Arina.id - Iran sudah menghitung sekenario paling buruk dalam konfrontasi dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel, termasuk ketika pemimpin tertingginya Ayatollah Ali Khamenei meninggal karena sakit, dibunuh, atau mengundurkan diri. Itulah kenapa kematian Khamenei tidak mengubah sikap perlawanan Iran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pemerintahnya memulai proses pemilihan pemimpin tertinggi baru dalam satu atau dua hari ke depan, seiring negara itu memulai masa berkabung selama 40 hari ke depan. Ia juga mengatakan mekanisme konstitusional suksesi sekarang ini sudah mulai berjalan.
"Dewan transisi telah dibentuk," katanya sambil menjelaskan sebuah badan beranggotakan tiga orang yang terdiri dari presiden, kepala lembaga peradilan, dan seorang ahli hukum dari Dewan Penjaga Konstitusi.
"Kelompok tiga orang ini akan bertindak sebagai penanggung jawab kepemimpinan sebelum pemimpin baru terpilih. Saya berasumsi bahwa prosesnya akan memakan waktu singkat. Mungkin dalam satu atau dua hari, mereka akan memilih pemimpin baru untuk negara ini," katanya kepada Aljazeera.
Adapun Presiden Iran Masoud Pezeshkian, dalam pidato yang direkam sebelumnya dan disiarkan di televisi pemerintah Iran juga mengkonfirmasi hal tersebut, di mana ia mengutuk pembunuhan Khamenei sebagai "kejahatan besar" dan menyatakan tujuh hari libur nasional bersamaan dengan masa berkabung.
Kematian Ali Khamenei memang tidak segera membuat Iran menyerah kepada Amerika dan Israel. Sebaliknya, negeri para Mullah tersebut menolak tunduk pada Amerika. Korps Garda Revolusi Republik Iran (IRGC) terus membombardiri aset Amerika di Timur Tengah.
Perlawanan ini juga didukung oleh dewan perwakilan rakyat Iran. Misalnya disampaikan Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf yang menyuarakan kemarahannya pasca-kematian Khamenei.
Dalam sebuah pidato di televisi setempat ia mengatakan, "Kalian (Amerika dan Israel) telah melanggar garis merah kami dan harus membayar harganya," katanya dengan menambahkan bahwa Iran akan "memberikan pukulan yang begitu dahsyat sehingga kalian sendiri akan terpaksa mengemis."
Di sisi lain, Araghchi juga bersikap menantang ketika ditanya tentang posisi militer Iran sekarang ini. Ia menolak anggapan bahwa serangan AS-Israel telah mencapai tujuannya meskipun berhasil membunuh pemimpin tertinggi negaranya.
"Tidak ada kemenangan dalam perang ini. Mereka belum mampu mencapai target mereka, dan mereka tidak akan mampu mencapai target mereka dalam beberapa hari mendatang," katanya sambil membandingkannya dengan perang 12 hari antara Israel dan Iran pada Juni 2025 lalu melawan koalisi AS-Israel.
Araghchi mengatakan bahwa AS dan Israel "saat itu berharap bahwa dalam dua atau tiga hari Iran akan menyerah. Tetapi butuh 12 hari bagi mereka untuk memahami bahwa Iran tidak akan menyerah, dan bahwa mereka tidak punya pilihan selain meminta gencatan senjata tanpa syarat. Saya tidak melihat perbedaan antara kali ini dan sebelumnya."
Lalu bagaimana pemimpin tertinggi Iran dipilih?
Amerika mungkin tidak menghitung, bahwa Ayatollah Ali Khamenei bukan semata-mata pemimpin pemerintahan atau politik, melainkan juga sekaligus tokoh atau pemimpin agama bagi kelompok Syiah. Ia adalah martir bagi perlawanan orang-orang Syiah yang tidak hanya ada di Iran, melainkan hampir tersebar di seluruh dunia.
Pasca-kematian Khamenei, Iran juga segera memilih penggantinya. Lalu bagaimana pemimpin tertinggi negara pewaris emperium Persia tersebut dipilih? Adalah melalui Majelis Pakar, sebuah badan ulama beranggotakan 88 orang yang dipilih oleh publik setiap delapan tahun sekali.
(Ilustrasi Aljazeera)
Para kandidat yang mencalonkan diri untuk Majelis harus terlebih dahulu diperiksa dan disetujui oleh Dewan Penjaga, sebuah badan pengawas yang kuat yang anggotanya sebagian ditunjuk oleh pemimpin tertinggi itu sendiri.
Ketika jabatan tersebut kosong, karena kematian atau pengunduran diri, Majelis Ahli berkumpul untuk memilih pengganti. Cukup sederhana, suara mayoritas sudah cukup untuk menunjuk pemimpin tertinggi yang baru.
Sesuai dengan konstitusi Iran, kandidat haruslah seorang ahli hukum senior dengan pengetahuan mendalam tentang yurisprudensi dalam Islam Syiah, serta memiliki kualitas seperti penilaian politik, keberanian, dan kemampuan administrasi.
Sebelumnya, hanya ada satu kali peralihan kekuasaan di jabatan pemimpin tertinggi Iran, yaitu ketika Ayatollah Agung Ruhollah Khomeini, pemimpin Revolusi Islam, meninggal dunia pada usia 86 tahun pada tahun 1989.
Bagaimana kalau terjadi kekosongan kepemimpinan?
Pasal 111 konstitusi Iran mengamanatkan bahwa dewan sementara harus menangani tugas-tugas sampai pemimpin tertinggi baru terpilih. Dewan tersebut akan mencakup Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Mahkamah Agung Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, dan seorang ulama dari Dewan Penjaga Konstitusi.
