Arina.id - Gencatan senjata mengakhiri perang 12 hari antara Israel yang didukung Amerika vs Iran. Namun pasca-perang ini, para petinggi di masing-masing negara terlibat perang kata-kata.
Terbaru, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam banyak kesempatan wawancara dengan media dan unggahannya di Truth Social acap kali menyinggung dampak perang ini terhadap Iran. Ia mengklaim kalau serangan Amerika ke tiga situs nuklir Iran telah menghancurkan negeri para Mullah itu.
Dalam wawancara dengan Fox News msialnya, Trump mengatakan bahwa serangan AS telah menghancurkan kemampuan nuklir Iran. "Itu 12 hari yang sangat intens — sangat, sangat intens," katanya.
Pernyataan Trump tersebut kemudian dibantah oleh pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Ia mengatakan Trump telah membesar-besarkan keberhasilan serangan militer AS ke fasilitas nuklir Iran dalam perang kemarin.
"Presiden Amerika melebih-lebihkan peristiwa ini dengan cara yang tidak biasa, dan ternyata dia memang perlu membesar-besarkan hal itu," kata Khamenei di Platform X pada Minggu (29/6).
"Siapa pun yang mendengar kata-kata itu akan mengerti bahwa di balik pernyataan tersebut ada kebenaran lain. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa dan membesar-besarkan (peristiwa itu) untuk menutupi kenyataan," katanya seperti dikutip dari Anadolu.
Sebelumnya, Konflik di Timur Tengah meletus pada Jumat, 13 Juni 2025 setelah Israel melancarkan serangan udara terhadap sejumlah fasilitas militer, nuklir, dan sipil di Iran.
Serangan itu menewaskan sedikitnya 606 orang dan melukai 5.332 lainnya, menurut Kementerian Kesehatan Iran. AS kemudian ikut menyerang fasilitas nuklir Iran: Fordow, Natanz, dan Isfahan yang memicu eskalasi konflik.
Iran membalas serangan Israel dengan meluncurkan serangan rudal dan drone, yang menewaskan sedikitnya 29 orang dan melukai lebih dari 3.400 lainnya, menurut Israel.
Konflik tersebut akhirnya dihentikan lewat kesepakatan gencatan senjata yang disponsori AS dan mulai berlaku pada Selasa, 24 Juni 2025.
Editor: Muhammad Taufiq


