Dark
Light
Dark
Light

Penulis Biografi Gus Dur, Greg Barton Disebut Tak Diberi ID Card Muktamar NU, Ulil Abshar: Atas Perintah Rais Aam

Penulis Biografi Gus Dur, Greg Barton Disebut Tak Diberi ID Card Muktamar NU, Ulil Abshar: Atas Perintah Rais Aam

Jakarta, Arina.id—Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, diwarnai kabar yang mengejutkan. Akademisi asal Australia, Prof Greg Barton, disebut tidak mendapatkan ID Card untuk menghadiri muktamar sebagai pengamat.

Informasi tersebut disampaikan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ulil Abshar Abdalla. Melalui pernyataannya, Ulil menyebut keputusan tersebut berkaitan dengan instruksi Rais Aam PBNU.

“Ada perkembangan yang tak menggembirakan di Muktamar NU kali ini, Greg Barton, pengamat asal Australia, penulis biografi dan kawan dekat Gus Dur, tidak diberikan ID Card sebagai pengamat atas perintah Rais Aam,” kata Ulil.

Pernyataan tersebut menjadi perhatian karena Greg Barton bukan sosok asing dalam sejarah intelektual NU. Akademisi Australia itu dikenal luas melalui kajiannya mengenai Islam Indonesia dan NU, serta sebagai penulis buku babon, Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid, biografi yang membahas perjalanan hidup dan pemikiran Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Greg Barton juga selama bertahun-tahun memiliki hubungan akademik dengan lingkungan NU. Dalam sejumlah forum NU, ia pernah hadir sebagai akademisi dan pengamat yang memberikan pandangan mengenai perkembangan organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.

NU Online, misalnya, mencatat kehadiran Barton dalam Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU 2025. Saat itu Barton yang merupakan akademisi Deakin University Australia memberikan pandangannya mengenai hasil forum tersebut dan perkembangan NU.

Nama Barton juga secara khusus disebut dalam sejumlah kajian mengenai NU sebagai salah satu peneliti yang banyak memberikan perhatian terhadap perjalanan organisasi, bersama sejumlah akademisi internasional lainnya.

Karena itu, kabar mengenai tidak diberikannya ID Card kepada Barton dalam Muktamar ke-35 NU menjadi perhatian tersendiri. Terlebih, Ulil secara eksplisit menyebut keputusan tersebut sebagai “perkembangan yang tak menggembirakan”.

Belum ada penjelasan lebih lanjut dari pihak Rais Aam maupun panitia Muktamar ke-35 NU mengenai alasan Barton tidak mendapatkan ID Card sebagai pengamat.

Barton sendiri sebelumnya menyatakan telah memperoleh informasi bahwa izin kehadirannya di Muktamar NU dicabut. Kabar tersebut juga muncul dalam laporan media pada Jumat (28/8/2026), yang menyebut pencabutan izin kehadiran Barton dikaitkan dengan Rais Aam PBNU.

Ditemui Arina.id, Guru Besar Universitas Monash Australia, Greg Barton mengatakan usai pembukaan Muktamar ia diarahkan untuk menuju tempat registrasi.

"Sesudah selesai pembukaan Muktamar oleh Pak Prabowo, kami langsung dibawa ke tempat pendaftaran. Kan agak jauh juga, ya, jalan kaki malam," ujar Greg ditemui di MA Asyafiiyah Seblak, Jombang pada Jumat (28/8/2026).

Namun, setibanya di lokasi, Greg diminta menunggu hingga tempat registrasi kembali dibuka pada pukul 07.00 WIB. Saat registrasi dibuka, ia mendapat informasi bahwa terdapat kendala pada sistem teknologi informasi (IT) sehingga proses registrasi mengalami hambatan.

Greg kemudian diminta kembali datang pada Jumat pagi. Namun, ketika mendatangi lokasi registrasi, ia mendapati tempat tersebut telah ditutup dan dipindahkan ke lokasi baru.

"Jadi, kami pergi ke tempat yang baru dan diminta menunggu sebentar," katanya.

Dalam proses tersebut, Greg mengaku mendapat penjelasan bahwa terdapat perintah dari Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar yang mencabut izin dirinya untuk hadir dalam kegiatan Muktamar.

Ia mengaku tidak memahami alasan pencabutan izin tersebut. Menurut Greg, apabila pembatasan hanya diberlakukan untuk agenda atau pembicaraan tertentu yang bersifat sensitif dan hanya boleh diikuti peserta internal, hal itu dapat dipahami.

"Kalau ada penjelasan bahwa untuk beberapa acara orang luar tidak boleh masuk karena memang ada hal yang sensitif, itu sangat masuk akal. Tetapi kalau sampai ada pencabutan izin, itu aneh," tuturnya.

Greg menyebut pihak yang berada di lokasi registrasi juga tampak terkejut dengan keputusan tersebut. Ia mengatakan, mereka bahkan meminta maaf karena persoalan tersebut dinilai berada di luar dugaan dan kendali panitia.

Menurut Greg, kehadirannya dalam Muktamar sebenarnya telah direncanakan sejak jauh hari. Ia mengaku telah didaftarkan secara resmi melalui Suwadi yang disebutnya merupakan anggota panitia sekaligus anggota PBNU, serta telah memperoleh QR Code.

"Secara resmi sudah berminggu-minggu ada perencanaan. Saya sudah didaftarkan secara resmi dan sudah mendapatkan QR Code. Jadi, aneh juga," ujarnya.

Greg menilai situasi tersebut berbeda dengan praktik yang selama ini ia temui dalam penyelenggaraan Muktamar NU. Ia mengaku telah mengikuti dinamika NU selama hampir empat dekade dan belum pernah mengalami kejadian serupa.

"Dalam pengalaman saya selama hampir empat dekade, tidak pernah terjadi seperti ini di Muktamar," katanya.

Meski demikian, Greg menegaskan bahwa dirinya memahami apabila terdapat pembatasan kehadiran dalam pembicaraan tertentu yang dianggap sensitif.

"Memang masuk akal kalau ada penjelasan untuk beberapa pembicaraan bahwa orang luar tidak boleh masuk. Itu memang sangat masuk akal. Tapi untuk pencabutan izin menjadi hadirin, itu aneh sekali," pungkasnya.

Persoalan ini berpotensi menjadi salah satu dinamika yang menyertai Muktamar ke-35 NU. Sebab, selain menjadi forum tertinggi organisasi untuk menentukan arah kepemimpinan dan kebijakan NU, muktamar kali ini juga berlangsung di tengah berbagai perdebatan mengenai masa depan organisasi dan relasi antarelite NU.

Hingga berita ini ditulis, belum terdapat penjelasan resmi mengenai alasan substantif mengapa Greg Barton tidak diberikan ID Card sebagai pengamat.


Editor: Suci
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo