Arina.id ~ Masyarakat di Kabupaten Garut, Jawa Barat, pada Sabtu tengah malam, 27 April 2024, dikejutkan peristiwa bumi berguncang akibat gempa. Warga di sejumlah daerah di Jawa Barat satu per satu melaporkan melalui media sosial merasakan getaran gempa yang cukup kuat dan lama lantas buru-buru berhamburan keluar rumah.
Getaran lindu tak hanya dirasakan di wilayah Jawa Barat. Sejumlah warga di Jakarta, Banten, bahkan DI Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur melaporkan merasakan guncangan serupa. Sebagian di antara mereka malahan melaporkan mendengar suara gemuruh diikuti guncangan yang kuat dan berlangsung selama lima hingga tujuh detik.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) segera mengumumkan bahwa guncangan bumi itu akibat gempa dengan magnitudo 6,2 (semula disebut 6,5 magnitudo) pada kedalaman 70 kilometer Barat Daya Garut, pukul 23.29 WIB. Titik koordinat gempa terletak di Samudera Hindia pada koordinat 107,26 Bujur Timur dan 8,42 Lintang Selatan, berjarak sekitar 151,7 kilometer barat daya Garut. Gempa itu tidak berpotensi tsunami.
Korban dan kerusakan
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah memutakhirkan data korban jiwa dan kerusakan dampak gempa itu. Berdasarkan data yang diperbarui pada Minggu sore, jumlah korban jiwa bertambah menjadi 8 orang dan sebanyak 75 kepala keluarga terdampak.
Selain itu, menurut data yang sama sebagaimana dirilis oleh Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, sebanyak 110 rumah rusak dengan tingkat kerusakan beragam mulai dari rusak berat, sedang, dan ringan.
Dari jumlah tersebut, kerusakan paling banyak terjadi di Kabupaten Garut yang mencapai 41 unit rumah, Kabupaten Bandung 24 unit rumah, Kabupaten Sukabumi 17 unit rumah, Kabupaten Tasikmalaya 7 unit rumah, dan Kota Tasikmalaya 5 unit rumah. Beberapa fasilitas umum turut terdampak gempa seperti tempat ibadah, sekolah, perkantoran, dan sarana kesehatan.
Wilayah yang terdampak bencana alam itu bertambah menjadi 11 kota/kabupaten yaitu Kabupaten Garut, Kabupaten Sukabumi, Kota Sukabumi, Kota Tasikmalaya, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Kota Ciamis, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Pangandaran, dan Kota Cimahi. Selain daerah yang disebutkan, gempa juga diperkirakan berdampak di wilayah Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Ciamis, dan Kabupaten Sumedang.
Pemerintah Kabupaten Garut menetapkan status Tanggap Darurat Bencana setelah wilayahnya diguncang gempa. Masa penanganan bencana itu berlaku selama 14 hari ke depan. Dampak gempa terjadi di 24 kecamatan yang tersebar di 46 desa dan 4 kelurahan.
Sekretaris Daerah Kabupaten Garut Nurdin Yana mengatakan, Pemerintah Daerah telah menyiapkan dana sebesar Rp58 miliar dari pos anggaran Bantuan Tidak Terduga untuk menangani bencana itu. Bagi rumah warga yang rusak akan mendapatkan bantuan berkisar antara Rp1,5-50 juta, berdasarkan hasil perhitungan Dinas Perumahan dan Permukiman.
Mengapa getaran gempa dirasakan hingga Malang?
BMKG mengonfirmasi bahwa getaran gempa di Garut dirasakan hingga wilayah Malang, Jawa Timur, lebih dari 700 kilometer jaraknya dari pusat lindu. Mengapa bisa seluas dan sejauh itu getaran gempa yang dirasakan?
Menurut Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono, itu terjadi karena gempa tersebut berada pada hiposentrum dalam di kedalaman 70 kilometer di bawah laut.
"Karena hiposenterumnya dalam, maka gempa ini memiliki spektrum luas yang mencakup daerah Kebumen, Banyumas, Cilacap dan Purwokerto, Bantul, Sleman, Kulonprogo, Trenggalek, hingga Malang," katanya dalam keterangannya, Minggu.
Pemicu gempa Garut, kata Daryono, dipicu oleh deformasi batuan dalam Lempeng Indo-Australia. Deformasi batuan itu tersubduksi di bawah Lempeng Eurasia di selatan Jawa barat dengan mekanisme pergerakan gempa geser-naik (oblique thrust). "Para ahli menyebutnya sebagai gempa dalam lempeng (intra-slab earthquake)," ujarnya.
Gempa dalam lempeng, dia menjelaskan, terjadi akibat pecahnya batuan dalam 'slab' lempeng. Namun, ia menilai keistimewaan gempa intra-slab adalah sanggup meradiasikan guncangan gempa yang lebih dahsyat dari gempa lain dengan sumber lain.
