Lucinta Luna tidak hanya melakukan banyak operasi untuk membuat dirinya menjadi wanita seutuhnya, baru-baru ini ia juga mengungkapkan kepada publik bahwa dirinya hamil bayi kembar: Baby Salmon dan Baby Octopus. Tentu saja klaim kehamilan transgender kelahiran 1989 ini menuai respons beragam.
Praktisi di bidang Hak Disabilitas Psikososial, Agus Hasan Hidayat mengatakan bahwa kemungkinan besar tindakan yang dilakukan oleh Lucinta merupakan bagian dari pekerjaan.
“Kemungkinan besarnya adalah itu untuk keperluan pemberitaan atau keperluan dia untuk eksistensi di dalam dunia hiburan,” ungkap Agus kepada Arina.id pada Jumat (29/9/2023).
Agus menjelaskan, ada gangguan jiwa yang berkaitan dengan tindakan seseorang yang meyakini sesuatu yang tidak sesuai dengan realitas. Gangguan tersebut dinamakan dengan delusional. Akan tetapi dalam hal ini tindakan Lucinta tidak ada kaitannya dengan kesehatan mental yang terganggu atau delusi.
“Delusi itu meyakini sesuatu yang bukan pada realitasnya atau tidak sesuai pada faktanya. Nah kalau dalam konteks ini, itu keliatannya memang bukan mengacu kepada gangguan kejiwaan, tapi kepada kebutuhan publisitas atau pemberitaan untuk bertahan di industri hiburan,” kata Agus.
“Bukan tidak mungkin, tapi kemungkinan besarnya (soal publisitas),” tambahnya.
Sambil memberi contoh, Ketua Yayasan Remisi ini mengatakan bahwa ketika seseorang berbohong dan mengada-ngada, tindakannya tidak dapat langsung didiagnosis sebagai tindakan seseorang yang tengah delusi. Sebab, untuk mengetahui seseorang yang mengalami delusi atau tidak, perlu dilakukan tes oleh pakarnya.
“Jadi orang berbohong pada sosial media untuk menjadi topik pembicaraan, itu belum tentu bisa dikatakan delusional karena delusional itu harus dengan pemeriksaan psikologis,” ujar dia.
Sebagai seorang transgender, Lucinta tidak jarang menerima cibiran dan hujatan yang diungkapkan masyarakat kepadanya. Menurut Agus, mengklaim bahwa dirinya hamil bukan merupakan respons dari tanggapan negatif publik terhadapnya.
“Mekanismenya dia untuk merespons atau menangkis itu supaya tidak terjadi, dengan dia mengklaim hamil kayaknya itu bukan. Justru, malah fenomenanya keliatannya kalau di dunia hiburan Indonesia, makin di iya-iyain gitu kan. Artinya, makin banyak dicibir ‘ya sudah gua bikin saja begini lagi’,” ucapnya.
“Ya biar dia makin ada di pemberitaan lagi, kemungkinannya kayak gitu,” imbuhnya.
Ambisi Kewanitaan Lucinta Luna
Lucinta Luna sebagai transgender yang kini berprofesi sebagai selebriti internet membagikan kisahnya ketika ia memutuskan untuk melakukan operasi kelamin. Diceritakan bahwa dirinya dulu bekerja sebagai tunasusila. Hingga suatu saat ia bertemu dengan aktor yang dikaguminya melalui aplikasi dating.
"Dikarenakan gue jatuh cinta sama seorang aktor," ungkap Lucinta ketika ditanya alasan berganti kelamin dalam YouTube Curhat Bang Denny Sumargo pada Rabu (28/07/2021).
Lucinta selalu beralasan sedang datang bulan ketika diajak berhubungan badan dengan aktor tersebut. Selebriti itu pun memutuskan untuk melakukan operasi kelamin. Lebih lanjut, dia mengatakan, butuh waktu tiga bulan agar alat reproduksinya pulih pasca operasi. Nahasnya, ia tidak berakhir dengan aktor yang diidolakannya itu.
Walau demikian, Lucinta tetap melakukan upaya transformasi menjadi seorang perempuan atas keinginannya sendiri. Dirinya kerap melakukan operasi, mulai dari wajah, jakun, payudara, rahim hingga tulang rusuk.
