Dark
Light
Dark
Light

Mengutuk Hujan Sembari Berharap Tidak Banjir? Omong Kosong!

Mengutuk Hujan Sembari Berharap Tidak Banjir? Omong Kosong!

Jakarta, Arina.id —  Nada pesimis bukanlah suara sumbang. Ia muncul dan mengendap di sanubari warga Jakarta. “Siapa pun gubernurnya, Jakarta tetaplah banjir”. 

Upaya mengendalikan luapan air yang menenggelamkan ratusan rumah seakan menjadi hal lumrah dan termaklumi. Warga dipaksa pasrah, menyerah sembari berharap hujan tak lagi menghujam menyebab banjir.

Banjir besar yang mengalir deras terjadi saban tahun. Kehadirannya dipastikan menyebabkan ribuan warga terdampak dan banyak rumah terendam. Luapan sungai Ciliwung — yang disebut pangkal musibah itu—terjadi beberapa hari lalu bahkan merendam sebanyak 59 RT dan empat ruas jalan utama Jakarta.

Banjir memang bukan sekadar rutinitas tahunan. Banjir juga mengingatkan saya pada lagu lawas Kembalikan Ciliwungku Bersih yang digaungkan Band Sanggar Merah Putih. 

Kakek pernah cerita...
Tentang Ciliwung yang Indah
Jernih air mengalir
Bagaikan mata air

Hampir ku tak percaya
Akan semua cerita
Sungguh beda kenyataanya
Ciliwungku teraniaya

Air mengalir dengan limbah
Ikan berganti dengan sampah
Bila hujan....datang Air Bah

Oh oh oh ....Banjir
Oh oh oh ....Banjir

Tiap kali hujan mengguyur Jakarta dan sekitarnya, Sungai Ciliwung tak kuasa membendung debit air yang ada dibaliknya. Kampung-kampung di pinggiran kota kebanjiran bahkan beberapa ruas jalan terlihat bak sungai karena genangan air meninggi.

Bencana banjir bahkan melumpuhkan Bekasi. Ribuan warga terdampak, fasilitas umum lumpuh, dan aktivitas masyarakat terhenti. Musibah ini mengundang simpati luas, terlihat dari ramainya tagar #PrayForBekasi di media sosial.

Pemerintah coba putar otak menanggulangi banjir tahunan itu, pengeluaran dana yang dilakukan untuk banjir tak pernah tuntas. Alias secara tambal sulam. Warga lagi jadi korban.

Mengapa tak mencoba mengubah mindset? Apakah selama ini kebijakan yang diambil benar-benar menyelesaikan akar masalah?

Banjir dan pencemaran sungai bukan sekadar persoalan lokal. Perubahan iklim memperburuk kondisi sungai yang sudah tercemar dan memperbesar risiko banjir. Curah hujan ekstrem meningkat, sementara daya resap tanah terus berkurang akibat urbanisasi dan deforestasi.

Perubahan Iklim Memperparah Krisis

Penelitian dari jurnal Nature Water mengungkap bahwa intensitas kekeringan dan curah hujan ekstrem meningkat tajam secara global dalam 20 tahun terakhir. Kondisi ini memicu gagal panen, kerusakan infrastruktur, dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Fenomena ini bukan sekadar anomali cuaca, melainkan tren akibat pemanasan global yang semakin menguat dalam beberapa dekade terakhir. Para peneliti menganalisis data dari dua satelit Gravity Recovery and Climate Experiment (GRACE) untuk mengukur perubahan cadangan air bumi, mencakup air tanah, air permukaan, es, dan salju.

Dalam penelitian tersebut, mereka mengidentifikasi 1.056 peristiwa ekstrem dari tahun 2002 hingga 2021 menggunakan algoritme baru yang mendeteksi wilayah dengan tingkat kelembaban tanah yang jauh lebih basah atau lebih kering dari biasanya.

Hasilnya menunjukkan kaitan kuat antara peningkatan suhu rata-rata global dan semakin seringnya peristiwa iklim ekstrem. Artinya, di masa depan kita akan menghadapi lebih banyak kekeringan dan badai hujan yang lebih parah, lebih lama, dan lebih luas dampaknya.

