Jakarta, Arina.id — Redaktur Ahli Arina.id, H Ulil Abshar Abdalla menekankan agar para penulis Arina.id dan media jaringannya memperhatikan pentingnya kepedulian terhadap aspek kepenulisan, terutama terkait bahasa. Menurutnya, bahasa adalah fondasi awal dalam setiap karya tulisan dan perlu mendapat perhatian serius dari para penulis.
Hal ini disampaikan Gus Ulil saat mengisi kegiatan Upgrading Kepenulisan Populer dan Konsolidasi Pengelola Media Keislaman Moderat di Hotel Luminor, Jakarta pada Jumat (11/10/2024). Acaara ini diikuti penulis berbagai media keislaman dan media perguruan tinggi Islam.
"Saya sangat concern terhadap aspek kepenulisan ini, terutama pertama, pada aspek kepedulian terhadap bahasa. Bagi saya ini aspek yang sangat prinsipil untuk kita semua sebagai penulis. Kepedulian terhadap bahasa bagi saya sangat penting," ungkap Ketua PBNU tersebut.
Media, menurutnya perjuangan media sebelum menggarap level isi dan prespektif, diawali dengan perjuangan bahasa. "Bagi saya kesadaran atau pemahaman seperti ini perlu ditanamkan kepada kita semua termasuk kepada saya sendiri," kata Gus Ulil.
Ia menyoroti kemerosotan penggunaan bahasa di kalangan penulis dan pembaca akhir-akhir ini. Hal ini menurutnya, disebabkan semakin jarangnya penerbitan cetak maupun media online yang menunjukkan kepedulian besar pada aspek bahasa.
"Kalau kita melihat dalam sejarah pers sebelum munculnya dunia online, hampir semua media peduli bahasa terutama media besar seperti Kompas, Tempo. Kita harus mengakui media ini berjuang habis-habisan merumuskan gaya bahasa jurnalisme yang khas dan dianggap cocok,” jelasnya.
Gus Ulil berharap seluruh penulis yang terlibat media keislaman, termasuk media Arina.di dan jaringannya, dapat menanamkan ghirrah atau semangat kebahasaan. Menurutnya, menciptakan gaya bahasa yang khas adalah bentuk nyata dari kepedulian terhadap bahasa.
"Bentuk real kepedulian bahasa yakni kita peduli dengan pencarian gaya. Ini tidak mudah dicapai dalam waktu singkat tetapi saya ingin ada usaha bareng untuk usaha merumuskan suatau gaya menulis yang khas," kata dia.
Gus Ulil juga menyoroti pentingnya membangun signifikasi melalui portal-portal media Islam. Ia mencontohkan portal berita yang dibuat oleh Pesantren Mansajul Ulum di Pati, Jawa Tengah.
"Di pesantren ghirrah menulis itu ada, itu yang saya rasakan. Tradisi literasi di pondok cukup kuat. Arina.id harus membangun kolaborasi dengan media lain membangun signifikasi melalui oenerbita atau portal,” ungkaonya.
“Apalagi sekarang muncul bibit baru penulis yang menggabungkan tradisi lama melalui mesin ketik dengan ruang digital,” imbuhnya.
Selain itu, scouting atau pencarian bakat penulis muda juga menjadi perhatian penting Gus Ulil. Ia menyarankan agar media keislaman mencari penulis muda yang mahir menulis dalam bahasa Inggris untuk meningkatkan kualitas dan peringkat media tersebut di kancah internasional.
“Insyaallah, jika kita serius melakukannya, peringkat media kita akan naik drastis," kata Gus Ulil.
Editor: Kendi Setiawan