"Iya bagi aku tuh operasi itu suatu hal yang makanan aku karena kan orang banyak ya ingin membahagiakan dirinya dengan cara shopping, dengan cara beli mobil lah beli tas lah. Kalau aku cara membahagiakan diri aku dengan cara operasi," katanya dalam YouTube TS Media.
Pada suatu kesempatan, Lucinta membagikan potret hasil operasi plastiknya di akun instagramnya.
"Alhamdulillah Ratu udah sehattt nakkk anakkkk … sekarang udah jadi seutuhnyaaaa 😘😇🥰❤️," tulisnya pada Rabu (20/7/2022).
Ungakapan tersebut selaras dengan pernyataan seksolog Boyke Dian Nugraha, atau yang lebih akrab dipanggil dokter Boyke, dalam YouTube Abraham Silaban TV. Menanggapi operasi plastik yang dilakukan oleh Lucinta Luna, seksolog itu menjelaskan bahwa Lucinta Luna memiliki jiwa wanita, akan tetapi tubuhnya laki-laki.
“Seakan-akan jiwa itu terperangkap dalam jasmani yang salah. Karena dia jiwanya wanita, maka dia ingin selalu berusaha untuk menjadi wanita yang perfect termasuk di antaranya adalah dia melakukan operasi kelamin,” ucapnya.
Mengutip American Psychological Assosiation, transgender adalah istilah yang mengacu pada identitas gender yang berbeda dari jenis kelamin yang dimiliki saat lahir. Walter Bockting, Profesor Psikologi Medis mengungkap, tidak semua individu transgender melakukan transisi. Transisi ini merupakan perubahan peran transgender dengan mengidentifikasi diri sebagai bagian dari lawan jenis. Ada upaya transisi yang dilakukan individu transgender dengan terapi hormon atau operasi untuk membuat tubuh menjadi lebih feminin atau maskulin. Ada juga upaya transisi yang dilakukan dengan menampilkan diri di waktu-waktu tertentu. Misal, transpuan (sebutan bagi laki-laki yang bertransformasi menjadi perempuan, dan transpria sebaliknya) hanya akan berbaur dengan perempuan lainnya. Dengan kata lain, setiap transgender memiliki cara masing untuk melakukan transisi dan mungkin membutuhkan intervensi medis agar memiliki peran gender yang nyaman.
Sebagian transgender mengungkapkan dirinya ketika di usia muda, sebagian lainnya mengungkapkan identitas transgendernya ketika di usia lanjut. Belakangan ini, tindakan tersebut lebih banyak dilakukan oleh muda-mudi daripada orang tua. Hal ini mungkin disebabkan oleh semakin banyaknya keberagaman gender yang terlihat dan meningkatnya penerimaan masyarakat. Akan tetapi ada juga generasi muda yang memutuskan untuk menyembunyikan identitas transgendernya karena alasan rasa tidak siap untuk mengungkap diri.
Bockting menyebut, ada hal-hal yang perlu ditangani ketika memutuskan untuk mengungkap diri ke masyarakat terkait identitas transgender. Yang pertama adalah kesenjangan dalam kesehatan mental. Dalam konteks ini, seorang transgender lebih rentan terhadap gejala depresi dan kecemasan yang disebabkan oleh tekanan sosial sebagai kaum minoritas.
Yang kedua, perlunya menegaskan identitas gender. Proses ini membutuhkan keberanian dan pemahaman terhadap diri sendiri dan orang-orang terdekat. Sebab, untuk mengungkap bahwa diri adalah transgender, diperlukan dukungan dari diri sendiri dan orang-orang di sekitar untuk membawa pada perubahan nyata. Yang terakhir, membutuhkan peran psikolog. Psikolog dapat membantu individu transgender mengeksplorasi dan menegaskan identitas gender, baik pada tingkat individu, antarpribadi, atau sosial/komunitas. Selain itu, psikolog juga membantu individu transgender dalam pemulihan kesehatan dari dampak negatif stigma sosial.
Faktor-faktor yang Memengaruhi Seseorang Berperilaku Seperti Lawan Jenis
Dokter Boyke mengatakan, semua kelainan atau penyimpangan seksual bersifat kompleks. Adapun penyebabnya dapat berasal dari faktor genetik atau faktor lingkungan.
“Mulai faktor gennya ada, faktor di dalam kandungan ada. Mungkin dia makan hormon pada waktu itu atau terjadi perubahan-perubahan hormon di dalam tubuh ketika ia dikandung. Kekia dia lahir, apakah proses persalinannya berjalan dengan lancar, apakah di-vacum, apakah lama pecah ketuban. Kemudian juga apakah di perjalanan persalinannya juga lama sehingga ada gangguan di otaknya, bisa juga, setelah dia lahir, 5 tahun balitanya itu gimana, apa dia mendapat kekerasan, ataukah dia menyusui cukup waktu, kasih sayang dari orang tuanya cukup, kemudian pra-pubertas, dan pubertas,” jelasnya.
Mengutip tempo.co, Kasandar Putranto, Psikolog Keluarga menyebutkan secara lebih spesifik faktor yang dapat memengaruhi seseorang berperilaku seperti lawan jenis.
A. Faktor kromosom
Faktor kromosom adalah faktor genetik atau faktor bawaan sejak lahir yang akan memengaruhi tingkah laku seseorang berdasarkan kromosomnya. Misalnya, laki-laki dengan sindrom klinefelter, yaitu kelainan genetik pada laki-laki yang disebabkan oleh kelebihan kromosom X. Umumnya, laki-laki hanya memiliki kromosom seks XY, akan tetapi penderita sindrom klinefelter memiliki kromosom XXY sehingga memungkinkan penderita berperilaku seperti perempuan.
B. Faktor neuropsikologis
Faktor neuropsikologis adalah faktor yang dipengaruhi oleh lingkungan dan psikologis seseorang. Normalnya, seseorang akan merasa tidak nyaman dan tertekan serta merasa ada yang salah dengan tubuhnya. Dengan demikian, lingkungan dan psikologis seseorang menjadi salah satu pendukung seseorang memutuskan menjadi transgender.
C. Faktor hormonal
Serupa tapi tak sama, faktor hormonal mirip dengan faktor kromosom, keduanya sama-sama faktor genetik atau faktor bawaan. Namun, faktor hormonal yang ada dalam diri seseorang disebabkan oleh ketidakseimbangan hormon. Hal ini juga dapat mengakibatkan seseorang berperilaku tidak sesuai dengan realitas fisiknya.
Seseorang yang menyadari bahwa ada yang salah dengan identitas gendernya, kemudian memutuskan menjadi transgender, tidak serta merta dapat mengajukan operasi kelamin. Ada tahapan-tahapan yang perlu dilalui oleh seorang transgender, yakni dengan melakukan tes-tes oleh psikiater atau ahli kejiwaan mengetahui jati diri individu tersebut.
“Ini bener enggak sih jiwanya wanita? bener enggak sih terperangkap dalam tubuh pria?' Nah dengan tes-tes tersebut akhirnya bisa diputuskan,” ujar dokter Boyke.
Berkaitan dengan kasus yang dialami oleh Lucinta Luna, berarti hormonnya didominasi oleh hormon testosteron. Dengan demikian, upaya-upaya yang dilakukan adalah menyuntikkan hormon untuk memperbesar payudara, mematikan hormon testosteron, mengoperasi jakun hingga mengganti kelamin. Secara kesehatan, dipastikan adanya risiko operasi yaitu, pendarahan, infeksi, dan kematian.
“Selama operasi itu dilakukan oleh yang dokter yang expert, dokter yang bedah memang bedah kelamin dan disertai dengan dokter-dokter lainnya untuk mendampingi pasca-operasi tersebut, biasanya fine-fine saja,” jelas dokter Boyke.
Ia juga menyebutkan hal lain yang perlu dipertimbangkan, yaitu kemauan yang kuat, hasil tes kejiwaan dari para psikolog atau psikiater, dan keberanian untuk melakukan operasi tersebut. Terkait dengan keinginan untuk kembali ke gender semula, hal tersebut mungkin saja terjadi.
“Dalam hidup itu kan namanya kondisi-kondisi itu kadang-kadang secara mengejutkan 'duh gua nyesel nih udah jadi perempuan, gua pengen lagi jadi laki-laki'. Nah, tetapi kan udah sulit untuk diubah kembali.” Sebab, katanya, membuat alat kelamin perempuan lebih mudah daripada membuat alat kelamin laki-laki.
Editor: Muhammad Zunus


