Arina.id — Setidaknya enam warga Palestina, termasuk seorang anak, tewas dalam serangan udara Israel yang menghantam sebuah kafe yang difungsikan sebagai kamp pengungsi di kawasan pelabuhan Kota Gaza, Selasa, 18 Agustus 2026. Sebanyak 14 orang lainnya dilaporkan terluka.
Dilansir dari Al Jazeera, serangan tersebut terjadi ketika upaya diplomatik untuk menghidupkan kembali rencana gencatan senjata Gaza kembali digelar. Sehari sebelumnya, utusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sekaligus menantunya, Jared Kushner, bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Yerusalem.
Militer Israel mengaklaim serangan itu menyasar sejumlah anggota Hamas, termasuk komandan pasukan elite Nukhba. Namun, Israel tidak memberikan bukti mengenai identitas ataupun jumlah anggota Hamas yang tewas dalam serangan tersebut.
Hamas mengeluarkan pernyataan menyusul serangan hari Selasa, mengecamnya sebagai "pengabaian terang-terangan terhadap semua seruan gencatan senjata yang dikeluarkan oleh mediator dan negara-negara penjamin".
Rekaman yang dibagikan di media sosial menunjukkan beberapa warga Palestina tergeletak di tanah yang berlumuran darah, sementara para saksi mata bergegas membawa korban luka ke ambulans yang menunggu di dekatnya.
Jurnalis Al Jazeera, Hani Mahmoud mengatakan serangan itu terjadi ketika banyak orang di pelabuhan keluar dari tenda mereka untuk menghindari panas yang ekstrem.
“Serangan-serangan ini terjadi secara tidak terduga. Anda bisa saja sedang berjalan di jalan; Anda bisa saja sedang duduk di kafe ketika serangan seperti itu terjadi karena tidak ada peringatan sebelumnya,” lapornya.
Kawasan pelabuhan tersebut kini menjadi tempat penampungan bagi keluarga-keluarga Palestina yang mengungsi akibat perang. Di sekitar lokasi dipenuhi puing-puing dan barang-barang milik warga.
Serangan Terjadi Saat Diplomasi Digencarkan
Serangan terbaru itu berlangsung ketika Amerika Serikat berupaya menghidupkan kembali peta jalan 15 poin untuk mengakhiri perang di Gaza.
Kushner menggelar pembicaraan dengan Netanyahu pada Senin. Sebelumnya, ia bertemu dengan para mediator dan pemimpin Hamas dalam rangkaian diplomasi di Mesir.
Namun, pertemuan tersebut belum menghasilkan terobosan berarti. Israel dan Hamas masih berbeda pandangan mengenai urutan pelaksanaan kesepakatan. Rencana yang didukung pemerintahan Trump mengatur agar Hamas melucuti persenjataannya secara bertahap seiring dengan penarikan pasukan Israel dari Gaza.
Netanyahu menolak skema tersebut dan menegaskan Israel tidak akan menarik pasukannya sebelum Hamas sepenuhnya dilucuti.
Hamas memiliki tuntutan berbeda. Kelompok tersebut menginginkan Israel terlebih dahulu menghentikan serangan dan menarik pasukannya dari Gaza sebagai bagian dari pelaksanaan gencatan senjata.
Perbedaan mengenai siapa yang harus lebih dahulu memenuhi komitmen inilah yang hingga kini menjadi salah satu hambatan utama dalam proses negosiasi.
Editor: Muhammad Zunus


