Jakarta, Arina.id — Akademisi Fahrudin Faiz membahas pandangan para sufi mengenai patah hati. Ia mengajak masyarakat membawa pengalaman sakit hati ke dalam perspektif spiritual sehingga kekecewaan tidak hanya dipandang sebagai pengalaman emosional, tetapi juga dapat menjadi sarana mendekat kepada Allah.
“Jadi malam hari ini mari kita bawa sakit hati kita secara vertikal. Kalau bahasa akademis itu kita melakukan spiritualisasi sakit hati. Sejauh mana sakit hati itu kemudian jadi kendaraan kita untuk tambah dekat kepada Allah,” ujar Fahrudin Faiz dalam tayangan Ruang Sinau diakses Sabtu (3/10/2026).
Ia kemudian mengutip pandangan Sultan Bahu, seorang mursyid Tarekat Sarwari Qadiri yang berkembang di India, Pakistan, Bangladesh, dan wilayah sekitarnya sejak sekitar abad ke-17.
Menurut Fahrudin Faiz, Sultan Bahu memiliki pandangan menarik mengenai bagaimana seseorang seharusnya memperlakukan orang yang sedang mengalami patah hati. Ia mengutip pernyataan dalam karya Sultan Bahu yang menyebut bahwa merawat orang yang patah hati setara dengan ibadah bertahun-tahun.
“Merawat orang yang patah hati itu setara dengan ibadah bertahun-tahun,” kata Faiz menjelaskan pandangan tersebut.
Karena itu, Faiz mengajak masyarakat untuk belajar menemani orang-orang yang sedang mengalami kekecewaan, kegelisahan, dan patah hati. Ia menilai kondisi tersebut tidak sepatutnya menjadi bahan candaan atau justru membuat seseorang semakin tertekan.
“Jadi ayo latihan. Karena seperti saya bilang di sesi pertama dulu, belakangan ini banyak orang depresi. Jadi, ayo kita temani saudara-saudara, teman kita yang sedang patah hati. Jangan diketawakan,” tuturnya.
Menurutnya, seseorang yang melihat orang lain dari luar sering kali tidak mengetahui seberapa berat beban yang sedang dirasakan. Karena itu, respons berupa ejekan atau kemarahan justru berpotensi memperburuk keadaan orang yang sedang mengalami persoalan emosional.
“Kita ketawa karena melihat dari luar. Kalau kita rasakan dari dalam, betapa berat yang mereka rasakan,” ujarnya.
Patah Hati dan Kedekatan dengan Allah
Fahrudin Faiz menjelaskan bahwa pengalaman patah hati dalam pengertian luas dapat dialami siapa saja. Patah hati tidak hanya berkaitan dengan hubungan asmara, tetapi juga dapat berupa kekecewaan dan kegelisahan ketika keinginan seseorang tidak terpenuhi.
Karena itu, ia mengajak pengalaman tersebut dilihat dari perspektif spiritual. Rasa sakit dan kecewa yang dialami seseorang dapat menjadi momentum untuk melakukan refleksi dan semakin mendekatkan diri kepada Allah.
“Ada banyak hadis yang mengindikasikan justru Allah itu bersama-sama orang yang lemah, orang yang terpinggirkan, orang yang kesusahan, orang yang sakit dan lain sebagainya,” jelasnya.
Menurut dia, orang yang sedang patah hati juga membutuhkan pendampingan agar tidak menghadapi beban tersebut seorang diri.
“Siapa tahu mereka ini bisa jadi jalan kita untuk tambah dekat kepada Allah, menghadirkan rida-Nya Allah, sayangnya Allah pada kita,” katanya.
Ia menambahkan, menemani orang yang sedang patah hati tidak selalu harus dilakukan dengan memberikan solusi. Kehadiran dan kesediaan untuk mendengarkan juga dapat menjadi bentuk kepedulian.
“Kalau sendirian biasanya ya mereka tidak kuasa menaklukkan diri mereka sendiri,” ujarnya.
Tidak hanya mengajak masyarakat menemani orang lain, Fahrudin juga mengingatkan bahwa seseorang yang sedang patah hati dapat belajar menemani dirinya sendiri.
“Kalau saya sendiri yang patah hati, Pak. Gimana? Ya ndak apa-apa, kamu temani jiwamu sendiri kalau tidak ada yang menemani,” ungkapnya.
Editor: Kendi Setiawan


