Iran menyatakan akan terus melakukan serangan balasan. Militer Iran mengklaim telah menyerang sebuah kapal milik AS serta pangkalan militer Amerika di Kuwait. Menurut Teheran, sasaran serangan meliputi pusat komunikasi, depot bahan bakar, hingga sistem pertahanan udara Patriot.
Iran juga mengklaim berhasil menembak jatuh pesawat nirawak (drone) MQ-1 milik AS di atas Selat Hormuz serta memperingatkan akan melancarkan serangan lanjutan terhadap pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.
Sementara itu, kantor berita Mehr melaporkan sedikitnya empat orang terluka akibat serangan AS di Kota Omidiyeh, Provinsi Khuzestan. Ledakan juga dilaporkan terdengar di Kota Bushehr, meski hingga kini belum ada keterangan resmi mengenai dampaknya.
Di kawasan Teluk, Bahrain mengklaim sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat dan menghancurkan serangan udara Iran yang memasuki wilayah udaranya.
Perkembangan terbaru ini juga menuai kritik dari kalangan politik di Amerika Serikat. Pemimpin Minoritas Senat dari Partai Demokrat, Chuck Schumer, menilai Presiden Trump telah membawa AS ke dalam "perang tanpa izin" dan mendesaknya mematuhi Resolusi War Powers yang sebelumnya disahkan Kongres untuk menarik pasukan AS dari konflik dengan Iran.
Senator Adam Schiff turut menegaskan bahwa eskalasi terbaru menunjukkan pentingnya Kongres kembali menegaskan kewenangannya dalam memutuskan keterlibatan militer AS di luar negeri.
Editor: Suci