"Bukan gempa megathrust," katanya, mengklarifikasi anggapan sebagian kalangan bahwa gempa itu karena megathrust, bagian dangkal suatu lajur pada zona subduksi yang mempunyai sudut tukik yang landai. Analisis itu, dia menambahkan, "dibuktikan dengan data penampang melintang hiposenter (cross-section) yang menunjukkan hiposenter gempa terletak di dalam slab Lempeng Samudra Indo-Australia."
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengonfirmasi penjelasan BMKG. "Lokasi pusat gempa bumi terletak di laut pada kedalaman menengah sehingga guncangan terasa pada daerah cukup luas di Jawa Barat," kata Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid sebagaimana dikutip dari laman ESDM, Sabtu.
Lokasi pusat gempa itulah, menurut Wafid, yang menjadi alasan gempa Garut terasa cukup kuat dan lama pada sejumlah wilayah seperti Jakarta, Bekasi, hingga Bandung. "Morfologi wilayah pesisir Jawa Barat selatan umumnya berupa dataran pantai yang berbatasan dengan morfologi perbukitan bergelombang hingga perbukitan terjal pada bagian utara," katanya.
Bencana susulan
Gempa Garut, berdasarkan analisis BMKG sebagaimana disampaikan Daryono, tidak banyak memiliki gempa susulan, bahkan kalaupun ada potensinya sangat kecil. Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat tidak terlalu khawatir dan tidak terhasut isu yang tidak jelas sumbernya. Selain itu, masyarakat diimbau untuk sementara agar tidak menempati bangunan yang retak atau rusak akibat gempa.
Meski demikian, BMKG justru mewanti-wanti masyarakat untuk mewaspadai bencana susulan yang dipicu oleh gempa tersebut. Masyarakat Sukabumi, Tasikmalaya, Bandung, Garut, dan sekitarnya, menurut BMKG, mesti waspada terhadap potensi longsor dan banjir bandang usai gempa pada Sabtu tengah malam itu, terutama apabila turun hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
Peringatan dini tersebut, sebagaimana disampaikan oleh Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, mesti diperhatikan betul oleh "terutama masyarakat yang bertempat tinggal di lereng-lereng bukit, perbukitan, gunung, ataupun pegunungan dan daerah aliran sungai karena berpotensi terjadi longsor dan banjir bandang".
Potensi bencana susulan bisa muncul, kata Dwikorita, karena getaran gempa dapat memicu keretakan atau membuat lereng-lereng lebih rapuh. Jika terguyur hujan, air hujan yang meresap dikhawatirkan akan mendorong massa tanah dan/atau batuan menjadi longsor. Selain itu, curah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat juga dapat mengakibatkan banjir bandang yang membawa material tanah, bebatuan, dan pepohonan.
Potensi bencana alam yang menyusul gempa sebagaimana diperingatkan oleh Kepala BMKG itu bukan peringatan tanpa dasar yang kuat. Soalnya tiga hari sebelum gempa, terjadi bencana tanah bergerak di tiga kecamatan di Garut, antara lain Banjarwangi, Pakenjeng, dan Cisompet. Bahkan di Banjarwangi ada 3 warga meninggal dunia akibat tertimbun tanah longsor pada 25 April.
Di Pakenjeng, menurut laporan pemerintah daerah setempat, sebanyak 48 kepala keluarga telah mengungsi secara mandiri ke lokasi yang lebih aman. Permukiman mereka mengalami pergerakan tanah hingga kedalamannya mencapai sekitar 15 meter. Pemerintah daerah tengah menunggu Badan Geologi untuk melakukan kajian untuk dijadikan rujukan apakah harus dilakukan relokasi atau tidak.
Riwayat gempa merusak selatan Jawa Barat
Riwayat tsunami
- Gempa bumi tsunami Pangandaran, 17 Juli 2006, M7,7
- Gempa bumi Tasikmalaya, 2 September 2009, M7,3
- Gempa bumi potensi tsunami Tasikmalaya, 15 Desember 2017, M6,9 (BMKG menerbitkan peringatan dini tsunami)
Riwayat gempa bumi merusak
- Gempa bumi Cianjur, 15 Februari 1844
- Gempa bumi Cianjur, 18 Desember 1910
- Gempa bumi selatan Jawa, 24 Juli 1979, M6,3
- Gempa bumi Tasikmalaya, 2 November 1979, M6,1
- Gempa bumi Tasikmalya, 16 April 1980, M5,8
- Gempa bumi tsunami Pangandaran, 17 Juli 2006, M7,7
- Gempa bumi Tasikmalaya, 2 September 2009, M7,3
- Gempa bumi Tasikmalaya, 10 Januari 2010, M5,4
- Gempa bumi Tasikmalaya, 26 Juni 2010, M6,3
- Gempa bumi Sukabumi, 4 Juni 2012, M6,1
- Gempabumi Pangandaran, 25 Oktober 2020, M5,6
- Gempa bumi Sukabumi, 27 April 2021, M5,6
- Gempa bumi Garut, 3 Desember 2022, M6,4
Sumber: BMKG
Editor: Kendi Setiawan