Ayatollah Alireza Arafi dari Dewan Penjaga Konstitusi, 67 tahun, pada hari Minggu diangkat menjadi anggota dewan sementara yang beranggotakan tiga orang tersebut. Mereka akan memimpin negara hingga majelis secara resmi memilih pemimpin tertinggi yang baru.
Kepala keamanan Iran dan orang kepercayaan dekat mendiang Khamenei, Ali Larijani, mengatakan pada hari Minggu bahwa proses transisi sedang berlangsung.
Luciano Zaccara, seorang profesor riset bidang politik Teluk di Universitas Qatar, mengatakan kepada Aljazeera bahwa sistem politik Iran telah dipersiapkan untuk situasi saat ini, karena mengetahui bahwa pembunuhan Khamenei adalah kemungkinan yang nyata.
"Trump ingin mendapatkan kesepakatan terbaik, tetapi metode yang dia gunakan untuk mendapatkan kesepakatan itu adalah dengan memusnahkan atau menghancurkan sebanyak mungkin," kata Zaccara. "Ini adalah cara untuk memaksakan syarat, bukan untuk menegosiasikan apa pun. Trump menginginkan penyerahan rezim, bukan perubahan."
Padahal Iran, kata dia, untuk menghindari kekosongan kekuasaan, mendiang Khamenei sudah menyiapkan pengganti untuk semua pejabat yang disingkirkan dalam beberapa bulan terakhir, dan memastikan untuk membangun struktur yang diperlukan. "Strukturnya tetap ada, jalur kekuasaan [dan] jalur komando tetap pada tempatnya."
Lalu siapakah pemimpin tertinggi Iran itu? Pemimpin tertinggi adalah posisi puncak dalam hierarki politik dan agama Republik Islam Iran di bawah sistem velayat-e faqih – prinsip perwalian oleh ahli hukum Islam.
Pada dasarnya, dia adalah panglima tertinggi angkatan bersenjata dan penentu keputusan terakhir di negara itu – dan menunjuk pejabat-pejabat penting di bidang peradilan, militer, dan media. Dia juga memimpin IRGC (Korps Garda Revolusi Islam) yang sangat kuat.
Berikut nama-nama calon pemimpin tertinggi Iran dikutip dari Aljazeera:
Mojtaba Khamenei
Putra kedua Khamenei, Mojtaba Khamenei, termasuk di antara kandidat utama untuk menggantikan ayahnya sebagai pemimpin tertinggi berikutnya. Ia dikenal memiliki pengaruh signifikan di kalangan administrator dan IRGC, badan militer terkuat.
Namun, garis keturunan Khamenei juga merupakan salah satu hambatan terbesar yang dihadapinya. Ia dilaporkan menentang suksesi dari ayah ke anak. Hal itu tidak disukai di Iran, terutama setelah monarki Shah Mohammad Reza Pahlavi yang didukung AS digulingkan pada tahun 1979.
Alireza Arafi
Arafi, seorang ulama berusia 67 tahun, adalah tokoh berpengaruh dalam lembaga keagamaan Republik Islam, tetapi bukan aktor politik yang diterima secara luas.
Ia menjabat sebagai wakil ketua Majelis Pakar, badan yang bertanggung jawab untuk mengawasi pemilihan pemimpin tertinggi, dan telah menjadi anggota Dewan Penjaga, yang memeriksa calon pemilihan dan undang-undang yang disahkan oleh parlemen.
Arafi diangkat sebagai anggota ahli hukum Dewan Kepemimpinan Iran, badan yang bertugas menjalankan peran pemimpin tertinggi hingga Majelis Pakar memilih pemimpin baru, demikian dilaporkan media pemerintah Iran pada hari Minggu.
Ia juga merupakan pemimpin salat Jumat di Qom – pusat keagamaan terpenting di Iran – dan mengepalai sistem seminari negara tersebut, mengawasi pendidikan keagamaan di seluruh negeri.
Mohammad Mehdi Mirbagheri
Mirbagheri adalah tokoh ulama garis keras di pemerintahan dan anggota Majelis Pakar. Ia dikenal luas karena pandangan dunianya yang kritis terhadap Barat – dan saat ini memimpin Akademi Ilmu Pengetahuan Islam di kota Qom di utara.
Gholam-Hossein Mohseni-Ejei
Mohseni-Ejei adalah seorang ulama senior Iran dan saat ini memimpin lembaga peradilan Republik Islam, yang diangkat ke posisi tersebut pada Juli 2021 oleh mendiang Khamenei.
Sebelumnya, ia menjabat sebagai menteri intelijen dari tahun 2005 hingga 2009 dan kemudian sebagai jaksa agung dan wakil ketua hakim pertama. Ia dianggap sebagai tokoh garis keras yang bersekutu dengan sayap konservatif rezim.
Hassan Khomeini
Khomeini, 54 tahun, termasuk di antara nama-nama yang paling banyak dibicarakan dalam perundingan suksesi untuk pemimpin tertinggi berikutnya. Dia adalah cucu dari Ayatollah Ruhollah Khomeini, pendiri Republik Islam, dan juga penjaga makam kakeknya di Teheran.
Meskipun belum pernah memegang jabatan publik, Khomeini adalah tokoh reformis yang dikenal karena pandangannya yang cukup moderat tentang kehidupan dan kebijakan publik. Ia pernah mencoba mencalonkan diri sebagai anggota Majelis Pakar pada tahun 2016, tetapi dewan penyeleksi mendiskualifikasinya.
Editor: Muhammad Taufiq


