Arina.id - Bos Manchester City, Khaldoon al-Mubarak, memiliki kekebalan diplomatik di Inggris pada tahun 2020. Kekebalan diplomatik ini umumnya melindungi individu dari tuntutan pidana dan beberapa proses hukum di negara tempat mereka bertugas.
Sehingga, meskipun Manchester City, klub sepak bola miliknya sedang didakwa banyak perkara, al-Mubarak kemungkinan besar tidak bisa dikenai sanksi pidana atau sanksi hukum lainnya. Hal ini menyusul pengumuman oleh Premier League bahwa sebuah komisi independen telah menyatakan City bersalah atas 115 dakwaan pelanggaran aturan keuangan dengan secara artifisial membesarkan keuangan City lebih dari £900 juta.
Mubarak adalah direktur utama dan CEO grup Mubadala, sebuah dana kekayaan negara senilai USD330 miliar yang pemegang saham utamanya adalah pemerintah Abu Dhabi. Mubarak telah memimpin City sejak 2008. Pada tahun 2013, ia menerima penghargaan Commander of the Order of the British Empire, sebagian karena memperkuat hubungan budaya antara Inggris dan UEA, termasuk melalui akuisisi klub sepak bola tersebut.
Dikutip dari middleeasteye (MeE), penyelidikan menemukan bahwa pemilik City telah "menyembunyikan kondisi keuangan sebenarnya dari auditor dan regulator sepak bola" untuk melewati batas pengeluaran antara tahun 2008 dan 2018. Namun City telah membantah tuduhan tersebut, dan menolak temuan itu. Mereka mengatakan mereka akan mengajukan banding. Tidak ada indikasi bahwa Mubarak telah melakukan kesalahan.
Sebelumnya, temuan Premier League, klub yang berbasis di Kota Manchester itu menggunakan kontrak komersial "palsu" untuk secara artifisial meningkatkan pendapatan dan mengurangi biaya lebih dari $1 miliar. "Laporan keuangan Klub belum disiapkan dan diaudit sesuai dengan prinsip hukum dan regulasi yang berlaku," tulis komisi. "Laporan itu ceroboh dan tanpa itikad baik", tambahnya.
Jika temuan diterima, maka dapat memicu proses hukum lebih lanjut, termasuk tindakan perdata oleh klub Premier League lain yang percaya tindakan City merugikan mereka di lapangan. Polisi juga dapat memulai penyelidikan kriminal jika mereka mencurigai terjadi kejahatan.
Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan, wakil perdana menteri dan wakil presiden UEA, memiliki klub yang ia beli pada September 2008 seharga $265 juta. Di bawah kepemilikan Sheikh Mansour, City telah menjadi kekuatan dominan dalam sepak bola Inggris. Mereka telah memenangkan delapan gelar Premier League, empat Piala FA, tujuh Piala Liga, dan satu Liga Champions dalam 15 tahun terakhir.
Penyelidikan atas pelanggaran keuangan City dimulai setelah media Jerman Der Spiegel mempublikasikan dokumen bocor pada tahun 2018. Email yang diduga dipertukarkan antara eksekutif senior City menunjukkan bahwa klub telah membesar-besarkan pendapatan sponsor dari maskapai yang dikendalikan negara Abu Dhabi, Etihad, dan perusahaan telekomunikasi Etisalat dengan menyamarkan investasi langsung dari Abu Dhabi United Group (ADUG) milik Mansour sebagai pendapatan.
ADUG adalah investor terkemuka dalam regenerasi perkotaan. Selama masa jabatannya sebagai Wali Kota Manchester, Perdana Menteri Inggris saat ini Andy Burnham memuji para pemilik City dan investasi mereka di bagian timur kota.
Burnham melakukan panggilan telepon pertamanya dengan Presiden UAE Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan, saudara Sheikh Mansour, pada akhir Juli saat ia berusaha menarik lebih banyak investasi ke Inggris dari sekutu kaya seperti UEA.
Editor: Muhammad Taufiq


