Arina.id - Perang di Eropa Timur antara Rusia vs Ukraina memasuki babak baru. Kedua negara sedang memperkuat posisinya, mencari dukungan dari sekutu masing-masing. Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov berkunjung ke Korea Utara (Korut). Sementara Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mendekati Amerika Serikat (AS).
Di Korea Utara, dalam video yang dirilis Kementerian Luar Negeri Rusia, Lavrov disambut langsung oleh Kim Jong Un di Kota Wonsan, Sabtu 12 Juli 2025. Keduanya berjabat tangan lalu berpelukan. Media pemerintah kedua negara telah mengumumkan kunjungan tersebut dan menyatakan Lavrov akan tinggal sampai Minggu di sana.
Seperti dikutip dari kantor berita TASS, dalam jumpa pers setelah pertemuan dengan mitranya dari Korut, Choe Son Hui, Lavrov mengatakan Kim telah menegaskan kembali komitmen dukungannya terhadap semua tujuan operasi militer khusus Rusia di Ukraina.
“Pada gilirannya, kami sekali lagi menyampaikan rasa terima kasih yang tulus atas kontribusi prajurit Tentara Rakyat Korea terhadap keberhasilan pembebasan wilayah Kursk dari Nazi Ukraina dan tentara bayaran asing,” kata Lavrov.
"Kami bertukar pandangan mengenai situasi seputar krisis Ukraina. Teman-teman Korea kami menegaskan dukungan kuat mereka terhadap semua tujuan operasi militer khusus, serta bantuan terhadap angkatan bersenjata Rusia," katanya.
Selama ini Pyongyang memang telah menjadi salah satu sekutu utama Moskow selama perang lebih dari tiga tahun di Ukraina. Mereka mengirimkan ribuan tentara dan senjata untuk membantu Kremlin mengusir pasukan Ukraina dari wilayah Kursk di Rusia.
Dikutip dari Al-Jazeera, intelijen Inggris pernah melaporkan lebih dari 6.000 tentara Korut tewas dalam perang Rusia-Ukraina. Korea Utara bahkan sepakat mengirimkan 6.000 insinyur dan militer spesialisasi pembangunan untuk membantu upaya rekonstruksi di wilayah tersebut.
Badan intelijen Korea Selatan (Korsel) juga melaporkan kemungkinan besar Korut sedang bersiap mengerahkan pasukan tambahan pada Juli atau Agustus. Korsel dan Amerika pernah menyatakan kekhawatiran, Kim mungkin akan meminta imbalan transfer teknologi nuklir Rusia yang dapat meningkatkan ancaman buat negaranya.
Pada April 2025, Moskow dan Pyongyang secara resmi mengonfirmasi pengerahan pasukan Korea Utara ke Rusia untuk pertama kalinya, dengan mengatakan bahwa pasukan ini telah membantu Rusia merebut kembali wilayah Kursk – namun klaim tersebut dibantah oleh Ukraina.
Dalam video yang dirilis Pemerintah Korut, Kim pernah terlihat tengah memberikan penghormatan di depan peti mati tentara Korea Utara yang diselimuti bendera negara mereka. Para prajurit Kim yang tewas tersebut merupakan tentara yang tewas dalam perang antara Rusia dan Ukraina.
Sementara itu, sehari sebelum kunjungan Lavrov ke Korea Utara, Volodymyr Zelenskyy mengatakan pengiriman senjata AS ke negaranya telah dilanjutkan. Ini setelah sebelumnya Pentagon memutuskan menghentikan sementara pengiriman senjata ke Kiev karena kekhawatiran persediaan senjata Amerika menipis.
Editor: Muhammad Taufiq


