Jakarta, Arina.id — Perhatian publik pernah tertuju pada konser Green Day dalam tur album Revolution Radio di Hyde Park, London. Mata publik tersihir bukan karena penampilan band tersebut melainkan suara ribuan penonton yang memenuhi tempat konser. Mereka kompak menyanyikan satu lagu yang tidak masuk dalam daftar, yaitu Bohemian Rhapsody (1975) milik Queen.
Kisah bermula ketika sebelum Billie Joe dan kawan-kawan naik ke atas panggung, lagu Bohemian Rhapsody diputar untuk mengisi waktu tunggu. Ternyata, penonton yang mendengar spontan menyanyikan lirik demi lirik. Mereka bernyanyi dan melompat dengan antusias meski tanpa band yang tampil. Koor massal pun tercipta. Konser dimulai sebelum band tampil. Pemandangan itu menjadi saksi begitu ‘melegendanya’ band bernama Queen.
Bicara soal Queen, kita tentu mengingat Freddie Mercury, vokalis utama sekaligus penulis lagu dalam band tersebut. Ia dianggap sebagai salah satu penyanyi terbaik dalam sejarah yang khas dengan gaya flamboyan dan jangkauan vokal empat oktafnya. Melalui Freddie dan teman-temannya, kita mengenal beragam lagu-lagu terbaik. Ingatan pada musik kerap merujuk pada mereka. Selain lagu, Freddie juga meninggalkan ingatan lain pada dunia, yaitu perlawanan terhadap HIV/AIDS.
Freddie tutup usia ketika berumur empat puluh lima tahun. Ia meninggal karena bronchial pneumonia yang disebabkan oleh AIDS. Namun, hasil diagnosis tersebut sempat dirahasiakan dari publik lantaran stigma negatif tentang HIV masih beredar liar. Publik akhirnya mengetahui sehari sebelum Freddy meninggal melalui pengumuman dari penyanyi tersebut.
Mengutip dari Tempo.co (26/11/2023) dalam tulisan bertajuk Dua Kata Terakhir Freddie Mercury Sebelum Pergi Selamanya, dituliskan bahwa saat 24 jam sebelum meninggal, Freddie mengeluarkan pernyataan kepada pers dan para penggemar: "Mengikuti dugaan besar di media, saya ingin mengkonfirmasi telah diuji positif HIV dan menderita AIDS. Saya merasa benar untuk merahasiakan informasi ini untuk melindungi privasi orang-orang di sekitar saya. Namun, waktunya telah tiba bagi teman-teman dan penggemar saya di seluruh dunia untuk mengetahui kebenaran. Saya berharap semua orang akan bergabung dengan saya, dokter, dan semua orang di seluruh dunia dalam perang melawan penyakit mengerikan ini." Kematian Freddie membuat banyak orang berpikiran soal HIV/AIDS yang pada saat itu informasinya masih amat tabu dan tersembunyi.
Sepanjang tahun 1980-an dan 1990-an, Diana Spencer atau Putri Diana juga pernah menarik perhatian publik untuk berpikiran soal HIV/AIDS. Melalui berbagai kunjungan dan foto yang tersebar di dunia, ia berupaya menghapus mitos-mitos tentang bagaimana HIV/AIDS dapat ditularkan. Foto-foto itu memperlihatkan kedekatan Diana dengan para ODHA (Orang dengan HIV/AIDS). Ia menunjukkan pada dunia bahwa ODHA tidak selayaknya didiskriminasi. Jabat tangan dan pelukan, adalah cara memanusiakan mereka, dan itu tidak membuat HIV/AIDS menular. Stigma terhadap ODHA pun perlahan memudar.
Apa itu HIV/AIDS?
HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Kondisi ketika tubuh tidak lagi mampu melawan infeksi yang ditimbulkan oleh HIV disebut AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). HIV adalah penyakit mematikan yang menyerang dan menghancurkan sel CD4, yaitu sel darah putih yang merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh.
Beberapa gejala AIDS diantaranya demam yang berkepanjangan, tubuh selalu merasa lemas dan tidak berdaya, kesulitan untuk bernafas, mengalami gangguan diare kronis, mudah terserang infeksi dan berat badan mengalami penurunan drastis.
Bagaimana Cara Penularan Virus HIV?
Mitos yang banyak beredar terkait cara penularan HIV kerap kali membuat orang dengan HIV/AIDS atau ODHA diperlakukan secara tidak manusiawi dan diasingkan dari pergaulan. Padahal, penyakit HIV tidak menular melalui keringat, ciuman, gigitan nyamuk, atau sentuhan
Melansir dari halodoc.com, dr Rizal Fadli menuliskan bahwa penularan Virus HIV bisa terjadi melalui beberapa cara, di antaranya:
1. Hubungan Intim Tanpa Menggunakan Pengaman
Virus HIV bisa masuk ke dalam tubuh melalui cairan vagina, air mani, atau cairan praejakulasi, lewat luka terbuka yang terdapat pada organ intim. Ketika melakukan hubungan seksual tanpa memakai kondom, perpindahan virus rentan terjadi.
2. Menggunakan Jarum Suntik bergantian
Jarum suntik yang mengandung sisa darah dari pengguna sebelumnya bisa masuk dan menginfeksi tubuh seseorang yang sehat. Kasus ini sering terjadi pada seseorang yang positif mengidap AIDS. Namun tak hanya AIDS, pemakaian jarum suntik bergantian juga bisa meningkatkan risiko penularan masalah kesehatan serius lainnya, termasuk hepatitis B dan C.
3. Melalui Ibu kepada Bayinya
Ibu hamil yang mengidap HIV/AIDS memiliki risiko yang sangat tinggi untuk menularkan virus tersebut kepada janin dari plasenta. Bahkan, penularan juga bisa terjadi saat proses persalinan. Inilah sebabnya, ibu hamil wajib melakukan pemeriksaan darah.
4. Melalui Seks Oral
Seks oral atau aktivitas seksual dengan memberikan rangsangan pada organ intim menggunakan lidah, bibir, atau mulut dapat memicu penularan HIV/AIDS. Aktivitas seksual ini dapat menularkan virus tersebut jika disertai sariawan atau memiliki luka pada bibir atau mulut. Resiko penularan juga lebih tinggi ketika pria mengeluarkan cairan ejakulasi atau sperma dalam mulut.
Perlakuan Diskriminatif Terhadap ODHA
Perlakukan diskriminatif terhadap ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) sering kali terjadi dalam bentuk stigma sosial, penolakan, pengucilan, hingga perampasan hak di tempat kerja, pendidikan, dan pelayanan kesehatan. Diskriminasi tersebut muncul lantaran masih buramnya pemahaman terkait HIV/AIDS, termasuk mengenai cara penularan.
Akibat dari tindakan tersebut, ODHA kerap kali merasa terisolasi, kehilangan kesempatan, dan mengalami dampak buruk pada kesehatan mental maupun fisiknya. Edukasi dalam lingkup masyarakat dan memperkuat kebijakan anti-diskriminasi barangkali bisa menjadi salah satu cara untuk mengurai benang kusut yang dialami oleh penderita HIV/AIDS. Karena bagaimanapun, memanusiakan manusia adalah sebuah keharusan tanpa pengecualian.
Editor: Kendi Setiawan


