Dark
Light
Dark
Light

Renungan Menyambut Bulan Suci: Andai Tahun Ini jadi Ramadhan Terakhir

Renungan Menyambut Bulan Suci: Andai Tahun Ini jadi Ramadhan Terakhir

 

Arina.id – Ramadan tinggal menghitung hari. Bulan mulia yang memiliki banyak keistimewaan ini akan segera tiba. Sebagai umat Muslim, sudah seyogyanya kita mempersiapkan diri agar bisa melalui bulan suci dengan maksimal. Salah satu upaya yang bisa kita lakukan adalah melakukan perenungan spiritual yang mendalam dengan membayangkan andai bulan puasa tahun ini menjadi Ramadan terakhir kita selama hidup di dunia.

Bayangkan jika tahun ini adalah kesempatan terakhir kita untuk merasakan keutamaan Ramadan. Apakah kita akan menyia-nyiakannya? Ataukah kita justru akan berusaha menjalani setiap ibadah dengan sepenuh hati, lebih khusyuk dalam shalat, lebih banyak membaca Al-Qur’an, dan lebih sering berbagi dengan sesama?

Renungan ini bisa mendorong kita untuk lebih serius dalam memanfaatkan setiap detik Ramadan. Kita tidak akan lagi menunda-nunda kebaikan karena sadar bahwa kesempatan ini bisa jadi yang terakhir. Tarawih yang sebelumnya sering kita lewatkan, misalnya, akan dijalankan dengan penuh kekhusyukan. Tadarus yang biasanya hanya sekadarnya, umpamanya, akan kita tingkatkan dengan penuh kecintaan kepada Al-Qur’an. Sedekah yang mungkin jarang kita keluarkan, akan dijadikan kebiasaan harian.

Perenungan demikian bukan tanpa dasar. Rasulullah saw sendiri menjadikan model perenungan seperti ini sebagai tips untuk mencapai kekhusyukan shalat. Beliau pernah bersabda:

إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ، وَلَا تَكَلَّمْ بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ، وَأَجْمِعِ الْيَأْسَ مِمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ.

Artinya, "Jika kamu hendak melaksanakan shalat, maka shalatlah seolah-olah itu adalah shalat terakhirmu. Janganlah mengucapkan sesuatu yang akan membuatmu menyesal di kemudian hari, dan putuskanlah harapan terhadap apa yang dimiliki manusia." (HR. Ibnu Majah)

Hadits ini diperkuat dengan sabda Nabi di bawah ini:

إِذَا ذُكِرَ الْمَوْتُ فِي الصَّلَاةِ فَاذْكُرِ الْمَوْتَ فِي صَلَاتِكَ، فَإِنَّ الرَّجُلَ إِذَا ذَكَرَ الْمَوْتَ فِي صَلَاتِهِ لَحَرِيٌّ أَنْ يُحْسِنَ صَلَاتَهُ، وَصَلِّ صَلَاةَ رَجُلٍ لَا يَظُنُّ أَنَّهُ يُصَلِّي صَلَاةً غَيْرَهَا، وَإِيَّاكَ وَكُلَّ أَمْرٍ يُعْتَذَرُ مِنْهُ.

Artinya, "Jika kematian disebutkan dalam shalat, maka ingatlah kematian dalam shalatmu. Sesungguhnya seseorang yang mengingat kematian dalam shalatnya, niscaya ia akan memperbaiki shalatnya. Shalatlah seperti shalatnya seseorang yang tidak mengira bahwa ia masih memiliki kesempatan untuk shalat lagi. Dan berhati-hatilah kalian dari segala perkara yang akan membuat kalian menyesal di kemudian hari." (HR. Ad-Dailami)

Dua hadits ini menegaskan bahwa cara meraih kesempurnaan dalam melaksanakan shalat dengan berandai-andai dan merenung jikalau shalat yang kita lakukan adalah shalat terakhir, sehingga kita akan melakukannya dengan penuh rasa khusyuk dan penuh kesungguhan. 

Ketika seseorang membayangkan bahwa shalat yang ia lakukan adalah shalat terakhirnya, maka ia akan melaksanakannya dengan penuh kekhusyukan dan kesungguhan. Setiap gerakan dan bacaan dalam shalat akan dilakukan dengan lebih hati-hati dan penuh penghayatan. Ia tidak akan terburu-buru, melainkan akan menikmati setiap detik ibadahnya sebagai bentuk pengabdian terakhir kepada Allah swt. Kesadaran ini akan membuat shalat lebih bermakna dan memberikan ketenangan jiwa.

Begitu pula dalam menjalani Ramadan, jika kita membayangkan bahwa ini adalah Ramadan terakhir, maka kita akan lebih maksimal dalam beribadah. Jika kita membayangkan bahwa ini adalah Ramadan terakhir kita, tentu kita akan lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah. Setiap detik di bulan suci ini akan kita manfaatkan sebaik-baiknya, tidak hanya untuk kepentingan diri sendiri, tetapi juga untuk memperbanyak amal kebaikan yang bermanfaat bagi sesama.

Selain memperbaiki ibadah, perenungan ini juga akan mengajarkan kita untuk lebih bersyukur atas nikmat yang masih kita rasakan. Ramadan bukan hanya sekadar ritual tahunan, tetapi kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt dengan hati yang bersih dan niat yang tulus. Dengan membayangkan Ramadan ini sebagai yang terakhir, kita akan lebih menghargai setiap kesempatan untuk berbuat baik dan memperbaiki diri.

Kehidupan manusia penuh dengan ketidakpastian. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa kita masih memiliki kesempatan untuk bertemu Ramadan di tahun berikutnya. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menjadikan Ramadan ini sebagai momentum perubahan. Jika selama ini kita masih lalai dalam beribadah, ini saatnya kita memperbaikinya. Jika kita masih sering menunda kebaikan, inilah saatnya untuk bertindak.

Selain itu, menjadikan Ramadan sebagai yang terakhir juga bisa membentuk pola pikir yang lebih fokus pada kehidupan akhirat. Kita akan lebih menyadari bahwa dunia ini hanya sementara dan amal ibadah yang kita lakukan di bulan suci ini akan menjadi bekal di akhirat kelak. Dengan begitu, kita akan lebih termotivasi untuk menghindari hal-hal yang sia-sia dan lebih memilih aktivitas yang membawa keberkahan.

Terakhir, penulis tutup artikel ini dengan sebuah bait syair:

وَإِذَا حَمَلْتَ إِلَى الْقُبُورِ جِنَازَةً # فَاعْلَمْ بِأَنَّكَ بَعْدَهَا مَحْمُولُ

Artinya:
"Jika kau menandu jenazah menuju liang lahad,
Sadarilah, suatu saat kau pun akan dipikul ke tempat yang sama
."

Syair ini berpesan bahwa kematian bisa datang kapan saja. Bahkan, diumpamakan, saking dekatnya ajal, jika hari ini kita mengantar jenazah ke pemakaman, boleh jadi besoknya kita yang akan ditandu keranda jenazah menuju peristirahatan terakhir. 

Prinsip ini hendaknya menjadi pegangan kita setiap saat, termasuk saat Ramadan. Boleh jadi, Ramadan tahun ini adalah bulan puasa terakhir kita. Boleh jadi, Ramadan tahun ini adalah kesempatan terakhir kita untuk berbuat baik dan mengumpulkan bekal amal ibadah untuk bekal di akhirat kelak. Wallahu a‘lam.


$data['detail']->authorKontri->kontri

Muhamad Abror
Penulis rubrik Keislaman dan Sejarah Islam Klasik


Editor: Aiz Luthfi
Al-Quran Digital

Islami Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo