Arina.id - Iran mengabaikan berbagai ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan sekutunya, Israel, yang ingin mengganti kepemimpinan di negeri para Mullah. Majelis Pakar di Teheran akhirnya menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang syahid dibom pesawat AS-Israel pada 28 Februari 2026 lalu.
Pemilihan Mojtaba digelar pada Minggu malam, 8 Maret 2026, disiarkan langsung televisi Iran dan belakangan dikutip banyak media internasional. Pengangkatan Mojtaba yang juga dikenal sebagai seorang ulama Syiah tingkat menengah ini sudah diprediksi banyak kalangan. Ia selama ini dikenal memiliki hubungan dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRCG).
Terpilihnya Mojtaba jelas tidak sesuai dengan keinginan Donald Trump yang sejak awal bersama Israel berkeinginan mengganti kepemimpinan di Iran agar bisa mereka kendalikan. Seperti halnya di Venezuela, terhadap Iran, AS bersama Israel melakukan operasi serupa, menyerang Iran dengan menargetkan pembunuhan Ali Khamenei.
Namun Trump lupa, Syiah bukan Venezuela. Pemimpin tertinggi Iran selain sebagai pengendali pemerintahan, politik, juga merupakan pemimpin tertinggi keagamaan, terutama bagi komunitas Syiah internasional. Banyak pengamat menilai di sinilah letak kesalahan perhitungan Trump.
Dikutip dari Aljazeera, para pengamat kemudian mempertanyakan keputusan AS dan Israel menyerang Iran, yang berkeinginan mengganti satu tokoh yang dianggap garis keras, namun malah digantikan tokoh garis keras lainnya. "Ini benar-benar sebuah penghinaan bagi Donald Trump yang sebelumnya mengatakan tidak menginginkan Mojtaba Khamenei," kata Barbara Slavin dari Stimson Institute.
"Jadi, hal ini membuat seluruh perang AS-Israel semakin tidak masuk akal, dengan membunuh Ayatollah Khamenei dan hanya menempatkan putranya di tempatnya – seseorang yang tentu saja akan marah atas pembunuhan ayah, ibu, istri, dan salah satu anaknya dalam serangan Israel seminggu yang lalu."
Slavin mencatat bahwa Mojtaba telah memerintah bersama ayahnya selama bertahun-tahun, "dan mengingat ancaman eksistensial yang dihadapi Republik Islam, tampaknya cukup logis untuk menempatkannya di sana karena dia mengenal semua orang dan segalanya."
Di sisi lain, Trump di hari yang sama berselang beberapa jam sebelum pemilihan digelar di Iran, tidak merespons secara spesifik wacana pemilihan Mojtaba Khamenei yang sudah diprediksi sejak lama. Ia hanya berkomentar, bahwa tanpa persetujuan Washington, siapa pun yang dipilih sebagai pemimpin tertinggi Iran "tidak akan bertahan lama".
"Dia (Mojtaba Khamenei) harus mendapatkan persetujuan dari kami," kata Trump kepada ABC News, merujuk pada kemungkinan pemimpin tertinggi yang baru. "Jika dia tidak mendapatkan persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama."
Trump mengaku tidak ingin pemerintahan Iran mendatang harus "kembali ke masa lalu", yang tampaknya merujuk pada ketakutan aksi militer di masa depan. "Saya tidak ingin orang-orang harus kembali dalam lima tahun dan melakukan hal yang sama lagi, atau lebih buruk lagi, membiarkan mereka memiliki senjata nuklir," katanya.
Akan tetapi para pejabat di Iran berulang kali menolak anggapan bahwa Washington menggunakan pengaruhnya dalam proses seleksi tersebut. Seperti disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Aragchi di hari yang sama. Ia menegaskan, "kami tidak akan membiarkan siapa pun ikut campur dalam urusan dalam negeri kami."
"Ini terserah rakyat Iran untuk memilih pemimpin baru mereka," katanya, seraya menambahkan bahwa rakyat Iran telah memilih Majelis Pakar, yang akan memilih pemimpin tertinggi berikutnya.
Siapa Mojtaba Khamenei?
Mojtaba Khamenei, seorang ulama yang sejak lama dianggap sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh namun paling kurang terlihat dalam kancah politik Iran. Ulama berusia 56 tahun itu dipilih oleh Majelis Pakar Iran, sebuah badan beranggotakan 88 orang yang bertanggung jawab berdasarkan Konstitusi untuk menunjuk otoritas politik dan agama tertinggi negara tersebut.
Pemilihannya mengikuti prosedur konstitusional yang telah ditetapkan, bukan melalui transfer kekuasaan secara turun-temurun, meskipun garis keturunan keluarganya dan kedekatannya dengan mendiang Ayatollah Ali Khamenei telah lama menempatkannya di pusat spekulasi tentang suksesi.
Mojtaba menjadi pemimpin tertinggi ketiga Republik Islam sejak revolusi 1979, mewarisi kepemimpinan pada saat konflik regional yang intens dan ketidakpastian domestik.
