Jakarta, Arina.id— Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa belum berhenti memberikan gebrakan usai terpilih dua pekan lalu. Berbagai manuver dilakukan untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 8% yang diinginkan Prabowo Subianto.
Purbaya merombak postur Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2026 mulai dari pendapatan negara, belanja negara, belanja pusat, transfer daerah.
Dampak paling terasa defisit anggaran naik dari era Sri Mulyani yang 2,48 Persen menjadi 2,68 PDB. Purbaya mengklaim perubahan ini masih dalam batas aman, yakni 2-3 persen. Ia berpandangan, defisit APBN 2026 ini juga diperlukan untuk pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat.
"Itu bahaya apa enggak, enggak apa-apa itu masih di bawah 3 Persen dan diperlukan untuk menciptakan ekonomi yang lebih cepat," kata Purbaya.
Pada Selasa, 23 September 2025, Badan Anggaran DPR dalam Rapat Paripurna DPR ke-5 mengesahkan Undang-Undang tentang APBN Tahun Anggaran 2026.
Adapun dalam APBN 2026 ini, disepakati pendapatan Rp 3.153,58 triliun dan belanja Rp 3.842,73 triliun. Sementara itu, defisit ditetapkan 2,68% atau Rp 689,15 triliun pada 2026 dan keseimbangan primer dipatok Rp 89,71 triliun.
Purbaya menyampaikan strategi pembangunan ekonomi Indonesia berbasis pada konsep Sumitronomics yang difokuskan pada tiga pilar utama yaitu pertumbuhan ekonomi tinggi, pemerataan manfaat pembangunan, serta stabilitas nasional yang dinamis.
"Fiskal, sektor keuangan, dan perbaikan iklim investasi harus sinergis menggerakkan perekonomian Indonesia agar dapat tumbuh melampaui enam persen dalam waktu tidak terlalu lama," ujar dia dalam Rapat Paripurna DPR RI.
Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda berpandangan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen masih sangat ambisius. Pasalnya ia melihat perekonomian belum tampak membaik di tahun depan.
"Tahun ini saja daya beli masih sangat terbatas walaupun klaim pemerintah sudah membaik dengan klaim pertumbuhan ekonomi kuartal 2 2025 mencapai 5,12 persen. Tapi indikator lainnya mengatakan hal yang sebaliknya," katanya.
Fokus 8 agenda prioritas
APBN 2026 juga difokuskan pada delapan agenda prioritas, yaitu ketahanan pangan, ketahanan energi, program Makan Bergizi Gratis (MBG), pendidikan bermutu, kesehatan berkualitas, pembangunan desa-koperasi-UMKM, pertahanan semesta, serta akselerasi investasi dan perdagangan global.
Untuk mendukung agenda tersebut, dialokasikan anggaran besar di antaranya Rp164,7 triliun untuk ketahanan pangan, Rp402,4 triliun untuk energi, Rp335 triliun untuk MBG, Rp769,1 triliun untuk pendidikan, Rp244 triliun untuk kesehatan, serta Rp508,2 triliun untuk perlindungan sosial.
Pemerintah juga menargetkan pertumbuhan ekonomi 2026 sebesar 5,4 persen, inflasi akan dikendalikan di level 2,5 persen, suku bunga SBN dijaga di sekitar 6,9 persen, dan nilai tukar berada di sekitar Rp16.500 per USD.
"APBN 2026 akan memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan perekonomian, demi terwujudnya Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur," kata Purbaya.
Editor: Muhammad Taufiq


