Jakarta, Arina.id — Kelompok terbang (kloter) 95 Embarkasi Solo yang telah tiba di Tanah Air pada Jumat, (11/7/2025) menandai berakhirnya seluruh operasional penyelenggaraan ibadah haji tahun 2025/1446. Di tengah ucapan syukur, Menteri Agama Narasuddin Umar mendeklarasikan kesuksesan penyelenggaraan haji tahun ini.
Berdasarkan laporan resmi Kementerian Agama, operasional haji pada 2025 berlangsung selama 72 hari. Terhitung sejak dimulainya pada 1 Mei hingga 11 Juli 2025.
Total 203.149 jemaah Indonesia diterbangkan dalam 525 kloter. Pemberangkatan gelombang pertama sejumlah 266 kloter mendarat di Bandara Mohammad bin Abdul Aziz, Madinah. Sisanya melalui Bandara King Abdul Aziz, Jeddah sebanyak 259 kloter.
Sementara pada fase pemulangan, 101.339 jemaah yang tergabung dalam 260 kloter terbang ke Tanah Air melalui Bandara Internasional Jeddah. Sebanyak 101.274 jemaah pulang ke Indonesia dari Bandara Madinah.
“Alhamdulillah seluruh tahapan operasional haji 1446 H/2025 M sudah berjalan. Secara umum, penyelenggaran haji tahun ini berjalan sukses. Kita bersyukur, semua tantangan dan dinamika yang terjadi, bisa diatasi dengan baik oleh PPIH Arab Saudi,” kata Menag Nasaruddin Umar saat menyampaikan laporan penutupan operasional haji di Jakarta, Senin (14/7/2025).
“Jemaah Indonesia bisa mengikuti puncak haji di Arafah-Muzdalifah-Mina atau Armuzna, ada juga yang disafariwukufkan dan dibadalhajikan. Hari ini kita nyatakan operasional haji 2025 sudah berakhir,” tegas Menag.
Dijelaskan Menag, hingga penutupan operasional masih ada 40 jemaah haji Indonesia yang masih menjalani perawatan di rumah sakit Arab Saudi. Mereka akan tetap mendapat pendampingan dari Kantor Urusan Haji (KUH) pada KJRI di Jeddah.
Sementara itu, tersisa tiga jemaah belum ditemukan. Mereka adalah Nurimah Mentajim (Kloter 19 Palembang), Sukardi (Kloter 79 Surabaya), dan Hasbullah (Kloter 7 Banjarmasin). Ketiganya memiliki riwayat demensia, dan saat ini masih dalam proses pencarian.
Hingga akhir masa operasional, tercatat ada 447 jemaah haji Indonesia yang wafat, terdiri atas 435 jemaah haji reguler dan 12 jemaah haji khusus.
Layanan: Penginapan dan Transportasi
Kementerian Agama menyebut selama pelaksanaan haji 2025 telah menyediakan 312 hotel, terdiri 212 di Makkah dan 100 di Madinah. Jarak akomodasi atau hotel paling jauh di Makkah adalah 4,5 km dari Masjidil Haram. Sementara hotel di Madinah semuanya berada di wilayah Markaziyah, area terdekat yang mengelilingi Masjid Nabawi.
Distribusi makanan mencapai angka spektakuler. Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi telah mendistribusikan 15.537.589 boks makanan siap saji yang terbagi dalam 525 kloter.
Sementara di Madinah, ada 2.665.812 boks katering yang dibagikan pada gelombang I dan 2.396.667 boks katering didistribusikan pada gelombang II.
Pada fase puncak haji— berlangsung dari 7 – 13 Zulhijjah 1446 H atau 3 – 9 Juni 2025– lebih dari 3,7 juta boks makanan siap saji didistribusikan. Sebanyak 1.281.680 boks makanan (paket siap saji) didistribusikan di hotel jemaah untuk makan pagi, siang, dan malam pada 7 Zulhijjah, makan pagi pada 8 Zulhijjah, serta makan siang dan malam pada 13 Zulhijjah. Selain itu, ada 2.045.004 boks makanan (lauk siap saji) dan 468.400 boks makanan (paket siap saji) yang didistribusikan sejak di Arafah hingga Mina.
Terkait sistem transportasi, PPIH Arab Saudi menyiapkan ribuan bus untuk melayani jemaah haji Indonesia sejak dari pergerakan pertama mereka menuju Makkah Al-Mukarramah.
Ada tiga jenis layanan transportasi yang disiapkan, yaitu: bus antar kota perhajian, bus shalawat, dan bus Masyair.
