Jakarta, Arina.id ~ Direktur Bina Haji Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Arsad Hidayat mengatakan bahwa pada musim haji tahun 2024, jemaah haji Indonesia akan menempati lokasi baru untuk menggantikan lokasi di Mahbas Jin yakni daerah Rei Bakhsy.
Kebijakan ini menurutnya merupakan hasil evaluasi dari pelaksanaan haji tahun-tahun sebelumnya di mana jemaah yang tinggal di kawasan Mahbas Jin menghadapi berbagai masalah. Di antaranya adalah banyaknya jemaah yang mengeluh terkait transportasi.
“Transportasi Bus Shalawat yang dinaiki jemaah (di Mahbas Jin) sering bersamaan dan berdesakan dengan jemaah haji negara lain,” ungkapnya di Asrama Haji Embarkasi Jakarta Pondok Gede, Selasa (26/3/2024).
Kawasan Mahbas Jin sendiri berdasarkan penelusuran Arina.id memiliki 100 hotel yang ditempati jemaah haii selama di Makkah. Pada 2023, Hotel di kawasan Mahbas Jin diisi oleh jemaah haji asal Jawa Barat dengan 2 sektor yang dibangun Kementerian Agama untuk melayani jemaah haji.
Jarak kawasan ini cukup dekat dengan Masjidil Haram hanya sekitar 2 km dan bisa ditempuh berjalan kaki sekitar 20 menit. Jemaah juga bisa menggunakan bus sampai ke Terminal Bab Ali. Namun Jalur Mahbas Jin ditetapkan pemerintah Arab Saudi sebagai jalur internasional di mana bus gratis digunakan oleh jemaah lintas negara.
Hal ini tentu menjadi masalah bagi jemaah haji Indonesia khususnya jemaah haji lansia dan berkebutuhan khusus sehingga pemerintah merelokasi jemaah haji dari kawasan ini ke Rei Bakhsy pada tahun 2024 ini.
Tantangan petugas di Daker Makkah
Pemindahan jemaah dari Mahbas Jin ini tidak bisa dihindari karena kawasan Mahbas Jin merupakan daerah dan rute internasional. Kebijakan memindahkan jemaah ke Rei Bakhsy merupakan solusi dari keluhan jemaah sekaligus menjadi tantangan bagi para petugas khususnya di Daker Makkah.
Tantangan yang akan dihadapi oleh para petugsa di Daker Makkah lainnya menurutnya adalah saat seluruh jemaah berkumpul di Makkah dalam satu waktu. Pada saat itu, transportasi shalawat sudah dihentikan operasionalnya dan petugas haji memiliki tugas untuk mengingatkan jemaah agar tidak memaksakan diri ke Masjidil Haram untuk menyiapkan energi di puncak haji.
Tantangan selanjutnya adalah terkait catering yang pada waktu tertentu nantinya jemaah akan mendapatkan layanan makanan siap saji (ready meal). “Penyajiannya berbeda dengan makanan biasa yang dikirim dari dapur. Ready meal sudah disiapkan di hotel masing-masing,” ungkapnya.
Ready meal ini akan diberikan pada fase-fase padat jemaah di Kota Makkah untuk menghindari keterlambatan pengiriman makanan. Dengan metode seperti ini, maka jemaah akan terus disediakan makanan untuk menghindari jemaah tidak makan guna mempersiapkan energi prima di puncak haji. (Muhammad Faizin)
Editor: Muhammad Faizin


