Arina.id - Untuk mencegah peredaran uang palsu, salah satu solusi yang bisa dipakai yakni menggalakkan masyarakat agar bertransaksi jual beli menggunakan nontunai. Apalagi penggunaan transaksi digital tersebut naik setiap tahun.
Transaksi QRIS misalnya, di Indonesia melesat 226,54 persen pada 2024, dengan 50,50 juta pengguna dan 32,71 juta merchant. Pembayaran digital lainnya, seperti BI-RTGS dan BI-FAST, juga mengalami peningkatan signifikan.
Sementara pada Juli 2025 volume transaksi QRIS tumbuh 162,77%. Hal ini diungkapkan oleh Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. Oleh sebab itu, Bank Sentral terus memperkuat infrastruktur pembayaran digital untuk mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Apalagi menurut Kepala Kantor Perwakilan BI Sulut Joko Supratikto, tingginya penggunaan QRIS juga turut mendorong peredaran uang palsu. "Kami terus mengimbau masyarakat agar menggunakan transaksi nontunai, karena lebih aman dan sudah ada di mana-mana," katanya, seperti dikutip dari Antara, Senin 08 September 2025.
Ia mengatakan transaksi nontunai mengurangi kontak langsung dengan uang fisik, sehingga meminimalkan peluang untuk bertransaksi menggunakan uang palsu. "Pembayaran digital lebih praktis dan efisien dibandingkan pembayaran tunai," katanya.
Kemudian risiko terkait uang palsu jauh lebih kecil dalam transaksi nontunai dibandingkan dengan transaksi tunai. Selain penggunaan transaksi nontunai, BI juga mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada dengan uang tunai dengan memeriksa keaslian uang terlebih dahulu.
Lakukan pemeriksaan sederhana dengan metode 3D, yakni Dilihat warna uang dan fitur keamanannya, Diraba yakni permukaan uang dan bagian yang terasa kasar, dan Diterawang yaitu melihat benang pengaman dan hologram.
Ia menambahkan, penggunaan transaksi nontunai seperti QRIS, transfer bank, kartu debit/kredit akan meminimalkan risiko menerima uang fisik palsu. Situasi itu juga bisa menghindarkan masyarakat dari konsekuensi hukum akibat ketidaktahuannya.
Data tahun 2024 versi Bank Indonesia, selain QRIS, transaksi digital lainnya juga mengalami peningkatan ialah BI-RTGS meningkat 13,42 persen yoy, sehingga mencapai Rp42.008,08 triliun.
Dari sisi ritel, volume transaksi BI-FAST tumbuh positif 67,79 persen yoy mencapai 785,95 juta transaksi. Transaksi digital banking tercatat sebanyak 5.363,00 juta transaksi atau tumbuh sebesar 34,49 persen yoy. Sedangkan transaksi uang elektronik (UE) tumbuh 39,42 persen yoy mencapai 3.958,53 juta transaksi.
Adapun dari sisi pengelolaan uang rupiah, BI melaporkan jumlah Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) tumbuh 6,61 persen yoy menjadi Rp1.057,8 triliun. "Kinerja transaksi ekonomi dan keuangan digital pada triwulan II-2024 tetap kuat, didukung oleh sistem pembayaran yang aman, lancar, dan andal," ujar Perry.
Perry memastikan, BI terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di tengah masih tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.
Untuk sistem pembayaran, kebijakan diarahkan untuk memperkuat keandalan infrastruktur dan struktur industri sistem pembayaran serta memperluas akseptasi digitalisasi sistem pembayaran.
Editor: Muhammad Taufiq


