Arina.id - Badan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) dikabarkan sedang menggagas percepatan pembangunan proyek ambisius reaktor nuklir di Bulan. Proposal proyek reaktor nuklir 100 kilowatt di satelit bumi tersebut dikebut dalam pekan-pekan ini.
Sputnik mengutip dari dokumen proyek NASA, melaporkan kalau proposal industri rencana percepatan pembangunan tersebut bakal diumumkan oleh Menteri Perhubungan Amerika Serikat (AS) Sean Patrick Duffy, yang juga menjabat pelaksana tugas administrasi sementara NASA.
Dalam laporan juga dijelaskan untuk target peluncuran pembangunan reaktor nuklir direncanakan pada 2030. Hal itu akan menjadi reaktor nuklir di luar bumi selanjutnya, setelah sebelumnya Rusia dan China juga menggagas proyek serupa.
Proyek juga sangat penting untuk mendukung astronot luar angkasa untuk Kembali ke bulan. "Ini tentang memenangkan perlombaan antariksa kedua," demikian bunyi dalam laporan tersebut yang dijelaskan oleh seorang pejabat senior NASA sebelum pengumuman.
Arahan dalam laporan juga menyebutkan bahwa negara pertama yang membangun reaktor di bulan dapat "mendeklarasikan kawasan terlarang" di sana. Hal itu memicu kekhawatiran bakal menghambat Amerika Serikat, sebab sebelumnya proyek serupa yang diprakarsai China dan Rusia juga sudah diluncurkan tahun lalu.
Selain itu, Duffy juga akan mengumumkan target waktu percepatan penggantian Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) dengan alternatif stasiun yang dioperasikan secara komersial, dengan target memberikan kontrak kepada setidaknya dua perusahaan swasta dalam waktu enam bulan sejak permintaan proposal dari badan tersebut dikeluarkan.
Targetnya adalah memiliki stasiun baru yang mengorbit pada tahun 2030. Demikian bunyi laporan tersebut. Arahan itu juga mengamanatkan kepada NASA agar menunjuk seorang pemimpin untuk inisiatif tersebut dan mengumpulkan masukan dari pelaku industri dalam waktu 60 hari.
Tujuannya, tidak lain agar bisa segera merealisasikan peluncuran reaktor tepat waktu pada tahun 2030, bertepatan dengan rencana China bersama Rusia yang akan mendaratkan astronot pertamanya di Bulan.
Sebelumnya, pada November 2022, Rusia dan China telah menandatangani kesepakatan bersama atau memorandum of understanding (mou) tentang rencana pembangunan Stasiun Lunar Ilmiah Internasional (ISLS) pada 2033-2035.
Saat itu, Kepala Roscosmos, Yuri Borisov, mengatakan bahwa badan antariksa Rusia dan China juga sedang mempertimbangkan untuk membangun fasilitas energi nuklir di bulan. Waktu itu, ia juga sempat menyinggung bahwa pengembangan fasilitas yang merupakan bagian dari proyek bersama telah dimulai.
Karena ISS akan meninggalkan orbitnya setelah 2030, Rusia berencana membangun stasiun orbital baru. Perusahaan Roket dan Antariksa Energia Rusia berencana meluncurkan modul pertama stasiun ini pada 2027 untuk menyelesaikan pembangunannya di orbit pada 2032.
Editor: Muhammad Taufiq