Mojtaba Khamenei lahir pada 8 September 1969 di Kota Mashhad, Iran timur laut, salah satu pusat keagamaan utama di negara itu. Ia putra kedua mendiang Ayatollah Ali Khamenei, yang memerintah Iran sebagai pemimpin tertinggi dari tahun 1989 hingga pembunuhannya lebih dari seminggu yang lalu dalam serangan udara AS-Israel.
Mojtaba juga merupakan cucu dari ulama Sayyed Javad Khamenei. Tumbuh dewasa dalam lingkungan yang sarat dengan gejolak politik, Mojtaba menyaksikan kebangkitan ayahnya sebagai tokoh kunci dalam Revolusi Islam dan kemudian sebagai presiden Iran sebelum mengambil peran sebagai pemimpin tertinggi.
Ia menikahi Zahra Haddad-Adel, putri dari Gholam-Ali Haddad-Adel, seorang politikus konservatif terkemuka dan mantan ketua parlemen yang saat ini memimpin salah satu lembaga budaya terkemuka di Iran.
Zahra juga termasuk di antara mereka yang tewas dalam serangan AS-Israel yang menargetkan kompleks kediaman keluarga Khamenei di Ibu Kota Teheran. Mojtaba selamat dari serangan itu, tetapi juga kehilangan ibu, saudara perempuan, saudara ipar, dan keponakannya.
Pendidikan dan pelatihan administrasi
Seperti banyak tokoh dalam kalangan ulama Iran, Mojtaba menempuh pendidikan agamanya di Kota Qom, pusat pembelajaran teologi Syiah terkemuka di negara itu dan tempat berdirinya seminari-seminari yang melatih para ulama Iran.
Ia mempelajari ilmu hukum Islam dan teologi di bawah bimbingan beberapa ulama konservatif terkemuka, termasuk Ayatollah Mahmoud Hashemi Shahroudi, Ayatollah Lotfollah Safi Golpaygani, dan Mohammad-Taqi Mesbah-Yazdi, seorang ideolog berpengaruh yang membimbing banyak tokoh politik konservatif di Republik Islam.
Menurut para analis Iran, Mojtaba telah menghabiskan sebagian besar kariernya mengajar di seminari-seminari Qom, termasuk kelas-kelas yurisprudensi tingkat lanjut yang dikenal sebagai dars-e kharej, yang dianggap sebagai tingkat pendidikan seminari tertinggi.
Laporan terbaru menyebutkan bahwa ia telah menangguhkan sementara beberapa kelasnya karena alasan pribadi, meskipun hal ini tidak dapat dikonfirmasi secara independen. Meskipun telah berpuluh tahun berkecimpung dalam dunia administrasi, Mojtaba tidak pernah memegang jabatan pemerintahan formal.
Peran dan pengaruh Mojtaba Khamenei
Media internasional sering menggambarkan Khamenei sebagai sosok yang sulit dipahami dan mungkin memiliki pengaruh di balik layar. Keterbatasan visibilitas publiknya memperkuat citra ini, karena tidak ada pidato publik, wawancara, atau manifesto politik luas yang menjabarkan posisinya.
Nama Mojtaba secara berkala muncul dalam diskusi politik di Iran, biasanya terkait dengan pemilihan presiden atau spekulasi tentang kandidat mana yang mungkin akan didukungnya.
Namun, Mojtaba sendiri jarang terlibat dalam debat politik publik. Penampilannya sebagian besar terbatas pada upacara resmi, peringatan nasional, dan pertemuan keagamaan yang diliput oleh media pemerintah Iran.
Terakhir kali dia terlihat di depan umum adalah saat unjuk rasa pro-pemerintah menyusul protes besar-besaran awal tahun ini. Menurut laporan Iran, Mojtaba juga ikut serta dalam Perang Iran-Irak pada akhir tahun 1980-an ketika ayahnya menjabat sebagai presiden.
Ia dilaporkan bergabung dengan unit sukarelawan saat masih muda, yang menandai pengalaman pertamanya dalam urusan militer. Beberapa media Barat juga mengaitkannya dengan IRGC, salah satu lembaga paling berpengaruh di Iran, meskipun ia tidak memegang peran formal apa pun di sana.
Jabatan yang mengancam nyawa
Mojtaba Khamenei mengambil alih kepemimpinan negara pada salah satu momen paling bergejolak dalam sejarah modern Iran. Transisi ini juga berlangsung di bawah ancaman langsung dari Israel, yang para pemimpinnya telah bersumpah untuk membunuh setiap pemimpin Iran yang dipilih untuk menggantikan Khamenei.
"Pemimpin mana pun yang dipilih oleh rezim teror Iran untuk terus memimpin rencana penghancuran Israel, mengancam Amerika Serikat, dunia bebas, dan negara-negara di kawasan ini, serta menindas rakyat Iran, akan menjadi target pembunuhan, tidak peduli namanya atau di mana dia bersembunyi," kata Menteri Pertahanan Israel Israel Katz di platform media sosial X.
Ancaman-ancaman tersebut menggarisbawahi tekanan luar biasa yang mengelilingi suksesi tersebut, menempatkan Mojtaba di pusat konfrontasi geopolitik yang meluas jauh melampaui perbatasan Iran.
Editor: Muhammad Taufiq