Tercatat ada 2.574 armada yang digunakan untuk pergerakan jemaah haji gelombang I dari Madinah, Makkah, lalu Jeddah, serta 2.534 bus untuk mobilisasi jemaah haji gelombang II dari Jeddah, Makkah, lalu Madinah.
Selain itu, ada ribuan trip bus shalawat yang setia mengantar jemaah selama 24 jam dari hotel ke Masjidil Haram (pergi pulang). Walhasil, selama 42 hari pelayanan jemaah di kota Makkah (10 Mei - 1 Juni dan 10 Juni - 2 Juli.) total ada 12.193 bus yang dioperasikan untuk melayani jemaah haji Indonesia.
Jemaah Wafat: Angka Turun, tapi Tetap Tinggi
Kementerian Agama menyebut adanya penurunan jumlah jemaah wafat dibanding tahun lalu. Pada penyelenggaraan haji tahun ini, tercatat ada 447 jemaah yang wafat, turun dari 461 dibanding tahun 2024.
"Berdasarkan data Siskohatkes per 10 Juli 2025 pukul 16.00 WAS, tercatat 446 jemaah wafat. Angka ini menurun dibandingkan tahun 2024 yang mencatat 461 jemaah wafat," ungkap Kepala Bidang Kesehatan PPIH Arab Saudi Mohammad Imran.
Hal ini, menurut Imran menjadi salah satu pencapaian penting yang patut disyukuri. "Artinya, upaya preventif dan penanganan yang dilakukan selama haji menunjukkan hasil yang baik,” imbuhnya.
Selama 72 hari masa operasional haji, total 1.710 jemaah dirawat di Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS), dengan diagnosis terbanyak adalah pneumonia, diabetes melitus, dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK). Pelayanan kefarmasian juga tercatat mencapai 12.396 layanan, dengan penggunaan obat tertinggi adalah tablet flu dan batuk kombinasi.
Sementara itu, untuk KKHI Madinah selama operasionalnya telah memberikan layanan kepada 241 jemaah, baik untuk rawat jalan maupun rawat inap. Tiga penyakit terbanyak yang ditangani di KKHI adalah pneumonia, hipertensi, dan diabetes melitus.
Fasilitasi Badal Haji
Kementerian Agama juga menyiapkan 145 petugas badal haji jemaah wafat. Skema ini merupakan bentuk tanggung jawab pemerintah terhadap hak ibadah jemaah yang wafat sebelum menjalani rukun haji utama.
Hal ini mengacu UU dan juga Peraturan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 2021. Petugas juga mendapat sertifikat badal haji. Pemerintah menetapkan imbalan sebesar 2.500 riyal.

Safari Wukuf khusus Lansia
PPIH Arab Saudi tahun ini juga menggelar safari wukuf khusus lansia, risiko tinggi (Risti), dan disabilitas. Program ini diikuti oleh 477 jemaah dan didampingi 118 satgas. Berdasarkan Keputusan Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Nomor 137 Tahun 2025 tentang Pelaksanaan Layanan Khusus Jemaah Haji Lansia, kriteria peserta program Safari Wukuf Khusus Lansia. Di antaranya, jemaah Haji Lansia dan Disabilitas yang tidak mandiri (tirah baring) dalam melakukan aktivitas sehari – hari dalam memenuhi kebutuhan dasar (makan, minum, BAK, BAB, mandi, mobilisasi)
Jemaah Haji Lansia dan Disabilitas yang tidak bisa berjalan/pengguna kursi roda. Kemudian jemaah haji lansia dan disabilitas yang memiliki komorbid penyakit kronis seperti Jantung, Hipertensi, Stroke (sedang – berat).
Jemaah Haji Lansia dan Disabilitas yang pulang perawatan dari KKHI / RS Arab Saudi dengan kondisi masih lemah / belum pulih. Dan Jemaah Haji Lansia dan Disabilitas sesuai dengan kriteria risiko tinggi yang ditentukan oleh petugas Kesehatan Kloter / Sektor.
Penurunan biaya ibadah haji
Pada penyelenggaraan ibadah haji tahun ada penurunan biaya dari rerata BPIH 2024 sebesar Rp 93, 4 juta menjadi sebesar 89,4 juta. Hal ini berdasarkan Keputusan Rapat Kerja Komisi VIII bersama Menteri Agama dan Kepala Badan Penyelenggara Haji (BPIH).
