Jakarta, Arina.id - Sebanyak 213 dai perempuan (daiyah) dikirim ke daerah terdepan, terluar dan tertinggal (3T) selama Ramadan ini. Mereka bakal menyiarkan Islam ke pelosok negeri selama bulan puasa tahun ini.
Program tersebut merupakan bagian dari pengiriman 1.000 dai ke wilayah 3T oleh Kementerian Agama (Kemenag). Peran mereka dibutuhkan oleh umat, terutama di daerah yang selama ini memiliki keterbatasan akses layanan keagamaan.
Seperti disampaikan Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag Ahmad Zayadi, Senin (10/03/2025). Ia menegaskan keterlibatan daiyah merupakan bagian dari strategi penguatan peran perempuan dalam dakwah Islam yang lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Daiyah tidak hanya menyampaikan ajaran Islam, tetapi juga berperan dalam pemberdayaan perempuan, pendidikan keagamaan anak-anak, serta memperkuat ketahanan sosial di masyarakat.
Zayadi berharap program ini bermanfaat untuk masyarakat di wilayah 3T dan semakin banyak daiyah yang terlibat di masa mendatang. Kemenag juga ingin memastikan dakwah di Indonesia semakin inklusif dan menyentuh semua lapisan masyarakat.
"Peran perempuan dalam dakwah harus terus diperkuat agar semakin banyak komunitas yang mendapatkan manfaatnya," kata Zayadi dalam keterangannya di Jakarta.
Sementara itu, Siti Kasumah, salah satu daiyah yang ditugaskan ke Desa Laelangge, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, merasakan langsung tantangan berdakwah di daerah 3T.
Berasal dari Desa Jabi-Jabi Barat, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, Aceh, perempuan berusia 27 tahun ini harus menempuh perjalanan yang tidak mudah untuk sampai ke lokasi tugasnya.
"Medannya cukup sulit. Saya harus melewati jalan berbatu dan sebagian besar masih tanah merah. Kalau hujan turun, jalannya makin licin. Tapi semua itu saya jalani dengan niat dakwah," ujarnya.
Desa Laelangge merupakan wilayah terpencil dengan akses terbatas terhadap pendidikan agama. Banyak anak-anak yang belum lancar membaca Alquran, serta kaum ibu yang masih minim pemahaman tentang fikih ibadah. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Siti.
"Di sini saya bukan hanya mengajar mengaji, tetapi juga memberi bimbingan keagamaan bagi para ibu, termasuk tentang fikih wanita. Mereka antusias sekali, karena selama ini jarang ada pendakwah perempuan yang bisa mereka ajak berdiskusi lebih dalam tentang persoalan keagamaan yang mereka alami," kata Siti.
Menurut Siti, salah satu kendala utama dalam berdakwah di wilayah ini adalah keterbatasan infrastruktur, fasilitas di masjid atau musala, dan akses informasi.
"Jaringan internet lemah, listrik juga kadang padam. Fasilitas di masjid atau musala masih sangat terbatas. Tapi saya bersyukur, masyarakat di sini sangat terbuka dan mendukung program dakwah kami," kata dia.
Editor: Muhammad Taufiq


