Arina.id — Asosiasi Psikolog Amerika atau American Psychological Association (APA) mengingatkan para pengembang Artificial Intelligence (AI) untuk memprioritaskan fitur-fitur yang melindungi remaja dari eksploitasi, manipulasi, dan terkikisnya hubungan di dunia nyata.
APA menyadari Ai menawarkan efisiensi dan peluang baru, namun pembaruan integrasinya yang lebih mendalam ke dalam kehidupan sehari-hari memerlukan pertimbangan yang cermat untuk memastikan keamanan perangkat AI.
"Kami mendesak semua pemangku kepentingan untuk memastikan keselamatan remaja dipertimbangkan sejak awal evolusi AI. Sangat penting bagi kita untuk tidak mengulangi kesalahan berbahaya yang sama yang terjadi dengan media sosial," tulis laporan berjudul Artificial Intelligence and Adolescent Well-being: An APA Health Advisory.
Laporan ini dibuat oleh panel ahli sebagai kelanjutan dari dua laporan APA sebelumnya tentang penggunaan media sosial pada remaja dan rekomendasi konten video yang sehat.
Laporan tersebut menekankan bahwa masa remaja—usia 10–25 tahun—adalah periode perkembangan panjang, dan usia tidak selalu menunjukkan kedewasaan atau kemampuan psikologis seseorang. Karena pada masa ini otak masih berkembang secara penting, remaja membutuhkan perlindungan khusus saat menggunakan layanan digital.
“Seperti halnya media sosial, AI pada dasarnya tidak bersifat baik maupun buruk,” ujar Kepala Psikologi APA, Mitch Prinstein, PhD, yang memimpin penyusunan laporan tersebut. “Namun, kami telah melihat kasus ketika remaja membangun ‘hubungan’ yang tidak sehat, bahkan berbahaya dengan chatbot, misalnya. Beberapa remaja mungkin bahkan tidak menyadari bahwa mereka sedang berinteraksi dengan AI, sehingga sangat penting bagi pengembang untuk menetapkan batasan sejak sekarang.”
Laporan yang diterbitkan APA pada Juni 2025 tersebut kemudian memberikan sejumlah rekomendasi untuk memastikan remaja dapat menggunakan AI secara aman. Rekomendasi tersebut diantaranya:
Pertama, menekankan pentingnya menetapkan batasan yang sehat dalam simulasi hubungan manusia. Remaja cenderung kurang mempertanyakan akurasi maupun tujuan informasi yang diberikan oleh bot dibandingkan dengan interaksi antarmanusia, dan kerentanan ini lebih besar dibandingkan orang dewasa.
Kedua, laporan menyarankan penciptaan pengaturan privasi, batasan interaksi, dan konten yang sesuai usia. Upaya ini membutuhkan transparansi, pengawasan serta dukungan manusia, dan pengujian yang ketat untuk memastikan keamanan pengguna muda.
Ketiga, laporan tersebut juga mendorong pemanfaatan AI yang dapat mendukung perkembangan remaja secara sehat. Teknologi AI dapat membantu dalam proses brainstorming, berkarya, meringkas, dan mensintesis informasi—semua hal yang dapat memudahkan siswa memahami dan mengingat konsep-konsep kunci. Namun, laporan mengingatkan bahwa siswa tetap perlu menyadari keterbatasan AI agar tidak bergantung secara berlebihan atau salah menafsirkan hasil yang diberikan.
Keempat, laporan menekankan pentingnya membatasi akses dan interaksi remaja dengan konten berbahaya atau tidak akurat. Pengembang AI diimbau membangun sistem perlindungan yang efektif untuk mencegah paparan terhadap konten yang dapat membahayakan mereka.
Selain itu, laporan menyoroti perlunya melindungi privasi data, termasuk membatasi penggunaan data mereka untuk iklan bertarget serta mencegah penjualan data kepada pihak ketiga.
APA juga menyerukan penerapan pendidikan literasi AI yang komprehensif, baik melalui kurikulum pendidikan sekolah maupun melalui pengembangan pedoman nasional di tingkat negara untuk pendidikan literasi.
“Banyak dari perubahan ini sebenarnya dapat segera dilakukan oleh orang tua, pendidik, dan para remaja sendiri,” ujar Prinstein. “Namun sebagian lainnya menuntut langkah yang lebih besar dari para pengembang, pembuat kebijakan, dan kelompok profesional teknologi.”
Editor: Muhammad Zunus


