Arina.id - Bernie Sanders geleng-geleng kepala, kecewa berat dengan sikap mayoritas koleganya di Capitol Building, kantor Senator Amerika Serikat di Kota Washington, DC. Sanders, senator non-partai politik (independen) itu sempat melempar kritikan tajam terkait keterlibatan negerinya dalam perang di Gaza Palestina.
Politisi gaek itu menilai Amerika terlibat dalam kematian ribuan warga di sana lantaran transfer senjata serbu berbagai jenis tanpa syarat ke negeri zionis Israel. "Pemerintah Amerika Serikat saat ini melanggar hukum," kata Sanders kepada wartawan pada hari Selasa, 19 November 2024.
"Seluruh penduduk di Gaza utara berada pada risiko kematian. Meninggal karena penyakit, kelaparan dan kekerasan ... Tapi yang lebih menyakitkan adalah bahwa banyak dari apa yang terjadi di sana telah dilakukan dengan senjata AS dan dengan dukungan pembayar pajak Amerika," katanya menambahkan.
Kritik Sanders ini, seperti dikutip dari middleeasteye.com, didukung sejumlah senator lain yang menolak rencana penjualan senjata ke Israel. Walaupun, belakangan suara mereka kalah di Kongres Amerika.
"Sejak Februari, saya berpendapat bahwa Amerika Serikat harus memprioritaskan transfer senjata pertahanan – seperti yang digunakan untuk mengalahkan serangan pesawat tak berawak dan rudal – ke Israel daripada senjata ofensif yang menyebabkan kerusakan sipil yang parah di Gaza, Tepi Barat dan Lebanon," katanya.
"Transfer senjata ofensif yang berkelanjutan akan memperburuk krisis saat ini dan menambah lebih banyak bahan bakar ke api ketidakstabilan regional."
Kemarin, Rabu 20 November 2024, Senat AS pada akhirnya menyetujui rencana Pentagon untuk mengirim senjata ofensif baru senilai USD 20 miliar atau setara 318 triliun ke Israel. Awalnya, sidang berjalan alot sebelum pada akhirnya harus voting.
Sikap para senator tersebut terbelah dua. Satu pihak setuju penjualan senjata ofensif, pihak lain menyarankan senjata defensif. Kelompok Bernie termasuk yang menolak senjata ofensif.
Berbagai senjata yang pada akhirnya disetujui di antaranya adalah peluru tank 120 mm, peluru mortir berdaya ledak tinggi, dan bom yang bisa dikendalikan jarak jauh yang dikenal sebagai JDAM. JDAM merupakan sistem rudal jarak jauh berteknologi tinggi, dilengkapi GPS dan presisi mengenai target serta memiliki efek ledakan dahsyat tanpa pandang bulu.
49 Kali Amerika memveto perdamaian di Gaza
Di hari yang sama, dalam sidang Senat AS itu mereka juga memutuskan memveto rancangan resolusi damai dari Dewan Keamanan PBB yang menyerukan gencatan senjata di Gaza.
Keputusan tersebut menandai ke-49 kalinya AS menggunakan hak vetonya terhadap rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB terkait Israel.
Rancangan resolusi pada awalnya diajukan oleh 10 anggota Dewan Keamanan yang terpilih serta dan anggota lainnya. Namun kecuali Amerika Serikat justru memilih menolak resolusi tersebut.
Veto tersebut juga menandai lebih dari satu tahun perlindungan diplomatik AS yang diberikan kepada Israel di tengah berkobarnya perang di Gaza, yang bulan lalu diperluas dengan menginvasi Lebanon.
Namun, dukungan diplomatik untuk Israel dari Washington ini bukanlah hal baru dan telah berlangsung lama sejak beberapa dekade.
Selain memberi Israel bantuan militer sebesar USD 3 miliar setiap tahun, AS juga telah menjadi sekutu terbesar Israel di PBB dan sering kali menggunakan hak vetonya untuk memblokir langkah-langkah diplomatik negara lain yang menekan Israel atas penjajahannya di Palestina.
Editor: Muhammad Taufiq


