Arina.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar menyiapkan karpet merah bagi Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) saat berkunjung ke kantornya di Gedung Oval Washington DC, Selasa 18 November 2025.
Trump menyambut MBS dengan upacara lengkap, menampilkan marching band, lalu ada pasukan berkuda pembawa bendera, serta pertunjukan udara militer. Sebuah sambutan ramah dan berbeda dibandingkan saat menerima kunjungan pemimpin-pemimpin negara lain sebelumnya.
Aljazeera menggambarkan keramahtamahan yang ditunjukkan pemimpin Amerika itu sangat megah, mengisyaratkan penerimaan Trump terhadap apa yang ia lihat sebagai Timur Tengah baru. Hal tersebut bukan tanpa sebab, rupanya Arab Saudi membawa fulus kelewat besar yang akan diinvestasikan di AS, mencapai USD 600 miliar.
"Saya ingin berterima kasih karena Anda (MBS) telah setuju untuk berinvestasi USD 600 miliar di Amerika Serikat. Dan karena dia teman saya, dia mungkin bisa mencapai USD 1 triliun, tetapi saya harus mengusahakannya," kata Trump sambil tertawa.
Pangeran Mohammed tiba di Washington melalui Portico Selatan. Setelah pertemuan gayeng dengan Trump, kemudian keduanya meladeni pertanyaan para jurnalis di Ruang Oval. Kedua pemimpin berbicara tentang peluang bisnis, investasi, perdamaian, kecerdasan buatan, dan bisnis teknologi.
Pada satu titik, Trump meraih tangan Pangeran Mohammed serta menggenggamnya erat sambil mengkritik pendahulunya, mantan Presiden AS Joe Biden, sebab hanya memberi MBS tos tangan saat mengunjungi Riyadh Arab Saudi dalam suasana pandemi COVID-19 pada 2021 silam.
"Saya pegang tangan itu. Saya tidak peduli di mana tangan itu berada," kata Trump sambil memuji setinggi langit putra mahkota Kerajaan Arab Saudi tersebut sebagai orang yang fantastis dan brilian.
"Kita memiliki seorang pria yang sangat dihormati di Ruang Oval hari ini, dan seorang teman lama saya – teman baik saya. Saya sangat bangga dengan pekerjaannya. Apa yang telah dia lakukan sungguh luar biasa dalam hal hak asasi manusia dan hal-hal lainnya," kata Trump melanjutkan.
Akan tetapi ada momen ketika Trump nampak kesal dan murka pada jurnalis ABC News akibat pertanyaannya yang kelewat berani dan menantang dalam sesi jumpa pers. Si Jurnalis bertanya tentang pembunuhan mengerikan yang dilakukan agen Arab Saudi terhadap jurnalis Jamal Kasogi beberapa tahun lalu.
Trump lantas menegur si jurnalis: "Banyak orang tidak menyukai pria yang Anda bicarakan itu (merujuk pada sosok jurnalis Jamal Kasogi). Entah Anda menyukainya atau tidak menyukainya, banyak hal terjadi, tetapi dia (sang pangeran) tidak tahu apa-apa tentang itu," kata Trump sambil meminta agar tidak mempermalukan tamunya.
Lantas si jurnalis yang sama itu kemudian mengganti pertanyaan lagi yang tidak kalah menohok kepada Trump, "mengapa Anda (Trump) tidak secara sukarela merilis berkas pemerintah terkait pelaku kejahatan seksual Jeffrey Epstein?" Mendapat pertanyaan sinis ke dua itu, Trump murka lantas meminta lisensi liputan si jurnalis di Gedung Oval agar dicabut.
"Anda memulai dengan seorang pria yang sangat dihormati, menanyakan kepadanya pertanyaan yang mengerikan, tidak patuh, dan sangat buruk," kata Trump, merujuk pada pertanyaan sebelumnya kepada MBS.
"Dan kamu bahkan bisa menanyakan pertanyaan yang sama persis itu dengan baik. Kamu benar-benar gila. Seseorang di ABC News sudah membuatmu gila. Kamu pasti akan gila. Kamu orang yang buruk dan reporter yang buruk."
Dalam waktu yang kurang lebih bersamaan, ketika Trump menyambut MBS di Gedung Oval, Dewan Perwakilan Rakyat AS meloloskan rancangan undang-undang untuk memaksa pemerintah merilis berkas-berkas kasus kejahatan seksual mucikari kelas kakap Jeffrey Epstein, yang dikenal dekat dengan Donald Trump.
Editor: Muhammad Taufiq


