Arina.id - Puasa Ramadan masih dijalani oleh warga Gaza dalam suasana kecamuk perang seperti tahun sebelumnya. Selama sepekan bulan puasa ini, Israel semakin meningkatkan serangannya ke Gaza dan wilayah Tepi Barat meskipun ada gencatan senjata.
Situasi itu bagi Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan tampak menyedihkan. Dia mengatakan, orang-orang di Gaza yang berbuka puasa di bangunan darurat di tengah reruntuhan dan menolak tunduk pada penindasan, "sedang memberikan contoh bagi umat Muslim melalui iman mereka," katanya, Rabu 25 Februari 2026.
"Meskipun gencatan senjata 10 Oktober (2025), yang juga dijamin dengan upaya Turki, pemerintah Israel terus meningkatkan serangannya terhadap Gaza dan Tepi Barat," ujar Erdogan melanjutkan, seperti dikutip dari Anadolu pada acara buka puasa di Kota Ankara.
Sementara itu di Tepi Barat, seperti dilaporkan kantor berita WAFA, sekitar 40.000 jamaah salat Isya dan Tarawih nampak khusyu di Masjid Al-Aqsa Kota Yerusalem yang diduduki serdadu Zionis.
Departemen Wakaf Islam, seperti dikutip WAFA, menjelaskan puluhan ribu jamaah berkumpul di kompleks masjid untuk menunaikan salat Isya dan Tarawih di tengah pembatasan ketat yang diberlakukan Zionis Israel.
Pasukan penjajah Israel ditempatkan di pinggiran dan pintu masuk Kota Tua Yerusalem untuk melakukan pemeriksaan kartu identitas jamaah yang hendak menuju masjid.
Selama Ramadan ini, Israel memang memperketat pembatasan terhadap jamaah Palestina yang hendak beribadah di Kota Tepi Barat yang diduduki, mengharuskan mereka untuk mendapatkan izin keamanan terlebih dahulu.
Menjelang Ramadan lalu, Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengucapkan selamat berpuasa kepada seluruh warga Palestina baik di dalam maupun luar negeri atas keteguhan mereka mempertahankan tanah mereka, serta kepada negara-negara Arab dan Islam.
Ia juga menyampaikan harapannya agar pada momen tersebut aspirasi rakyat Palestina untuk kebebasan dan kemerdekaan, termasuk pembentukan negara Palestina yang merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya, segera terwujud.
Israel membakar rumah warga Palestina di Tepi Barat
Di sisi lain, para pemukim ilegal Israel membakar rumah dan kendaraan warga Palestina pada Selasa 24 Februari 2026, di Desa Susya, selatan Hebron wilayah Tepi Barat sebagai bagian dari rangkaian serangan selama bulan Ramadan.
Organisasi Hak Asasi Manusia (HAM) Al-Baidar mengatakan para pemukim membakar lima rumah dan sejumlah kendaraan. Menurut organisasi tersebut, para pemukim menyerbu desa dan menyebabkan kerusakan besar pada properti serta menyebarkan ketakutan di kalangan warga, khususnya perempuan dan anak-anak.
Dikutip dari Anadolu, para pemukim ilegal juga menembakkan tabung gas air mata ke dalam beberapa rumah, yang mengakibatkan empat orang mengalami sesak napas akibat menghirup gas.
Masyarakat di wilayah Masafer Yatta, tempat desa tersebut berada, sering menghadapi serangan berulang dari pemukim, termasuk penyerbuan rumah dan penggembalaan ternak di atas lahan milik warga Palestina. Warga berulang kali menyerukan perlindungan dan penghentian kekerasan oleh pemukim.
Serangan oleh tentara Israel dan pemukim ilegal di Tepi Barat meningkat sejak dimulainya serangan terhadap Jalur Gaza pada Oktober 2023. Menurut data Palestina, lebih dari 1.116 warga Palestina telah tewas, 11.500 terluka, dan 22.000 orang ditangkap sejak saat itu.
Warga Palestina memperingatkan bahwa eskalasi kekerasan bertujuan untuk membuka jalan bagi aneksasi resmi Israel atas Tepi Barat, yang secara efektif akan mengakhiri prospek berdirinya negara Palestina sebagaimana diatur dalam resolusi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).
Komunitas internasional dan PBB menganggap Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, sebagai wilayah Palestina yang diduduki, dan memandang permukiman Israel di wilayah tersebut sebagai ilegal berdasarkan hukum internasional.
Mahkamah Internasional pada Juli 2024 dalam sebuah opini penting menyatakan bahwa pendudukan Israel atas wilayah Palestina adalah ilegal dan menuntut pengosongan seluruh permukiman di Tepi Barat dan Yerusalem Timur.
Editor: Muhammad Taufiq