BPIH terdiri atas dua komponen. Pertama, komponen yang dibayar langsung oleh jemaah haji atau disebut Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) sebesar 55.4 juta. Kedua, komponen nilai manfaat yang bersumber dari hasil optimalisasi dana setoran awal jemaah haji senilai 33.9 juta.
Pembayaran DAM lewat Adahi dan BAZNAS
Salah satu terobosan terbaru dari penyelenggara ibadah haji 2025 yakni tidak membayar dam atau denda secara langsung di rumah pemotongan hewan (RPH) yang ada di Kota Makkah dan sekitarnya.
Pembayaran dam dilakukan melalui jalur resmi yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia melalui BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) dan Pemerintah Arab Saudi melalui agen resmi Adhahi seperti kantor pos, Bank Ar-Rajhi, atau mitra resmi lainnya yang telah ditunjuk oleh pemerintah Saudi. Besaran dam sendiri sebesar SAR 570 atau sebesar minimal Rp. 2.520.000.
Keputusan ini tertuang dalam Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 437 Tahun 2025 tentang Pedoman Tata Kelola Dam/Hadyu, serta SK Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Nomor 162 Tahun 2025 yang mengatur harga dan rekening pembayaran dam untuk tahun ini.
Tiga maskapai
Penyelenggaraan haji tahun ini juga menggunakan tiga maskapai yaitu Garuda Indonesia, Saudi Airlines dan Lion Mentari Airlines.
Garuda Indonesia melayani sekitar 90.933 jamaah haji yang berasal dari embarkasi Aceh, Medan, Solo, Balikpapan, Makassar, Lombok dan sebagian embarkasi Jakarta Pondok Gede.
Sementara, Saudi Airlines melayani sekitar 102.182 jamaah haji yang berasal dari embarkasi Batam, Palembang, Jakarta atau Bekasi, Kertajati, Surabaya dan sebagian embarkasi Jakarta Pondok Gede.
Adapun maskapai Lions Mentari Airlines melayani sebanyak 11.762 jamaah yang berasal dari embarkasi Padang dan Banjarmasin.
Delapan Syarikah
Sejak 2022, Arab Saudi secara bertahap mengubah wajah penyelenggaraan ibadah haji. Bukan hanya dalam hal teknologi dan logistik, namun juga dalam kerangka pengelolaan jemaah secara menyeluruh. Kebijakan paling mencolok adalah peralihan sistem layanan dari yang semula berbasis wilayah (maktab), menjadi berbasis perusahaan swasta penyedia layanan atau yang dikenal sebagai syarikah.
Perubahan ini bukan sekadar administratif. Ia membawa konsekuensi besar terhadap pola manajemen jutaan jemaah dari berbagai negara—termasuk Indonesia yang setiap tahun mengirim jemaah dalam jumlah terbesar di dunia. Tahun 2025 menjadi momentum penting di mana Indonesia tidak lagi bergantung pada satu entitas tunggal, tetapi menjalin kerja sama dengan delapan syarikah sekaligus.
Pada musim haji 2025, Kemenag menetapkan kerja sama dengan delapan syarikah, yaitu: Al Bait Guests, Rakeen Mashariq, Sana Mashariq, Rehlat & Manafea, Al Rifadah, Rawaf Mina, MCDC, dan Rifad.
Delapan entitas ini menjadi mitra langsung dalam penyelenggaraan layanan operasional jemaah haji Indonesia. Kementerian Agama menegaskan bahwa kebijakan ini dilakukan demi mencegah dominasi satu pihak dan menciptakan iklim kompetitif yang sehat di antara penyedia layanan. Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag memastikan bahwa penunjukan delapan syarikah ini melalui proses negosiasi dan evaluasi profesional.
Pindah Pengelola
Tahun ini bisa jadi adalah tahun terakhir Kementerian Agama menyelenggarakan haji. Presiden telah mengesahkan Perpres No. 154 Tahun 2024 yang membentuk Badan Penyelenggara Haji (BPH), sebuah lembaga baru yang akan mengambil alih tanggung jawab besar ini.
Penyelenggaraan haji 2025 membawa banyak kemajuan teknis, namun juga menyisakan lubang-lubang yang belum dijahit rapi. Dengan transisi menuju BPH, pemerintah diharapkan tidak hanya memindahkan wewenang, tetapi juga mentransfer pengetahuan, meningkatkan pelayanan, serta membuka ruang partisipasi publik secara lebih luas dalam penyelenggaraan ibadah terbesar umat Islam ini.
Editor: Muhammad Zunus


