Dark
Light
Dark
Light

Petani Tembakau di Pati Hadapi Dilema Musim Tanam di Tengah Kemarau

Petani Tembakau di Pati Hadapi Dilema Musim Tanam di Tengah Kemarau

Pati, Arina.id – Petani tembakau di Desa Ronggo, Kecamatan Jaken, Kabupaten Pati, Jawa Tengah menghadapi tantangan besar dalam menentukan waktu tanam pada musim kemarau. Selain bergantung pada kondisi cuaca, mereka juga harus berhadapan dengan keterbatasan sumber air yang menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi lambat.

Petani tembakau di Desa Ronggo, Sudargo, mengatakan penentuan awal musim tanam menjadi persoalan utama yang dihadapi petani. Menurutnya, tembakau memang membutuhkan kecukupan sinar matahari, tetapi jika ditanam terlalu dini saat hujan masih kerap turun, tanaman berisiko mengalami kerusakan. 

Namun, jika penanaman diundur hingga kemarau benar-benar tiba, tanaman justru kesulitan memperoleh air pada fase awal pertumbuhan.

"Sebenarnya cuaca panas memang dibutuhkan tanaman tembakau. Persoalannya adalah penentuan waktu tanam. Ketika kami menanam lebih awal, hujan masih turun sehingga tanaman gagal. Sebaliknya, ketika waktu tanam diundur, musim panas sudah lebih dulu datang sehingga tanaman kekurangan air. Inilah yang menjadi kendala utama petani," ujarnya diwawancarai Arina.id, Minggu (26/7/2026).

Sudargo menuturkan, saat ini sebagian besar tanaman tembakau di wilayahnya baru berumur sekitar satu bulan. Namun pertumbuhannya belum optimal karena Desa Ronggo merupakan kawasan pertanian tadah hujan yang sangat bergantung pada ketersediaan air alami.

"Saat memasuki musim tanam, kami dikejar waktu untuk segera menanam tembakau, tetapi tanaman yang saat ini rata-rata berumur sekitar satu bulan pertumbuhannya sangat lambat. Daerah kami merupakan lahan tadah hujan sehingga kekurangan air. Sudah lama tidak turun hujan, sementara suhu udara sangat panas," katanya.

Menurutnya, tanaman yang berada di lahan dengan sumber air dari sumur dangkal masih dapat tumbuh relatif baik karena kebutuhan penyiraman dapat dipenuhi. Namun, sebagian besar lahan pertanian di Desa Ronggo belum memiliki embung, bendungan, maupun jaringan irigasi sehingga petani hanya mengandalkan sumur dangkal sedalam dua hingga tiga meter sebagai sumber air.

"Untuk perkembangan tembakau saat ini, lahan yang memiliki sumber air dari sumur dangkal masih menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik karena kebutuhan penyiraman dapat dipenuhi. Namun di daerah kami tidak ada embung, bendungan, maupun jaringan irigasi. Wilayah kami memang merupakan kawasan pertanian lahan kering," ujarnya.


Editor: Kendi Setiawan
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo