Arina.id — Lirboyo kembali mengukir sejarah, pertemuan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur pada Kamis (25/12/2025) siang menghasilkan keputusan Islah.
Video yang merekam momen Gus Yahya bersama Rais Aam KH Miftachul Akhyar dan sejumlah kiai usai keputusan islah ramai beredar di media sosial.
Dalam video tersebut, Gus Yahya tampak mencium tangan Rais Aam sembari menitikkan air mata, lalu merangkulnya dengan penuh haru. Ia kemudian melanjutkan dengan mencium tangan KH Ma’ruf Amin, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo KH Abdullah Kafabihi, serta Pengasuh Pondok Pesantren Ploso KH Nurul Huda Djazuli.
Momen tersebut mengundang respons emosional warga Nahdlatul Ulama. Banyak di antara mereka membagikan ulang video itu melalui status WhatsApp dan unggahan Facebook, disertai ungkapan rasa syukur.
"Enggak terasa sampai menitikkan air mata. Senang banget Ya Allah. Alhamdulillah," ungkap Syifa, Nahdliyin asal Bekasi kepada Arina.id.
Warga NU lain asal Karanganyar Jawa Tengah, Wawan mengaku bersyukur persoalan PBNU berakhir dengan keputusan Islah.
"Alhamdulillah, momen ini yang kami tunggu. Semoga Islah jadi langkah terbaik. Lirboyo punya kekuatan luar biasa menyatukan keduanya (Kiai Miftah dan Gus Yahya)," kata Dia.
Hasil keputusan Rapat Syuriyah PBNU dengan Mustasyar di Lirboyo setelah mendengarkan secara seksama penjelasan Rais Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf, serta mempertimbangkan pendapat Pengurus Syuriyah dan saran para Mustasyar PBNU dalam Rapat Konsultasi Syuriyah PBNU dengan Mustasyar PBNU, forum secara mufakat menyepakati dan memutuskan segera menggelar Muktamar ke-35 NU.
"Menetapkan bahwa Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama diselenggarakan dalam waktu secepat-cepatnya oleh Rais Aam PBNU (KH. Miftachul Akhyar) dan Ketua Umum PBNU (KH. Yahya Cholil Staquf), dengan melibatkan Mustasyar PBNU, para sesepuh, serta pengasuh pesantren dalam penentuan waktu, tempat, dan kepanitiaan Muktamar," ungkap Abdul Muid Sohib dikonfimasi Arina.id.
Forum menimbang bahwa sejak terjadinya konflik internal di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang dipicu oleh pemberhentian Ketua Umum PBNU oleh Rais ‘Aam PBNU melalui forum yang disebut sebagai Rapat Syuriyah PBNU, serta adanya penolakan Ketua Umum PBNU terhadap keputusan tersebut, perkembangan yang terjadi justru menunjukkan eskalasi konflik yang semakin tajam dan berkepanjangan.
Sebagai wujud tanggung jawab moral serta keprihatinan yang mendalam terhadap kondisi jam’iyyah Nahdlatul Ulama, dan dengan niat tulus untuk para keutuhan serta kemaslahatan organisasi, para Mustasyar PBNU, sesepuh, dan alim ulama Nahdlatul Ulama telah mengambil berbagai inisiatif musyawarah.
Musyawarah tersebut diselenggarakan di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri, Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, dan puncaknya Musyawarah Kubro di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, pada tanggal 1 Rajab 1447 H bertepatan dengan 21 Desember 2025.5 Musyawarah Kubro tersebut dihadiri oleh Pengurus Wilayah dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama se-Indonesia.
"Selain itu, telah banyak pula inisiatif, masukan, dan saran konstruktif yang disampaikan oleh para ulama dan tokoh Nahdlatul Ulama secara personal, yang pada pokoknya memperkuat rekomendasi dan tawshiyah para sesepuh NU guna penyelesaian konflik di tubuh PBNU," jelasnya.
Rapat konsultasi yang diinisiasi oleh Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama tersebut dihadiri oleh Rais Aam PBNU, KH. Miftachul Akhyar, beserta jajaran Pengurus Syuriyah PBNU, yaitu KH. Abdullah Kafabihi, KH. Mu’adz Thohir, KH. Imam Buchori, KH. Idris Hamid, Muhammad Nuh, Gus Muhib, Gus Yazid, Gus Afifuddin Dimyati, Gus Moqsith Ghozali, Gus Latif, Sarmidi Husna, Gus Tajul Mafakhir, Gus Athoillah Anwar, dan Gus Nadzif.
Hadir pula Pengurus Tanfidziyah PBNU, H. Amin Said Husni. Sementara itu, jajaran Mustasyar PBNU yang hadir antara lain KH. Ma’ruf Amin, KH. Anwar Manshur, KH. Nurul Huda Djazuli, KH. Abdullah Ubab Maimoen, dan KH. Machasin.
Editor: Muhammad Zunus


