Arina.id - "Dari MAGA ke MEGA: Make Europe Great Again (Jadikan Eropa Hebat Lagi)". Elon Musk nampak happy menulis cuitan itu di akun media sosial X (miliknya sendiri), ketika Benua Biru Eropa sedang dilanda kecemasan politik dahsyat.
MAGA singkatan dari Make Amerika Great Again, slogan kampanye Donald Trump dalam kampanye pemilihan presiden Amerika Serikat. Semua tahu, Elon Musk merupakan salah satu taipan tajir Amerika pendukung Trump dalam pemilihan presiden beberapa waktu lalu. Musk menghabiskan miliaran dolar untuk kemenangan Trump.
Saat pelantikan Trump, Musk yang juga dikenal sebagai bos Tesla dan SpaceX tersebut bahkan berdiri hanya berjarak beberapa depa saja dari sang presiden. Kini, saat Trump telah resmi berkantor di White House--menjadi penguasa Amerika--Musk pun ditunjuk sebagai penasihatnya.
Elon Musk sepertinya betul-betul menikmati posisinya saat ini. Meskipun pada 2021 pernah mengatakan, "Saya lebih suka menjauh dari politik," namun sekarang lewat Platform X ia acap kali melempar pernyataan-pernyataan kontroversial, terutama pandangannya tentang situasi politik di Eropa. Keberhasilannya mendudukan Trump di White House seolah hendak diduplikasi di Eropa.
CNN menjuluki Musk sebagai Mogul--raksasa yang memiliki kekuatan dan pengaruh besar dalam industri dan binis--yang siap menjungkirbalikkan tatanan politik di Eropa. Orang-orang yang tidak sependapat dengannya benar-benar tersengat kepanasan hingga muncul gerakan-gerakan penolakan, pemboikotan platform X; misalnya di Jerman, Prancis sampai Inggris.
Di Jerman, lebih dari 60 universitas dan lembaga pendidikan tinggi di Jerman telah mengumumkan pengunduran diri mereka dari X. Alasannya platform media sosial itu dinilai telah gagal dalam mendukung nilai-nilai seperti keberagaman, kebebasan, dan pencapaian akademik. Mereka menuding Elon Musk bersama X telah mengampanyekan dan mendukung gerakan politik sayap kanan.
Kemudian di Inggris, lebih dari 1.900 ilmuwan telah menandatangani surat terbuka yang meminta agar miliarder AS Elon Musk dikeluarkan dari komunitas sains terkemuka Inggris, Royal Society, karena tindakan dan komentarnya dianggap kontroversial. Surat yang ditujukan kepada Presiden Royal Society Adrian Smith itu ditulis oleh Prof. Stephen Curry.
Dalam surat itu, dia mengungkapkan kekecewaannya kepada Royal Society yang terus diam dan seperti tidak melakukan apa-apa terkait keanggotaan kehormatan (fellowship) yang diberikan kepada Musk pada 2018. "Royal Society telah diberi tahu tentang kekhawatiran para anggota lebih dari enam bulan lalu soal bagaimana perilaku Musk bertentangan dengan Kode Etik," tulis Curry.
Dia menyebut Musk telah mempromosikan "teori konspirasi tak berdasar" dan "tuduhan jahat" terhadap Anthony Fauci, yang telah disampaikan Prof. Dorothy Bishop dalam pernyataan pengunduran dirinya sebagai anggota Royal Society.
Curry berpendapat bahwa posisi Musk dalam pemerintahan Presiden AS Donald Trump membuat situasi bertambah buruk dan pemerintah baru itu berupaya "melemahkan riset ilmiah di AS." Tidak adanya reaksi terhadap tindakan Musk mencerminkan kurangnya "keberanian moral," tulis Curry dalam surat itu.
Dia mendesak Royal Society untuk membuktikan bahwa mereka punya keberanian dan kemampuan untuk membela komunitas ilmiah dan nilai-nilai yang selama ini mereka anut. Pertemuan Royal Society akan digelar pada 3 Maret, menurut harian Inggris Guardian. Para peserta akan membahas prinsip-prinsip terkait pernyataan publik dan perilaku anggota.
Pada Agustus 2024, beberapa akademisi mengungkapkan keprihatinan mereka terhadap pernyataan Musk soal kerusuhan di Inggris. Mereka meminta agar orang terkaya di dunia itu dicabut keanggotaannya. Tiga bulan kemudian, ilmuwan terkemuka dari Universitas Oxford Dorothy Bishop mundur dari Royal Society sebagai penolakan terhadap keanggotaan Musk.
Pada Januari, Musk menyerukan masyarakat Inggris untuk memilih partai Reform UK dan menyebut partai sayap kanan itu "satu-satunya harapan" bagi mereka. Dia juga menyebut Perdana Menteri Inggris Keir Starmer "jahat" dan memintanya mundur karena pemerintah Inggris disebutnya telah menutupi kasus-kasus pemerkosaan oleh geng kriminal.
Editor: Muhammad Taufiq


