Arina.id ~ Banyak jalan menuju Makkah. Jika ada niat dan kesungguhan yang kuat, tidak ada sesuatu yang mustahil. Ketekunan, kesabaran dan istiqoaah juga menjadi kuncinya. Seperti yang dilakukan oleh Yahya (48 tahun) penjual sandal keliling asal Kelurahan Karangketug, Kecamatan Gading Rejo Pasuruan Jawa Timur.
Selama 12 tahun menabung dengan tekun, akhirnya Yahya dan istrinya, Nur Azmil Muttaqor, bisa berangkat ke Tanah Suci pada musim haji tahun 2024 ini. Selama penantian cukup panjang itu, keseharian Yahya adalah berjualan sandal keliling wilayah Pasuruan dengan mengendarai becak motor (bentor). Bahkan ia pernah mengalami jualan sandal dengan berjalan kaki 11 kilometer jauhnya.
Pasangan suami-istri ini memulai mempersiapkan untuk pergi haji sejak 2012 silam. Mereka membeli dua kursi haji Rp6 juta dengan dana talangan haji. Dibantu sang istri yang turut menata dagangan, Yahya berjualan sandal keliling dimulai pagi hingga siang selama 5 jam tiap harinya. Sandal yang dijual pun laris manis, karena harganya juga terjangkau antar Rp12 ribu hingga Rp50 ribu.
Hasil berjualan sandal, sebagian dialokasikan untuk tabungan haji, sebagian untuk kebutuhan sehari-hari. Dalam sehari, Yahya bisa menyisihkan Rp200 ribu. Selain rajin menabung haji, ada amalan lain, yakni sedekah di masjid secara rutin.
"Nggak banyak sih. Cuma lima ribu sehari di mesjid. Tapi rutin, sebagai ikhtiar kesungguhan kami untuk berhaji," ungkap Yahya
Pasutri ini berangkat bersama KBIH Al Abror Pasuruan 22 Mei 2024. Berkat ketekunan berjualan sandal, Yahya dan istri mampu berhaji, bersama jemaah haji Kota Pasuruan yang tergabung dalam Kloter 46.
Penjual ayam petis keliling berhaji
Sementara itu di Banjarnegara, Jawa Tengah, ada kisah inspiratif dari seorang emak-emak penjual ayam petis keliling. Adalah Khusnul Khotimah (64 tahun) atau yang akrab disapa ‘Yu Timah Ayam Petis’ oleh para pelanggannya. Warga Dusun Bojongsari, Desa Kalipelus Kecamatan Purwanegara ini memang sudah berhaji cukup lama, yakni pada 2012. Hanya saja, kisah perjuangannya banyak menginspirasi warga lain untuk terpanggil menunaikan rukun Islam yang kelima
Ditemui Arina.id di sela-sela berjualan, Yu Timah membeberkan kiat-kiatnya sehingga mampu menunaikan ibadah haji. Menurut Yu Timah, kiatnya adalah wajib menyisihkan rezeki dari pendapatan untuk ditabung dalam tabungan khusus haji.
"Tiap hari saya menyisikan untuk menabung. Kadang 20 ribu, 50 ribu, 100 ribu tapi sering cuma 10 ribu, sedapatnya dari hasil jualan ayam petis," kenang Yu Timah.
Sejak 2001, Yu Timah menyimpan penghasilannya itu di bank lokal. Setelah sebulan dengan saldo mencapai Rp300 ribu, ia pindahkan ke tabungan khusus haji di sebuah bank BUMN.
Dari hasil tabungan sejak 2001, pada 2009 Yu Timah bisa mendaftar untuk mendapatkan kursi haji sebesar Rp20 juta. Tak menunggu lama, pada 2012 Yu Timah bisa berangkat haji. Pelunasan haji dilakukannya pada 2011 sebesar Rp34 juta.
Modal dengkul
Bisa pergi haji, Yu Timah tak mampu menyembunyikan kegembiaraan dan rasa syukurnya. Karena dirinya yang bukanlah pegawai, bukan pula petani yang punya sawah akhirnya bisa melaksanakan ibadah ke tanah Suci Mekah.
