Dark
Light
Dark
Light

Pengabdian Matriyanto, Guru Ngaji Sekaligus Tempat Curhat Mahasiswa yang Terancam DO Kuliah

Pengabdian Matriyanto, Guru Ngaji Sekaligus Tempat Curhat Mahasiswa yang Terancam DO Kuliah

Magelang – Matriyanto meyakini betul takdir hidupnya berada di antara jemaah. Melayani, mendampingi, dan memenuhi apapun yang dibutuhkan oleh orang-orang di sekitarnya.
 
"Saya sungguh meresapi dawuh Mbah Mad—Watucongol. 'Tugas kamu itu nek iso memberikan apa saja yang menjadi kebutuhan masyarakat'," kata Matriyanto di rumahnya yang sederhana di Desa Ketunggeng, Dukun, Magelang. 

Mbah Mad atau KH Ahmad Abdul Haq adalah putra Kiai Dalhar, ulama kharismatik kelahiran Watucongol. Mbah Mad semasa hidupnya mengasuh Pesantren Darussalam Watucongol yang didirikan kakek buyutnya, Kiai Abdurrauf bin Hasan Tuqo. 

Sejak muda Matriyanto rutin mengaji kepada Mbah Mad. Kedekatannya mereka lebih menyerupai anak dan ayah, ketimbang guru dengan murid. Seluruh keputusan penting dalam hidup Matriyanto selalu atas restu sang guru. 

Kehangatan hubungan Matriyanto dan Mbah Mad yang menjadi teladannya dalam memilih metode mendidik para murid di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ma’arif Ketunggeng. Bagi murid-muridnya, Matriyanto bukan sekadar guru. Dia adalah bapak, penuntun, sekaligus teladan hidup. 

Tidak cukup mengajar murid di sekolah, Matriyanto membawa tugasnya membimbing anak-anak hingga ke rumah. Jadwal mengajar hariannya padat. Selepas asar hingga menjelang magrib, mengajar anak-anak membaca Alquran. 

Bakda maghrib hingga sehabis isya, disediakan waktunya untuk mengajar ngaji orang-orang dewasa. "Jadi guru itu kan labelnya. Tapi (sesungguhnya) guru itu bagaimana sesuai perintah kanjeng Nabi Muhammad: Khairunnas anfa'uhum linnas. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain," kata Matriyanto.

Aktivis Sosial

Sebelum mengabdi menjadi guru madrasah, Matriyanto sudah akrab dengan kehidupan sosial di desa. Pada akhir 1980-an, ia bertugas mengurus administrasi di Desa Ketunggeng. 

Dari sini Matriyanto mengambil banyak pelajaran tentang manusia. Memahami bahwa kemiskinan sering kali bukan soal harta, tapi soal kesempatan dan pengetahuan. 

Selama menjadi perangkat desa, mulai tumbuh benih keinginan untuk membangun masyarakat melalui jalan pendidikan. "Ketika menjadi perangkat desa itu saya juga bersamaan mengajar di SMP Aswaja."

Jadwal mengajar dilakukan di sela piket ngantor di balai desa. Saat itu kondisi keuangan desa belum seperti sekarang. Angaran operasional desa selama setahun hanya Rp2.750.000, sehingga perangkat desa tidak harus masuk bekerja setiap hari. 

Pada saat yang sama, datang kesempatan untuk melanjutkan kuliah. Selama 4 tahun Matriyanto menjalani kuliah Sabtu-Minggu di IKIP PGRI Wates, hingga April 2004 memperoleh gelar sarjana starata I untuk program studi Bimbingan Penyuluhan (BP).

Susah payah Matriyanto menyelesaikan kuliah. Dia harus menyisihkan gaji guru sebesar Rp62 ribu untuk membayar uang semester Rp300 ribu. Sambil mengajar, dia menitipkan dagangan slondok ke beberapa warung di sekitar sekolah. 

"Saya hitung ada 17 warung yang saya lewati dari rumah ke sekolah. Sambil berangkat, saya titip menjual slondok ke warung-warung itu. Hasilnya malah lebih besar dari honor," kata Matriyanto mengingat masa sulit itu.
  
Selang empat bulan, datang kabar baik. Departemen Agama membuka lowongan PNS untuk guru wiyata yang sudah lama mengabdi. 

