Jakarta, Arina.id - Perang di Gaza Palestina berangsur mereda seiring dengan kesepakatan gencatan senjata antara Pemerintah Israel dan para pejuang Palestina di sana. Sekarang momentum kembali memperbaiki negeri yang luluh lantak dibombardir Zionis tersebut.
Akses bantuan kemanusiaan juga pelan-pelan sudah mulai bisa masuk ke Gaza. Termasuk bantuan dari Tanah Air. Rencananya, bulan depan, April 2025, Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Indonesia rencananya bakal mulai dibangun di Gaza City. Pembangunan ini diinisiasi oleh masyarakat Indonesia.
Seperti disampaikan Ketua Presidium Aqsa Working Group (AWG), M. Anshorullah. Ia mengatakan, RSIA Indonesia siap dibangun di Gaza tepatnya pada awal Syawal (April 2025) setelah Idul Fitri 1446 H.
"Jika tidak ada halangan, kami akan memberangkatkan tim pendahulu untuk memulai pembangunan RSIA Indonesia Gaza pada awal bulan Syawal (April 2025) setelah Lebaran, Insya Allah," katanya dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI di Jakarta, Jumat (14/3/2025).
Seperti dikutip dari ANTARA, Anshorullah mengatakan, pembangunan RSIA Indonesia akan ditandai dengan peletakan batu pertama yang akan dikoordinasikan oleh personel tim pendahulu tersebut.
Selain melaksanakan peletakan batu pertama, tim pendahulu juga bertugas menyelesaikan tugas-tugas administrasi dengan Kementerian Kesehatan di Gaza menjelang pembangunan RSIA, kata dia.
Ia menjelaskan bahwa gagasan pembangunan RSIA oleh AWG dan Maemuna Center berpangkal dari besarnya persentase wanita dan anak-anak Palestina yang meninggal akibat agresi Israel ke Jalur Gaza yang jumlahnya mencapai hingga 60 persen.
Karena itu, keberadaan RSIA jadi semakin relevan dan dibutuhkan bagi kaum wanita dan anak-anak di Jalur Gaza yang membutuhkan layanan kesehatan terkhusus, ucap pemimpin AWG itu.
Anshorullah juga memastikan bahwa setelah pembangunannya rampung, RSIA akan dioperasikan sepenuhnya oleh pihak Palestina dan tenaga kesehatannya akan berasal dari wilayah di Jalur Gaza
Sementara itu, Ketua Tim Konstruksi RSIA Indonesia Edy Wahyudi mengatakan, sumber daya manusia yang diperlukan untuk pembangunan tersebut akan terdiri dari 75 persen relawan Indonesia dan 25 persen warga setempat.
“Kami ingin rumah sakit ini benar-benar menjadi hasil karya anak bangsa Indonesia,” kata Edy.
Menurut rencana yang disampaikan AWG dan Maemuna Center, RSIA Indonesia di Gaza City akan dibangun di atas tanah wakaf sebesar 5.000 meter persegi yang diberikan oleh Kementerian Kesehatan Palestina dan berlokasi di dekat RS Anak Al-Rantisi yang rusak parah.
RSIA yang pembangunannya diperkirakan memakan biaya hingga Rp402 miliar itu akan dilengkapi dengan 100 kasur rawat inap serta fasilitas gawat darurat, ICU, persalinan, bedah, serta rawat jalan dan laboratorium.
Editor: Muhammad Taufiq


