Pilkada Jawa Timur 2024 mengukir sejarah baru dalam panggung politik Indonesia, karena tiga kandidat calon gubernur yang bersaing semuanya adalah perempuan. Ketiga calon tersebut Khofifah Indar Parawansa yang didukung 15 Partai koalisi KIM, Tri Rismaharini (PDIP) dan Luluk Nur Hamidah (PKB). Ini menandai momen penting keterwakilan perempuan di dalam politik Indonesia, terutama di tingkat provinsi.
Titi Anggraini, pengamat pemilu, menyebut kehadiran perempuan dalam kontestasi ini bukan hanya mencerminkan pengakuan partai politik atas kapasitas dan kemampuan perempuan, tetapi juga membawa pesan kuat tentang kesetaraan gender dalam politik.
“Pilkada Jawa Timur menjadi preseden penting, menunjukkan bahwa ketika perempuan diberi kesempatan, mereka mampu memanfaatkan peluang itu dan memberikan kepemimpinan yang diharapkan bagi daerah,”kata Titi dalam tayangan Trio Cagub Perempuan: Dari Pilkada Jatim Menuju Pilpres 2029 diakses Senin (9/9/2024).
Kehadiran tiga kandidat perempuan ini bukan hanya penting bagi Jawa Timur, tetapi juga membawa dampak besar bagi perkembangan demokrasi di Indonesia.
Menurut Titi, keberadaan perempuan dalam politik, terutama dalam kontestasi Pilkada, menyampaikan pesan bahwa politik di Indonesia semakin inklusif dan memperkuat harapan keterwakilan perempuan di kancah yang lebih tinggi, termasuk di Pilpres mendatang.
Ia menekankan bahwa kesetaraan peran antara laki-laki dan perempuan dalam politik merupakan suatu keniscayaan.
Menuju Pilpres dengan Kandidat Perempuan
Lebih jauh, Titi juga menyebut bahwa keterbukaan peluang bagi perempuan dalam Pilkada Jawa Timur bisa menjadi sinyal kuat untuk Pilpres 2029. Dengan adanya tiga calon perempuan di Pilgub Jawa Timur, ia berharap Indonesia akan melihat pola serupa di Pilpres.
Namun, menurutnya, syarat ambang batas pencalonan presiden yang ada saat ini—yaitu 20 persen kursi atau 25 persen suara—masih menjadi penghambat bagi inklusivitas politik, khususnya bagi perempuan.
Beberapa usulan untuk menurunkan ambang batas pencalonan presiden atau memberikan peluang bagi setiap partai yang memiliki kursi di parlemen untuk mengusung calon sendiri dinilai perlu diseriusi.
“Ini akan membuka kesempatan yang lebih luas bagi perempuan politik untuk bisa berlaga di Pilpres,” jelasnya.
Jawa Timur sebagai Titik Balik
Titi Anggraini juga menambahkan, jika Pilkada Jawa Timur berhasil dijalankan dengan fokus pada politik gagasan, program, visi, dan misi yang sehat—tanpa adanya politik transaksional atau penyebaran hoaks—maka hal ini akan menginspirasi lebih banyak daerah lain untuk mengadopsi pendekatan serupa.
“Kita harapkan tiga kandidat perempuan di Pilkada Jawa Timur ini menjadi simbol bahwa politik perempuan identik dengan politik gagasan, program, dan hal-hal yang mengedepankan substansi serta partisipasi tanpa politik uang,” ujar Titi.
Menurut Titi, keberhasilan ini akan membawa dampak besar bagi masa depan politik Indonesia, khususnya dalam Pilpres 2029. Ia optimistis bahwa Indonesia akan memiliki lebih banyak calon presiden dan wakil presiden perempuan di masa depan, menciptakan politik yang lebih ramah dan inklusif terhadap perempuan.
Editor: Kendi Setiawan