Tapi kesempatan itu tidak langsung diambil Matriyanto. Hatinya ciut mengingat usianya saat itu telah menginjak 36 tahun. "Saya ragu karena usianya sudah kelewat. Takut juga kalau tidak mendapat izin dari Mbah Mad."

Karena didorong oleh rekan sesama guru, Matriyanto memutuskan sowan kepada Mbah Mad untuk meminta pendapat. Setelah mendapat restu, baru ia manteb mengikuti tes pegawai negeri sipil hingga lulus. 

Diangkat menjadi PNS guru tahun 2005, Matriyanto langsung ditempatkan di MI Ma’arif Ketunggeng hingga tahun 2012. Pernah dipidah tugas ke Desa Ngargomulyo, dia kembali mengajar di MI tahun 2018 sampai sekarang.    

Sosok Mbah Mad Watucongol

Lagi-lagi Mbah Mad Watucongol yang mengubah kisah hidup Matriyanto. Dia diperintah oleh guru sekaligus "bapak"-nya itu untuk melanjutkan pendidikan ke jejang S2. "Kata Mbah Mad, 'orang NU itu enggak cuma butuh kaum. Sekolah sing werno-werno (melanjutkan sekolah hingga tingkat tinggi)."

Berbekal dorongan dari gurunya, Matriyanto berhasil menyelesaikan Program Magister Manajemen Pendidikan dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).   

Akar semangat kerja sosial Matriyanto tumbuh dan diasah melalui Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Di sini ia menemukan wadah untuk mempraktikan ilmu: Menjadi manusia yang paling bermanfaat untuk manusia lainnya. 

Selama khidmah di NU, dia menemukan makna baru pendidikan: Bahwa belajar tidak hanya di ruang kelas, tapi juga di medan sosial. Dari organisasi dia belajar memimpin dan menyusun program kegiatan yang kelak menjadi bekal penting mengelola sekolah dan masyarakat.

Terbukti Matriyanto dipercaya menjadi Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Kabupaten Magelang masa bakti 2024-2029, Pembina Pengurus Cabang (PC) IPNU Kabupaten Magelang, dan konsultan guru Bimbingan Konseling di MTs Ma’arif 2 Muntilan.

Bapak Para Mahasiswa 

Matriyanto M.Pd berhasil meminimalisir stigma bahwa aktivis muda organisasi biasanya gagal dalam pendidikan. "Saya ingat betul cemooh (kebanyakan) orang. Kalau ikut organisasi itu paling nanti telat nikah. Nganggur. Ndak pinter. Saya mau mengubah itu."

Kalimat itu sering diucapkan dengan nada bercanda, tapi mengandung prasangka. Bagi sebagian orang, menjadi aktivis dianggap buang-buang waktu. Mereka lebih menghargai orang yang bekerja di sawah atau berdagang di pasar daripada yang aktif berorganisasi.

Pintu rumah lelaki kelahiran Magelang, 12 Maret 1966 ini senantiasa terbuka bagi mahasiswa yang kesulitan menyelesaikan kuliah. Tidak hanya memberi motivasi, Matriyanto membantu mereka dalam hal teknis menyusun skripsi.

"Beberapa orang tua mahasiswa bahkan ada yang datang mengajak anaknya. Mungkin sudah judeg (bingung dan kalut) anaknya tidak juga lulus. Saya memahami betapa sedihnya orang tua."

Berbekal ilmu konseling, biasanya Matriyanto menggali sebab terhambatnya kelulusan. Anak biasanya bisa lebih terbuka pada orang lain, ketimbang pada orang tua. 

Kini Matriyanto sedang membentuk tim untuk mendata anggota IPNU Kabupaten Magelang yang terhambat kuliah. "Kita arahkan ke lembaga mana bisa melakukan penelitian. Biasanya ada beberapa teman-teman yang bisa membantu."

Setelah nanti pensiun sebagai ASN guru pada Kementerian Agama, tugas Matriyanto tampaknya tidak akan reda. Dia akan terus menjalani takdir hidupnya berada di tengah jemaah. 

Melayani, mendampingi, dan memenuhi apapun yang dibutuhkan oleh orang-orang di sekitarnya. Jika Matriyanto menjadikan Mbah Mad Watucongol sebagai guru dan bapak sekaligus, kini dia telah menjadi bapak—juga guru bagi banyak anak-anak muda. (MRD) 

Artikel ini persembahan Arina.id dan Kementerian Agama


Editor: Muhammad Taufiq
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo