Jakarta, Arina.id—Pendiri Alvara Research Center Hasanuddin Ali mengungkap bahwa mayoritas anak muda (79%) menginginkan kombinasi kurikulum pesantren dengan porsi agama lebih besar dibandingkan pelajaran umum.
Hal ini menegaskan bahwa pesantren masih dipandang sebagai lembaga pendidikan yang utama dalam memperdalam ilmu agama, namun tetap diharapkan memberikan ruang bagi pengetahuan umum sebagai penunjang.
Menururtnya, hanya sebagian kecil responden yang menginginkan hanya belajar agama saja (11,1%) atau kombinasi dengan porsi umum lebih besar daripada agama (9,9%), menandakan bahwa keseimbangan kurikulum tetap menjadi kebutuhan dominan.
Bila dianalisis lebih dalam mengenai ilmu ”umum” yang diharapkan diajarkan di pesantren maka hasil survei memperlihatkan bahwa mayoritas responden mengharapkan ilmu komputer (60,5%) menjadi ilmu umum utama yang diajarkan di pesantren, diikuti dengan ilmu ekonomi dan manajemen (56,7%) serta ilmu pengetahuan alam (53,0%).
"Hal ini menunjukkan bahwa anak muda menilai pentingnya keterampilan digital dan literasi ekonomi sebagai bekal untuk menghadapi tantangan zaman modern," kata Hasan.
Sementara itu, ilmu kesehatan (48,9%) dan matematika (46,3%) juga dianggap relevan, meskipun berada pada tingkat harapan yang lebih rendah dibanding bidang teknologi dan ekonomi.
Jika ditinjau dari lokasi, responden urban lebih tinggi dalam mengharapkan pengajaran ilmu umum dibanding rural. Misalnya, 65,5% responden urban berharap adanya ilmu komputer, sedangkan rural hanya 53,5%. Pola yang sama terlihat pada bidang ilmu pengetahuan alam (59,2% vs 44,1%) dan sosial-politik (47,1% vs 31,6%).
"Perbedaan ini bisa mencerminkan kebutuhan dan exposure anak muda kota yang lebih besar terhadap perkembangan teknologi, ekonomi global, dan isu sosial dibandingkan dengan mereka yang tinggal di pedesaan," tuturnya.
Transformasi pesantren
Hasan menilai dari sisi generasi, Gen Z dan Millennial menunjukkan preferensi yang sedikit berbeda. Gen Z lebih menekankan pada ilmu komputer (63,0%) dan ilmu pengetahuan alam (54,3%), sementara Millennial cenderung lebih merata, menempatkan perhatian besar pada ekonomi & manajemen (58,6%) dan matematika (48,1%).
Hal ini menunjukkan bahwa Gen Z lebih menyoroti kebutuhan digital dan sains, sedangkan Millennial lebih fokus pada keterampilan ekonomi serta penguatan dasar-dasar keilmuan.
"Secara keseluruhan, tren ini menegaskan bahwa integrasi ilmu umum ke dalam kurikulum pesantren dipandang penting oleh anak muda agar lulusan pesantren mampu bersaing di era modern tanpa kehilangan akar keagamaannya," tuturnya.
Temuan riset Alvara tersebut memberikan gambaran bahwa pesantren perlu melakukan penyesuaian strategis agar tetap relevan dengan kebutuhan generasi sekaligus.
Awareness tinggi terhadap pesantren besar seperti Gontor dan Tebuireng menunjukkan pentingnya reputasi dan branding, namun pesantren lain perlu meningkatkan eksposur agar dikenal lebih luas.
Selain itu, kata Hasan, harapan besar terhadap fasilitas kesehatan, kebersihan, dan teknologi digital menandakan bahwa kualitas lingkungan belajar kini menjadi faktor penentu dalam menarik minat santri baru.
"Pesantren yang mampu memenuhi kebutuhan dasar sekaligus menyediakan sarana modern akan lebih mudah diterima oleh generasi muda, baik di perkotaan maupun pedesaan," kata Hasan.
Dari sisi kurikulum, mayoritas anak muda menghendaki kombinasi ilmu agama dan umum, dengan porsi agama lebih dominan namun tetap terintegrasi dengan ilmu modern seperti komputer, ekonomi, jelasnya.
Perbedaan preferensi antara Gen Z dan Millennial juga menjadi catatan penting: Gen Z cenderung menekankan kebutuhan digital dan fleksibilitas kurikulum, sementara Millennial lebih menekankan keseimbangan dengan keterampilan ekonomi dan manajemen.
"Hal ini mengimplikasikan bahwa pesantren tidak bisa lagi hanya berfokus pada ilmu agama semata, tetapi perlu memperkuat relevansi pendidikan umum agar lulusannya siap menghadapi tantangan global," jelasnya.
Dengan demikian, pesantren dapat bertransformasi menjadi lembaga pendidikan Islam yang tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga mempersiapkan generasi yang adaptif dan berdaya saing.
Editor: Muhammad Taufiq