Alam semesta sebenarnya mempunyai kemampuan untuk menjaga keseimbangan eksosistemnya namun tekanan eksploitasi manusia terhadap bumi telah melampaui daya dukung alam semesta.

Di tengah krisis ini, gerakan anak muda semakin lantang menyuarakan perubahan. Climate Strike, yang terinspirasi dari aksi Greta Thunberg pada 2018, menjadi wadah protes global terhadap kelambanan pemerintah dalam menangani krisis iklim.

Aksi ini meminta pemerintah tak lagi abai ancaman krisis semakin nyata. Prediksi Jakarta dan sekitar tenggelam bukan tidak mungkin itu bakal terjadi.

"Krisis iklim bikin nafas kita yang seharusnya lega dan terbuka kini terhalang, saya dan keluarga tinggal di suatu wilayah di Jabodetabek yang langitnya cukup polluted, langit kini bukan lagi biru tapi abu-abu. Something must be done," ujar musisi dan aktivis Oscar Lolang.

Bagaimana komitmen Indonesia atasi krisis iklim di dunia?

Emissions Gap Report UNEP memperingatkan bahwa Indonesia tidak mungkin memenuhi target iklim 2023 tanpa perbaikan kebijakan yang signifikan dan tindakan yang dipercepat. Tantangan di sektor energi dan tata guna lahan tetap ada, dengan pembangkit listrik tenaga batu bara di luar jaringan (captive) dan revisi baseline LULUCF yang berkontribusi pada emisi yang lebih tinggi.

Indeks Kinerja Perubahan Iklim (IKPI) menempatkan Indonesia pada peringkat ke-42 pada tahun 2024 yang memberinya peringkat keseluruhan yang rendah.

Meskipun, ada kebijakan seperti Rencana Investasi dan Kebijakan Komprehensif (CIPP) dan target energi terbarukan, ketergantungan Indonesia yang berkelanjutan pada batu bara dan bahan bakar fosil mencegah keselarasan dengan tujuan Persetujuan Paris (CCPI, 2024).

COP-29: Harapan yang Pupus?

Indonesia memiliki >17.000 pulau yang rawan tenggelam akibat dampak perubahan iklim. Hasil Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-29 (CoP-29) di Baku Azerbaijan pada November 2024, tidak cukup mengalokasikan kepentingan dan kebutuhan yang memadai bagi negara-negara berkembang, pesisir serta pulau-pulau kecil untuk beradaptasi terhadap dampak krisis iklim. 

Direktur Eksekutif Yayasan Pikul Torry Kuswardono COP 29 berakhir dengan kekecewaan mendalam. Kegagalan negara-negara maju dalam menunjukkan komitmen nyata untuk mengatasi krisis iklim mengancam masa depan planet ini dan menempatkan kelompok rentan pada risiko yang lebih besar, mengabaikan prinsip keadilan iklim yang seharusnya menjadi landasan utama.

"Pemerintah Indonesia harus lebih ambisius dalam menangani krisis iklim yang adil, menghentikan skema-skema utang dan bisnis atas nama krisis iklim, serta mengimplementasikan prinsip-prinsip keadilan iklim."

Koordinator Climate Ranger Jakarta, Ginanjar Aryasuta mengatakan dokumen IPCC Synthesis Report 2023 menunjukkan bahwa dalam berbagai skenario, penduduk kelahiran 1980-2020 dihadapkan dengan kenaikan suhu lebih tinggi 0,5-3°C dibandingkan penduduk kelahiran 1950-1980 semasa hidupnya. "Artinya, ancaman krisis iklim semakin memperparah kehidupan orang muda,” jelasnya.

Pada saat intensitas bencana iklim meningkat, ragam penyandang disabilitas menghadapi diskriminasi dan hambatan struktural berlapis.

Hasil studi Perhimpunan Jiwa Sehat pada 2024 menunjukkan bahwa,“Ketika bencana iklim melanda, penyandang disabilitas sering kali menjadi korban berlapis dengan tingkat kematian empat kali lebih tinggi akibat kurangnya akses dan dukungan yang inklusif,” kata Nena Hutahaean dari Perhimpunan Jiwa Sehat (PJS).


Editor: Muhammad Zunus
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo