Jakarta, Arina.id - Hari ini, Selasa 17 Juni 2025, kurs atau nilai tukar rupiah ke dolar masih terus terkonsolidasi meskipun pagi tadi sempat melemah Rp 16.299 per dolar Amerika Serikat (AS) dari hari kemarin Rp 16.265 per dolar AS. Namun siang ini kurs menguat lagi ke level Rp 16.262 per dolar AS.
Kondisi ini bisa dibilang merupakan efek dari eskalasi konflik yang meluas antara Israel dan Iran. Demikian disampaikan Presiden Direktur PT Doo Financial Futures Ariston Tjendra. Ia memprediksi kurs akan berkonsolidasi di kisaran Rp16.200-Rp16.300 per dolar AS.
"Nilai tukar rupiah belum bergerak kemana-mana, masih berkonsolidasi di kisaran Rp16.200-Rp16.300. Pasar masih menunggu perkembangan di Timur Tengah, konflik Israel-Iran. Tidak ada eskalasi yang membuat pelaku pasar tenang dan kembali masuk ke aset berisiko," katanya seperti dikutip dari ANTARA.
Lalu kenapa yang perang Iran vs Israel, tapi gejolaknya sampai ke Indonesia?
Menurut Ariston, para pelaku pasar masih mewaspadai perkembangan konflik ini sehingga kemungkinan nilai tukar dolar AS masih bergerak di kisaran yang sama. Dolar AS, kata dia, masih terbuka untuk menguat lagi terhadap nilai tukar lainnya karena potensi eskalasi konflik dan juga negosiasi tarif yang berpotensi deadlock lagi.
Berdasarkan faktor-faktor di atas, nilai tukar rupiah masih ke arah Rp16.300 per dolar AS dengan potensi support di kisaran Rp16.200 per dolar AS. Apabila konflik ini semakin meluas dan berlangsung panjang, pelaku pasar dipastikan akan mencari aset aman dan kurs rupiah bisa balik melemah ke Rp16.600 per dolar AS.
"Timur Tengah ini produsen minyak mentah, harga minyak bisa naik lagi, harga komoditas lain juga bisa melonjak. Pergerakan logistik bisa terhambat, inflasi naik, ekonomi global goyang," kata Ariston.
Situasi yang demikian itu akan memengaruhi pasar global dan secara langsung atau tidak langsung akan memengaruhi pasar di dalam negeri. Pasar keuangan akan merasakan dampak, salah satunya memengaruhi pilihan para pelaku pasar untuk memilih aset paling aman.
Sebelumnya, eskalasi perang antara Iran dan Israel dimulai pada Jumat, 13 Juni 2025, ketika angkatan bersenjata Israel meluncurkan Operasi Rising Lion berskala besar, yang menyerang target-target militer Iran dan lokasi-lokasi program nuklir. Angkatan udara Israel melancarkan beberapa gelombang serangan di berbagai wilayah Iran, termasuk Teheran, tempat sejumlah pejabat tinggi militer Iran tewas.
Sebagai tanggapan, Iran melancarkan Operasi True Promise 3 terhadap fasilitas militer Israel. Akibat eskalasi perang yang malau ini, total 224 warga Iran dilaporkan meninggal dunia, sementara akibat dari serangan balasan Iran, dilaporkan sebanyak 14 warga Israel mati dan ratusan lainnya mengalami luka-luka.
Akibat perang ini negosiasi nuklir antara Iran dan Amerika juga dikabarkan deadlock. Iran mengatakan tidak akan melakukan negosiasi selama Israel masih terus menyerang negaranya. Meskipun, Amerika menegaskan tidak ikut-ikutan dalam serangan yang dilakukan Tel Aviv ke Teheran tersebut.
Editor: Muhammad Taufiq


