Banjarnegara, Arina.id — Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, Arifah Choiri Fauzi, mengajak seluruh pengasuh pesantren untuk bersama-sama mewujudkan lingkungan pondok pesantren yang aman, bebas kekerasan, serta menjunjung tinggi nilai pendidikan dan kasih sayang bagi para santri.
Ajakan tersebut disampaikan saat membuka Halaqah Interaktif Pengasuh Pesantren Putri se-Jawa Tengah dan Pelatihan Musyrifah Se-Karesidenan Banyumas di Pendapa Dipayudha Adigraha, Banjarnegara, Jawa Tengah, Minggu (10/5/2026).
“Mari bersama-bersama kita wujudkan pondok pesantren yang aman, bebas kekerasan, menjunjung tinggi nilai pendidikan dan kasih sayang. Santri selama 24 jam berada dalam pengasuhan pesantren, bukan bersama orang tuanya, sehingga menjadi tanggung jawab bersama untuk memastikan mereka tumbuh dalam lingkungan yang sehat dan aman,” kata Menteri.
Menurut Arifah, terdapat empat pilar utama keamanan santri yang harus menjadi perhatian seluruh pengelola pesantren, yakni aman secara jasmani, aman kehormatan, aman perasaan dari perundungan (bullying), serta nyaman dalam belajar.
“Santri harus terlindungi secara fisik, terjaga martabat dan kehormatannya, tidak mengalami tekanan psikis akibat bullying, dan mendapatkan ruang belajar yang nyaman agar tumbuh menjadi generasi unggul,” tegas Arifah.
Penguatan Sistem Perlindungan Santri
Ketua RMI PWNU Jawa Tengah, KH Ahmad Fadlullah Turmudzi, mengatakan halaqah tersebut menjadi langkah konkret memperkuat sistem perlindungan santri dari dalam lingkungan pesantren.
Menurutnya, pengasuh pesantren putri memiliki posisi strategis sebagai penjaga marwah pesantren sekaligus pembuat sistem yang memastikan pendidikan berjalan dalam koridor kasih sayang dan keadilan.
Forum tersebut juga menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan pengasuh pesantren, advokat perlindungan anak, dan akademisi psikologi guna memperkuat kapasitas musyrifah dalam mendampingi santri secara profesional.
Peserta mendapatkan materi terkait implementasi Peraturan Menteri Agama Nomor 73 Tahun 2022 tentang Pesantren Ramah Anak, pemahaman Undang-Undang Perlindungan Anak, pencegahan kekerasan seksual, hingga pelatihan konseling dasar dan deteksi dini persoalan psikologis santri.
Pesantren Harus Siapkan Santri Hadapi Zaman
Bupati Banjarnegara, Amalia Desiana, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan menjadikan Banjarnegara sebagai tuan rumah kegiatan tersebut. Ia menilai pesantren memiliki peran besar dalam membentuk karakter generasi bangsa.
“Pesantren memiliki peran besar dalam membentuk karakter generasi bangsa. Karena itu, menciptakan lingkungan pesantren yang aman dan ramah anak adalah investasi masa depan yang sangat penting,” katanya.
Menurut Bupati, pesantren juga perlu membekali santri dengan ilmu terapan agar mampu menjawab kebutuhan zaman tanpa kehilangan identitas kesantriannya.
“Pesantren tidak hanya mendidik ilmu agama, tetapi juga ilmu terapan. Lulusan pesantren harus punya nilai lebih, mampu menjawab kebutuhan zaman tanpa kehilangan jati diri santrinya,” kata Bupati.
Ia juga menegaskan bahwa perempuan bukan pesaing kaum pria, melainkan tiang utama kehidupan sekaligus mitra strategis dalam membangun generasi masa depan.
“Perempuan bukan pesaing, tetapi tiang utama dan mitra dalam kehidupan dan mitra. Karena itu perjuangan menghadirkan pesantren sebagai rumah yang nyaman dan aman bagi santri harus kita lakukan bersama,” ujarnya.
Pemprov Jateng Dorong Beasiswa untuk Santri dan Ustadzah
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, mengatakan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia pesantren melalui program beasiswa pendidikan tinggi.
“Di lingkungan pondok pesantren juga tersedia program peningkatan SDM melalui beasiswa S1, S2 hingga S3 ke Timur Tengah bagi ustazah maupun santri, dengan harapan setelah selesai menempuh pendidikan mereka kembali mengabdi dan membangun pondok pesantrennya masing-masing,” kata Wagub.
Kegiatan yang diprakarsai Rabithah Ma’ahid Islamiyah PWNU Jawa Tengah ini diikuti sekitar 350 peserta, terdiri atas 250 pengasuh pesantren putri dari seluruh Jawa Tengah dan 100 musyrifah dari wilayah Karesidenan Banyumas.
Forum mengusung tema Dari Pesantren untuk Pesantren: Membangun Sistem Perlindungan Santri Berbasis Nilai Pesantren di Jawa Tengah.
Di akhir kegiatan, peserta merumuskan rekomendasi kebijakan serta mendeklarasikan komitmen bersama pembentukan Satuan Tugas Perlindungan Santri di masing-masing pesantren sebagai langkah nyata mewujudkan pesantren ramah anak dan perempuan di Jawa Tengah.
Editor: Kendi Setiawan


