Dark
Light
Dark
Light

2 Hal Sakral yang Harus Dimiliki ASN menurut Gus Ulil

2 Hal Sakral yang Harus Dimiliki ASN menurut Gus Ulil

Arina.id ~ Saat menjadi pembicara pada Pembinaan Mental yang digelar Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Ditjen Pendidikan Islam (Pendis), Kementerian Agama (Kemenag), di Serpong, Tangerang Selatan, Selasa (2/4/2024) malam, Ketua PBNU KH Ulil Abshar Abdalla mengungkapkan 2 hal sakral yang harus dimiliki oleh para Aparatur Sipil Negara (ASN). Dua hal tersebut adalah bekerja secara profesional dan bersikap moderat. 

Menurut Gus Ulil, sapaan karibnya, istilah profesional mengalami kemerosotan makna di era modern. Profesional dimaknai sebagai pekerjaan biasa dengan tidak melibatkan komitmen. Padahal kata profesional menurutnya memiliki asal-usul yang sangat sakral. 

Profesional jelasnya berasal dari bahasa Inggris, yakni profession (profesi) yang memiliki arti pengakuan atau komitmen diri. Asal usul kata ini terkait dengan konteks keagamaan sehingga memiliki makna yang sangat sakral. Namun saat ini istilah profesi dan profesionalitas hanya dipahami sebatas pekerjaan. 

“Tetapi kalau kita telusuri asal-usulnya, profesi itu sebetulnya adalah pekerjaan, tetapi pekerjaan yang meminta pada sesuatu dengan syarat. Makanya, istilah profesi ini bukan istilah yang yang main-main atau sederhana, karena dia terkait dengan komitmen yang sakral," katanya pada acara bertema Menjadi ASN Profesional dan Moderat di Tengah Keberagaman.

Profesi atau pekerjaan dalam Islam lanjutnya, bukanlah hal yang sepele. Para ulama menjadikan sebuah profesi hal yang penting seperti Imam Al-Ghazali dalam kitab fiqihnya nomor 17 membuat pembahasan khusus terkait pekerjaan.

"Kenapa Imam Ghazali menaruh bekerja ini di nomor 17, karena umumnya orang pada usia 17 itu sudah mulai berpikir tentang bagaimana menghasilkan sesuatu secara mandiri. Meskipun sekarang orang itu baru bekerja setelah selesai S2, S3, itu umumnya usia di atas 30-an, 40-an. Tapi dulu orang itu mulai bekerja pada usia 17," jelasnya.

Gus Ulil pun menyebutkan banyak hadits yang menunjukkan tentang pentingnya bekerja. Bahkan setiap agama mengajarkan pentingnya manusia bekerja. 

"Kalau profesi itu dihayati sebagai komitmen yang sakral maka orang tidak bisa main-main dengan pekerjaan. Inilah makna dari asal mula dari dasar profesi, mengakui, bersyahadat, bahwa saya melakukan hal ini karena panggilan hidup saya. Bukan sesuatu yang terpaksa kita lakukan," jelasnya.

Hal sakral kedua jelasnya adalah bersikap moderat. Gus Ulil menyebut bahwa Islam sejatinya memiliki gen moderasi beragama. Moderasi ini pun sudah diterapkan oleh umat Islam sejak abad ke-8 Masehi. Pada era Dinasti Umayyah pada abad ke-8 Masehi sampai kepada dinasti yang terakhir yaitu Utsmaniyah yang runtuh pada tahun 1924, kerajaan-kerajaan Islam di dunia selalu ditandai dengan keragaman. 

“Jadi, kerajaan-kerajaan Islam dari dulu itu kerajaan-kerajaan yang selalu multi-kultural multi-etnik, multi-budaya, multi-agama," jelas Gus Ulil.

Di Nusantara, moderasi beragama ini juga sudah dipraktikkan ulama-ulama besar di Tanah Air. Seperti KH Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan, pendiri ormas terbesar di Indonesia yakni NU dan Muhammadiyah. 

"Mereka itu terbiasa dengan keberagaman. Ketika Mbah Hashim Asy'ari dan kiai-kiai lainnya belajar di Makkah akhir abad ke-19, di sana itu terdapat rakyat, manusia dari berbagai kota, multi nasional," jelasnya pada acara yang dibuka Sekjen Kemenag RI Prof M Ali Ramdhani ini.

Oleh karena itu, Gus Ulil berpendapat bahwa tidak ada alasan untuk tidak menjalankan moderasi beragama di Indonesia. Sebab, sejarah panjang umat Islam di dunia juga sangat menghargai dan menghormati keberagaman.

Turut menyampaikan arahan Staf Khusus Menteri Agama (Stafsus Menag) Bidang Media dan Komunikasi Publik Wibowo Prasetyo. Hadir juga  Direktur Diktis Prof Ahmad Zainul Hamdi, Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah Thobib Al Asyhar, dan Plt Dirjen Pendis Abu Rokhmad, Sekretaris Ditjen Pendis Rohmat Mulyana Sapdi.


Editor: Muhammad Faizin
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo