Dark
Light
Dark
Light

Keluarga Jadi Kunci Cegah Ekstremisme Masyarakat Perkotaan

Keluarga Jadi Kunci Cegah Ekstremisme Masyarakat Perkotaan

Jakarta, Arina.id, Ketua PBNU Bidang Pengembangan Data Hasanuddin Ali mengatakan sejak tahun 2017 salah satu faktor ektremisme muncul dari dunia pendidikan termasuk kampus negeri dan mayoritas berasal dari kampus yang latar belakang keilmuan eksata seperti IPA dan teknik.

"Apa penyebabnya? Saya belum bisa jawab dengan jelas tapi hipotesis saya karena di eksata diajarkan konsep dasar hukum benar dan salah. Dan itu banyak disalah pahami," ujarnya mengisi diskusi Keluarga Moderat di Kongres Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama, Jumat (31/1/2025).

Namun, kata dia, dalam tiga tahun terakhir tensinya sudah agak menurun meski ancaman masih ada.

Masyarakat urban menjadi perhatian utama mengingat lebih dari 60 persen masyarakat mulai tinggal di perkotaan dan diprediksi akan terus meningkat jumlahnya sampai tahun 2045.

"Ini keniscayaan yang tidak bisa kita hindari dan tolak," ujar Hasan.

Masyarakat perkotaan yang menjadi pengguna sosial media tertinggi mudah terpapar ajaran kebencian, intoleransi karena konten media sosial.

"Dan itu banyak terjadi di masyarakat perkotaan karena media digital menjadi salah satu media paling dominan," jelasnya.

Diketahui, 94 persen masyarakat kota sudah konsumsi media sosial bahkan setiap hari hampir 7-8 jam bermain sosial media. Mereka juga memiliki atensi yang tinggi terhadap nilai-nilai ajaran agama.

"Bayangkan mereka lagi semangat belajar agama kemudian bertemu ustadz yang ekstream," jelasnya.

Hasan mengungkapkan ada tiga kelompok masyarakat yang berpotensi radikal mereka adalah perempuan, masyarakat kota dan anak muda gen Z dan Alpha.

"Dunia pendidikan menjadi penting menanamkan nilai toleransi," ujarnya.

Hasan mengatakan tiga kelompok ini rentan terpapar karena faktor tunggal sosial media semakin rentan intoleransi.

Salah satu hasil kongres keluarga maslahat NU yakni merekomendasikan kepada Kementerian Komunikasi dan Digital untuk bersikap tegas terhadap konten-konten media sosial yang bernuansa kebencian dan ekstremis yang mengancam keagamaan, kebangsaan, dan keindonesiaan.

Pasalnya ekstremisme dalam keluarga Indonesia masih menjadi ancaman yang serius, terutama terhadap masyarakat perkotaan melalui saluran digital. Data Kompas, 94 persen masyarakat kota mengonsumsi informasi-informasi dari media sosial.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo