Arina.id - Ibarat kata pepatah lama "menepuk air didulang, terpercik ke muka sendiri", begitulah nasib Israel kini. Negeri Zionis itu menyerang sejumlah kota di Iran pada Jumat, 13 Juni 2025, dengan dalih membebaskan kawasan (Timur Tengah) dari ancaman Iran yang sedang mengembangkan senjata nuklir secara rahasia.
Padahal saat itu, badan tenaga atom Internasional (IAEA) bentukan PBB sudah menyatakan kalau negeri para Mullah tersebut tidak sedang mengembangkan senjata nuklir. Namun Israel di bawah kepemimpinan Benjamin Netanyahu yang sudah gelap mata bergeming dan memilih tetap menyerang Teheran sambil memprovokasi Amerika Serikat (AS) agar terlibat dalam serangan.
Iran pun membalas menghujani Tel Avi dengan ratusan rudal-rudalnya. Lalu terjadilah perang selama 12 hari antara Israel vs Iran--sebelum gencatan senjata pada Selasa, 24 Juni 2025. Amerika juga sempat terprovokasi dengan bujuk raju Netanyahu. Kedua serdadu negeri sekutu itu membombardir tiga situs nuklir Iran: Natanz, Fordow, dan Isfahan.
Belakangan terungkap, di tiga situs nuklir tersebut memang tidak sedang mengembangkan senjata pemusnah massal. Dan sekarang, setelah gencatan senjata, giliran Iran menyerukan agar kawasan Timur Tengah bebas dari senjata nuklir termasuk milik Israel--alasan sama yang dipakai Netanyahu menyerang Iran sebelumnya.
Dikutip dari sputnik, seruan agar kawasan middle east bebas dari senjata nuklir ini disampaikan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Rabu, 25 Juni 2025, dalam percakapan telepon dengan Presiden Mesir Abdel Fattah Sisi. "Iran siap bekerja sama untuk meningkatkan keamanan dan memperkuat stabilitas dan perdamaian di kawasan tersebut," kata Peseshkian.
"Kami setuju untuk menciptakan kawasan yang bebas dari senjata nuklir dan senjata pemusnah massal, tentu saja, dengan syarat bahwa kawasan itu juga mencakup Israel, karena tindakan negara ini baru-baru ini tidak memberikan ruang bagi kepercayaan apa pun padanya," lanjut Presiden Iran.
Sebelumnya, situasi di Timur Tengah meningkat tajam pada Jumat, 13 Juni 2025, ketika Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran dan menuduhnya melaksanakan program nuklir militer rahasia. Israel menyatakan program senjata nuklir Iran mengancam keamanan kawasan. Teheran membalas dengan menyerang target militer di dalam Israel.
Pada tanggal 22 Juni 2025, pesawat bomber AS menyerang tiga lokasi nuklir Iran — Natanz, Fordow, dan Isfahan. Kemudian pada Senin, 23 Juni 2025, Iran melancarkan serangan rudal di Pangkalan Udara Al Udeid milik AS di Qatar sebagai langkah tanggapan atas serangan AS tersebut.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan pada Senin malam bahwa Israel dan Iran telah sepakat untuk melakukan gencatan senjata yang, setelah 24 jam, akan menjadi akhir resmi dari "perang 12 hari." Pada Selasa 24 Juni 2025, Trump mengatakan bahwa gencatan senjata antara Iran dan Israel kini berlaku, dan mendesak kedua belah pihak untuk tidak melanggarnya.
Sebelumnya, perwakilan tetap Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, pada Minggu, 22 Juni 2025, juga menyerukan agar fasilitas nuklir Israel ditempatkan di bawah pengawasan IAEA.
"Dewan Keamanan PBB harus segera bertindak berdasarkan Bab 7 Piagam PBB dan memperbaiki ketidakadilan dan pelanggaran berat tersebut dengan: Menempatkan fasilitas nuklir Israel di bawah perlindungan (IAEA)," kata Iravani dalam pertemuan PBB.
IAEA sebelumnya tidak berkutik membela Iran. Hal itu memicu kekecewaan negeri para Mullah sebab rekomendasi IAEA sama sekali diabaikan oleh Israel dan Amerika. Iran kemudian berencana memutus hubungan dengan padanya atom milik PBB tersebut.
Editor: Muhammad Taufiq


