Sepertinya tidak ada yang salah atas penyataan Cristiano Ronaldo yang mengklaim Liga Arab Saudi (Saudi Professional League) lebih baik dari Liga Amerika Serikat (MLS). Pemakluman megabintang Portugal yang kini merumput di Al Nassr ini sebagai respons cepat atas spekulasi yang menyebut dirinya akan bermain di MLS menyusul rival utamanya, Lionel Messi yang menolak tawaran Al-Hilal dan lebih memilih Inter Miami.
“Liga Arab Saudi lebih baik ketimbang MLS. Sekarang, semua pemain datang ke sini. Dalam satu tahun, akan banyak pemain top datang ke Arab Saudi,” ujar Cristiano Ronaldo dikutip dari The Guardian.
Klaim pemilik lima gelar Ballon d'Or yang menyebut Liga Arab Saudi lebih baik dari MLS itu pun akhirnya terbukti. Sederet pemain bintang yang sebelumnya merumput di Liga Eropa telah secara resmi menerima pinangan dari klub-klub teluk Saudi.
Nama-nama beken yang dinilai mampu mengonyak dominasi liga-liga Eropa telah berdatangan. Sebut saja di antaranya, Karim Benzema dan N'Golo Kante (Al Ittihad), Kalidou Koulibaly, Ruben Neves, Roberto Firmino dan Edouard Mendy (Al Hilal) Sadio Mane (Al Nassr), hingga Steven Gerrard yang resmi duduk di kursi pelatih Al Ettifaq.
Mengubah Perspektif Publik
Perekrutan Ronaldo sebagai ikon utama olahraga dan sederet nama-nama besar pemain top dari liga Eropa menjadi gambaran utuh bagaimana negara ini menunjukkan ambisi kerajaan agar bisa berada di garda depan olahraga dunia. Tak tanggung-tanggung, sejak 2021 lalu, negeri tersebut (melalui monopoli Dana Investasi Publik/Public Investment Fund) sudah menggelontorkan uang senilai USD 6,3 miliar (Rp 95,1 triliun). Sebelum membelanjakan uang sedemikian besar di sepakbola, Arab Saudi terlebih dahulu berinvestasi di beberapa cabang olahraga populer. Di antaranya Formula 1 dan golf.
Kesuksesan Qatar menghelat Piala Dunia 2022 jadi pemicu motivasi Saudi. Saudi pun telah menyiapkan diri mengajukan sebagai tuan rumah Piala Dunia 2030 dengan Ronaldo sebagai duta besar kerajaan di bidang olahraga nasional.
Selanjutnya, Saudi mengejar ambisi jadi tuan rumah Olimpiade. "Kami melihat bahwa menjadi tuan rumah Olimpiade adalah tujuan akhir untuk rencana olahraga kami," tutur Menteri Olahraga Arab Saudi Pangeran Abdul Aziz bin Turki Al-Faisal, Agustus tahun lalu.
Di bawah kendali Putra Mahkota Mohammed bin Salman, olahraga dinilai jadi medium ampuh untuk memompa profil negara. Apalagi brand Saudi yang selama ini hanya dicirikan sebagai tambun kilang minyak, padang gurun dan tanah tandus dengan peternak biri-biri dan unta. Sebuah tanda khas atas negara tradisional.
Christopher Davidson, pakar ekonomi Timur Tengah mengungkapkan, investasi miliaran dolar yang digelontorkan Arab Saudi di bidang olahraga bertujuan mengembangkan industri hiburan sekaligus diversifikasi sumber pendapatan negara, mampu bersaing dengan Qatar dan Uni Emirat Arab, serta membangun image sebagai negara modern dan internasional.
“King Salman ingin mengalahkan kemakmuran serta pengaruh Qatar dan Abu Dhabi (Uni Emirat Arab). Dengan mengambil alih aset, terutama aset budaya, menjadi cara Saudi untuk memperkuat pengaruh di dunia,” kata Christopher Davidson kepada The Athletic.
Negara Terbuka
Jauh dari bayangan beberapa tahun lalu, Arab Saudi yang tertutup bagi seluruh dunia (pariwisata tidak diizinkan), memiliki hukum yang konservatif (Salafi-Wahabi), dan dari sisi ekonomi hanya mengantungkan pada minyak, kini menjelma menjadi negara modern dan terbuka, melepaskan diri dari ketergantungan pada minyak dan membangun masyarakat yang liberal dan terbuka.
Negara ini berubah dengan perubahan cepat yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang membawa harapan bagi 70% populasi anak muda menjadi kekuatan pendorong perubahan signifikan di Timur Tengah.
Visi Arab Saudi 2030 yang diluncurkan pada 2017 silam adalah peta jalan strategis bagi Kerajaan Saudi menuju masa depan yang berkelanjutan secara ekonomi, di mana warga dan penduduknya menikmati hak yang sama dan standar hidup yang tinggi. Visi Saudi 2030 mendiversifikasi ekonominya dengan mengembangkan sektor layanan publik seperti kesehatan, pendidikan, infrastruktur, hingga pariwisata.
Visi 2030 juga menjadi jalur reformasi yang signifikan guna memberikan hak-hak hukum penuh kepada perempuan, membuka negara untuk pariwisata dan investasi asing, berinvestasi dalam energi terbarukan, dan mempromosikan toleransi terhadap agama-agama lain.
Editor: Muhammad Zunus


