Arina.id - Perdebatan panas terjadi antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Anggota Kongres dari Partai Demokrat Ilhan Omar kemarin, Selasa 24 Februari 2026. Trump mengkritik para anggota dewan AS terkait kebijakan imigrasi dan menuduh mereka gagal mendukung penegakan hukum di perbatasan.
Dalam pidato kenegaraannya di hadapan sidang gabungan Kongres, Trump mendesak para anggota parlemen untuk berdiri jika mereka setuju dengan gagasan yang ia sebut sebagai "prinsip dasar" pemerintahan Amerika Serikat di periode kepemimpinannya.
"Salah satu hal hebat tentang pidato kenegaraan adalah bagaimana pidato itu memberi warga Amerika kesempatan untuk melihat dengan jelas apa yang sebenarnya diyakini oleh para wakil rakyat mereka," kata Donald Trump di depan anggota kongres.
"Jadi malam ini, saya mengajak setiap anggota legislatif untuk bergabung dengan pemerintahan saya dalam menegaskan kembali 'prinsip dasar'. Jika Anda setuju dengan pernyataan ini, maka berdirilah dan tunjukkan dukungan Anda. Tugas pertama pemerintah Amerika adalah melindungi warga negara Amerika, bukan imigran ilegal," katanya.
Anggota parlemen dari Republik berdiri, namun sebaliknya dengan para anggota parlemen dari Partai Demokrat yang memilih tetap duduk. Trump kemudian merespons dengan tatapan tajam dari podium. "Kamu seharusnya malu pada dirimu sendiri karena tidak berdiri. Kamu seharusnya malu pada dirimu sendiri," katanya.
Presiden melanjutkan dengan menyerukan kepada Kongres untuk mengakhiri kebijakan-kebijakan "kota suaka" untuk menyebut pemerintah kota di Amerika yang menghalangi depostasi imigran tanpa dokumen atau ilegal yang terlibat kejahatan serius.
Namun saat Trump berbicara, Ilhan Omar yang seorang Demokrat dari perwakilan wilayah Minnesota itu tiba-tiba memotong dengan teriakan di dalam ruang sidang DPR. "Kalian membunuh orang Amerika (asli alias pribumi)! Kalian telah membunuh orang Amerika (asli alias pribumi)!"
Kemudian Trump balas berteriak: "Kalian seharusnya malu!"
Siapa Ilhan Omar?
Lahir 4 Oktober 1982, Ia merupakan seorang politikus Amerika yang menjabat sebagai perwakilan AS untuk distrik pada kongres ke-5 Minnesota sejak 2019. Ia adalah anggota Partai Demokrat.
Sebelum terpilih menjadi anggota Kongres, Omar menjabat di Dewan Perwakilan Minnesota sejak 2017 hingga 2019, mewakili sebagian Minneapolis. Distrik kongresnya meliputi seluruh Minneapolis dan beberapa pinggiran kota terdekatnya .
Omar menjabat sebagai wakil ketua Kaukus Progresif Kongres dan telah mengadvokasi upah minimum USD15, perawatan kesehatan universal, pengampunan hutang pinjaman mahasiswa, perlindungan Deferred Action for Childhood Arrivals ( DACA ), dan penghapusan US Immigration and Customs Enforcement (ICE).
Sebagai kritikus Israel, Omar mendukung gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) dan telah mengecam kebijakan pemukiman Israel dan kampanye militer di wilayah Palestina yang diduduki, serta pengaruh lobi pro-Israel dalam politik Amerika.
Pada Februari 2023, DPR yang dikendalikan oleh Partai Republik memilih untuk mencopot Omar dari kursinya di Komite Urusan Luar Negeri, dengan alasan komentar-komentar masa lalunya tentang Israel dan kekhawatiran atas objektivitasnya.
Omar adalah warga Somalia-Amerika pertama di Kongres Amerika Serikat dan wanita kulit berwarna pertama yang mewakili Minnesota. Dia juga salah satu dari dua wanita Muslim pertama (bersama Rashida Tlaib ) yang bertugas di Kongres.
Sosok muslimah ini, juga dikenal sebagai seorang yang pemberani ketika melawan seteru politiknya, Donald Trump, terutama setelah komentar-komentar menohok Trump terhadap dirinya. Termasuk ketika Omar menerima beberapa teror dan ancaman pembunuhan.
Editor: Muhammad Taufiq


