Arina.id — Arab Saudi kembali meningkatkan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz setelah jalur alternatif yang dibangun untuk menghindari selat strategis tersebut terganggu serangan.
Saudi Aramco, perusahaan minyak yang dikendalikan negara, kini memuat lebih banyak minyak dari terminal-terminal di kawasan Teluk Persia. Sebagian minyak tersebut kemudian dikirim melewati Selat Hormuz menuju perairan Oman sebelum diteruskan kepada pembeli di Asia.
Sejumlah pelanggan Aramco di Asia bahkan ditawari untuk mengambil minyak melalui mekanisme ship-to-ship transfer di sekitar Sohar, Oman. Dalam skema ini, minyak dipindahkan dari satu kapal tanker ke kapal lainnya di laut untuk mengurangi ketergantungan pada pelabuhan dan jalur yang lebih berisiko. Reuters melaporkan penggunaan mekanisme tersebut meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir.
Perubahan strategi itu terjadi setelah serangan drone merusak fasilitas penting pada East-West Pipeline, jaringan pipa sepanjang sekitar 1.200 kilometer yang menghubungkan ladang-ladang minyak Saudi di bagian timur dengan pelabuhan Yanbu di Laut Merah.
Pipa tersebut selama ini menjadi salah satu lokasi strategis Saudi untuk mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz. Kapasitas maksimalnya sekitar 7 juta barel per hari dan jalurnya dirancang sejak era perang Iran-Irak untuk menyediakan alternatif jika lalu lintas kapal melalui Hormuz terganggu.
Namun, serangan terhadap sejumlah stasiun pompa membuat operasi jalur tersebut dihentikan. Dampaknya langsung terasa pada ekspor Saudi.
Reuters melaporkan Aramco bahkan telah memberi tahu sedikitnya dua kilang minyak Eropa bahwa pasokan minyak mentah untuk Oktober mendatang akan dihentikan akibat gangguan tersebut. Aramco juga meningkatkan pengiriman melalui transfer antarkapal di sekitar Oman untuk menutup sebagian kekurangan dari jalur Laut Merah.
Tiga Jalur Saudi
Masalah Saudi bukan sekadar kerusakan sebuah pipa. Kerajaan itu kini menghadapi tekanan pada hampir seluruh jalur utama ekspor minyaknya.
Jalur pertama adalah Selat Hormuz, pintu keluar utama minyak dari kawasan Teluk menuju Samudra Hindia dan pasar Asia.
Data International Energy Agency menunjukkan sekitar 15 juta barel minyak mentah per hari melewati Hormuz pada 2025, setara hampir 34 persen perdagangan minyak mentah global. Sebagian besar minyak tersebut menuju Asia. Saudi Arabia sendiri pada 2025 mengirim sekitar 5,43 juta barel minyak mentah per hari melalui selat tersebut.
Jalur kedua adalah East-West Pipeline menuju Yanbu di Laut Merah. Jalur ini seharusnya memungkinkan Saudi mengirim minyak tanpa melewati Hormuz. Namun, jalur tersebut kini terganggu akibat serangan.
Jalur ketiga adalah Laut Merah menuju selatan melalui Bab el-Mandeb. Rute ini juga menghadapi ancaman serius setelah kelompok Houthi meningkatkan aktivitas militernya dan mengancam pelayaran yang berkaitan dengan Saudi.
Dengan dua alternatif tersebut menghadapi gangguan, minyak Saudi kembali bergerak melalui jalur yang sebelumnya berusaha dihindari Riyadh.
Hormuz kembali Jadi Pilihan
Kembalinya Saudi ke Hormuz bukan berarti jalur tersebut kembali normal. Sebaliknya, risiko keamanan tetap tinggi.
Pada awal September, dua supertanker yang membawa minyak Saudi dilaporkan terkena proyektil ketika keluar dari Selat Hormuz. Kedua kapal tersebut masing-masing memuat sekitar 2 juta barel minyak Saudi. Data pelacakan kapal juga menunjukkan Aramco telah kembali meningkatkan pemuatan minyak dari terminal di dalam kawasan selat sejak Agustus.
Karena risiko tersebut, Saudi dan produsen minyak Teluk lainnya semakin sering menggunakan metode ship-to-ship transfer di sekitar perairan Oman.
Reuters melaporkan sekitar 2,5 juta barel minyak per hari diperkirakan dipindahkan melalui mekanisme tersebut di Teluk Oman sepanjang September, naik dari sekitar 1,4 juta barel per hari pada Agustus.
Namun, solusi ini mahal. Biaya pengangkutan kapal tanker raksasa dari Teluk menuju China dilaporkan melonjak hingga lebih dari US$30 per barel. Dalam kondisi normal, pengiriman minyak Saudi ke Asia jauh lebih murah karena rute Hormuz merupakan jalur langsung.
Perubahan jalur ini terutama berdampak kepada pembeli Asia, yang merupakan pasar utama minyak Saudi.
China, Korea Selatan, Jepang dan India termasuk konsumen utama minyak Saudi. Ketika pengiriman dari Yanbu terganggu, para pembeli Asia menghadapi ketidakpastian pasokan minyak mentah dengan kandungan sulfur tinggi yang selama ini banyak dipasok produsen Teluk.
Kondisi tersebut membuat kilang-kilang Asia harus mencari alternatif pasokan dari negara lain. Namun, mengganti minyak Saudi tidak selalu mudah karena karakteristik minyak mentah berbeda dan sebagian kilang memang dirancang untuk mengolah jenis minyak tertentu.
Inilah yang membuat gangguan terhadap ekspor Saudi tidak hanya menjadi persoalan Riyadh, tetapi juga persoalan pasar energi global.
Saudi Arabia memang masih memiliki kapasitas produksi minyak yang sangat besar. Namun persoalan utamanya sekarang adalah bagaimana minyak tersebut dapat keluar dari negara itu menuju konsumen internasional.
Situasi ini mengubah arti penting Selat Hormuz. Selat sepanjang sekitar 39 kilometer itu bukan sekadar jalur pelayaran. Ia merupakan salah satu titik paling menentukan bagi sistem energi dunia.
Ketika jalur alternatif Saudi melalui Laut Merah terganggu dan jalur Bab el-Mandeb menghadapi ancaman, pilihan Riyadh semakin menyempit.
Saudi kini harus memilih antara menghadapi risiko keamanan di Hormuz atau menanggung biaya jauh lebih besar untuk menggunakan jaringan transfer kapal dan rute alternatif.
Untuk sementara, minyak tetap mengalir. Tetapi dengan harga yang jauh lebih mahal, risiko yang lebih tinggi, dan ketidakpastian yang lebih besar.
Ironinya, jalur yang selama berbulan-bulan berusaha ditinggalkan Saudi kini kembali menjadi salah satu jalur utama untuk mempertahankan ekspor minyaknya.
Editor: Muhammad Zunus