"Saya ini hanya modal dengkul untuk ider (jualan keliling-red) ayam petis. Jadi bersyukur banget bisa pergi haji," ungkapnya.
Tiap harinya, Yu Timah mengelola 50 ekor ayam kampung. Dari rumahnya ia numpang angkudes atau mikrobus ke kota Banjarnegara. Dari sini dia berkeliling di sejumlah perumahan dan perkampungan warga.
"Tiap hari saya jalan kaki keliling ke Perumahan Korpri, Kapling, juga kampung Krandegan, Kutaringin, dan mengantar pesanan ke pelanggan lainnya. Tiap hari bisa laku 20 hingga 25 bungkus. Alhamdulillah pada prepegan lebaran kemarin bisa 450 ekor selama 2 hari, yaitu pada tanggal 8 dan 9 April," cerita Yu Timah.
Setiap bungkus ayam petis kampung isi 8 dijualnya Rp50 ribu, sedang yang isi 10 harganya Rp60 ribu. Pelanggan utamanya keluarga pegawai, guru dan emak-emak di perumahan dan perkampungan.
Menangis di pesawat
Ada kisah yang selalu dikenang Yu Timah. Yakni ketika mau naik pesawat. Betapa tidak, melihat langsung pesawat pun belum pernah, kini dia harus naik burung besi itu untuk waktu yang tak sebentar.
"Di pesawat itu saya menangis. Ingat biasanya cuma naik angkudes di Banjarnegara, lha ini di langit yang tinggi. Saya pasrah dan terus berdoa,” kenangnya.
Ketegangan Yu Timah terbayar setelah sampai di tanah suci. Di sekitar Baitullah, kiblat umat islam sedunia yang jauh dari kampung halamannya itu, nafasnya terasa enteng, langkahnya sungguh ringan dalam melaksanakan ibadah.
"Saya sangat bersemangat, tak punya rasa takut, tak punya hutang, bahkan di sini seperti tak punya keluarga dan siapa-sapa tapi sangat bahagia,” beber perempuan yang rajin salat hajat sebagai ikhtiar khusus untuk dilancarkan berangkat haji ini.
Ada niat, ada jalan
KH Rachmat, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Iman Rancah Banyumas, mengingatkan, apa saja dari rezeki, atau penghasilan sebenarnya bisa disisihkan untuk berangkat haji. Tak memandang latar belakangnya apa. Kadang banyak yang sudah jadi pengusaha kaya tapi belum terpanggil untuk berhaji. Sebaliknya hanya pedagang kecil, namun sudah tersentuh untuk memenuhi panggilan-Nya ke Baitullah.
"Banyak jalan menuju Baitullah. Kuncinya kembali ke niat dan kesungguhan. Jika petani, diniatkan hasilnya disisihkan untuk berhaji. Jika pedagang, niatkan semoga dapat rezeki berkah untuk ke Baitullah. Insyaallah diijabah," komentar Kiai Rachmat.
Kai Rachmat mengingatkan, jika sampai seseorang yang sudah punya niat dan ikhtiar haji tersebut meninggal dan belum kesampaian berhaji, insyaallah rezeki yang ditabung, termasuk dari pohon dan tetumbuhan yang ditanam tadi akan jadi saksi di hadapan Allah Swt.
Rasulullah Saw bersabda: "Barangsiapa tidak menghalanginya hajat yang nyata atau sakit yang bisa mencegah atau karena pemimpin yang zalim lalu ia tidak berhaji, maka silakan ia mati dalam keadan Yahudai atau Nasrani." (HR Baihaqi).
"Ini akan lain ceritanya jika kita tidak pernah melakukan niat atau memulai proses untuk bisa menunaikan ibadah haji. Jadi niat, kesungguhan dan ikhtiar nyata itu sejatinya cara menggugurkan kewajiban kita, tanpa mengabaikan syariat Allah," pungkas Kiai Rachmat.
Editor: Kendi Setiawan


