Arina.id — Hujan di malam Minggu (23/11/2024) tak membuat mereka yang datang ke Stadion Manahan Solo bubar. Sebaliknya, mereka tak bergeming sekalipun tetesan air hujan menerpa tubuh. Lantunan salawat, yang membawa kesejukan, adalah sebabnya.
Malam itu, Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf menggemakan salawat untuk mengetuk pintu langit agar persatuan, kesatuan, dan kedamaian terjadi di Solo. Pesan ini disampaikannya dalam acara “Salawat dan Doa Bersama” yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) Solo. Dalam beberapa hari belakangan, Habib Syech memang berkeliling ke berbagai kota dan pelosok desa untuk mensosialisasikan pentingnya pilkada damai.
“Saya tak dongakke sing keno banyu udan, rejekini akeh sebanyak tetesan air hujan. (Saya doakan, siapa yang terkena tetesan air hujan, rezekinya banyak sebanyak tetesan air hujan). Yang terkena air hujan mudahan-mudahan dosanya diampuni sebanyak tetesan air hujan yang turun di malam ini,” ucapnya.
Seketika doa itu disambut gemuruh amin oleh ratusan jemaah salawat yang basah kuyup. Selanjutnya mereka tetap mantap bersalawat dengan riuh. Mereka duduk di tanah hanya beralaskan tikar dan tubuh yang dibungkus jas hujan plastik.
Semangat cinta yang mendalam terhadap Rasulullah dan Indonesia telah menjadikan Habib Syech dan jemaahnya menjadi manusia yang tak mengenal lelah untuk terus mendekat kepada Rasulullah Saw dengan cara bersawalat.
Dalam buku Hati Putih Habib Syech: Shalawat, Amalan, dan Inspirasi Hidupnya diceritakan bahwa Habib Syech memulai dakwah sejak 1980. Gaya komunikasi yang hidup dan sederhana, melalui senyuman dan sapaan-sapaan manis, serta salawat kerinduan kepada Rosulullah Saw, membuatnya diterima di mana-mana.
Di setiap pengajiannya selalu ramai. Mereka terdiri kalangan orang tua, kakek-nenek, muda-mudi hingga anak-anak menjadi satu dalam mejelis yang penuh berkah, seperti yang tergambar di lapangan Manahan tersebut.
Bersama Majelis Ahbabul Musthofa yang didirikan pada tahun 1998 di kampung Mertodranan, Solo, Habib Syech mengajak masyarakat untuk mengenal Rosulullah Saw lebih dekat. Menurut dia, Rasul tidak hanya dijadikan Nabi, tetapi harus dijadikan ritus teladan dalam kegiatan sehari-hari. Salah satunya melalui musik dan salawat.
Lagu-lagu Habib Syech seperti Syair Ijo-Ijo Benderani dan Lirik Syair Cinta Indonesia NKRI Harga Mati banyak digemari kalangan atas, kalangan bawah dan dari santri sampai pejabat. Lagu Habib Syech lahir dari arransemen berbahasa Arab, Indonesia dan Jawa. Dengan adanya variasi bahasa ini, pesan dari lagu-salawat tersebut menjadi indah tersampaikan kepada jemaah luas.
Karena itulah, lagu-lagu religi, salawat dan sosok dari Habib Syech tidak tergantikan keberadaannya. Rafiq, salah satu jemaah asal Sragen turut hadir dalam gelaran salawat tersebut. Bagi dia, salawat adalah cara sempurna untuk mengeskpresikan kecintaan kepada Nabi Saw.
“Saya sudah lama mengikuti salawat Habib Syech. Bersama teman-teman Sragen dari panggung ke panggung di manapun saya hadiri. Bagi saya pribadi lantunan salawat yang dibawakan Habib membantu menangkan hati,” ujar Rafiq.
Begitu pula dengan Dias, salah satu jemaah asal Solo turut mengungkapkan bahwa dirinya juga senang dengan pengajian Habib Syech. Menurut perempuan ini, Habib Syech tidak hanya menampilkan dentuman salawat yang menyita hati, tetapi juga mengajak masyarakat untuk memupuk toleransi dan mencintai persatuan dan NKRI.
“Saya bisa memetik pesan-pesan cinta dalam setiap lirik yang dibawakan Habib Syech. Sekalian saya juga seperti diingatkan untuk menjaga NKRI dari syair-syairnya,” ungkapnya sembari merapikan bajunya yang basah kuyup.
***
Menyambut pelaksanaan pilkada, bersama grup musik Ahbaabul Musthofa, Habib Syech datang menjadi penyejuk bagi riuh hidup yang kian memanas akibat kontestasi Pilkada dan Pilgub di Jawa Tengah.
Ulama kelahiran Solo, 20 September 1961, ini meminta warga untuk waspada terhadap potensi terjadinya konflik dan politik uang maupun bagi-bagi sembako jelang masa pencoblosan. Habib Syech juga mengajak warga untuk menciptakan Pilkada 2024 yang gembira, tidak saling mencaci dan menghina satu dengan yang lain.
“Mari pada 27 November kita pergi ke TPS masing-masing. Coblos siapa yang kalian pilih, silakan. Siapa pun yang terpilih nanti insyaallah mereka yang terbaik untuk Solo. Pilihlah dengan gembira bukan saling caci dengan lain. Jadilah kita manusia yang saling menghormati”, imbau Habib Syech.
Dia berharap pilkada 2024 bisa menjadi momentum bagi Kota Solo untuk menunjukkan kepada dunia bahwa masyarakat Solo adalah bisa memilih pemimpin dengan cara yang baik dan tidak saling menjelekkan.
“Ciptakan suasana aman, sejuk. Terus bangun akhlak kita bahwa Solo adalah masyarakat yang bermoral. Jadilah masyarakat yang cerdas. Pilihlah mereka yang punya program yang bisa membantu masyarakat,” pintanya.
Di kesempatan itu pula, Habib Syech meminta KH. Ibrahim Asfari, Imam Masjid Agung Surakarta, untuk memberikan wejangan kepada masyarakat Solo. Kiai Ibrahim lantas menyebutkan bahwa untuk menyongsong penyelenggaraan pilkada damai, masyarakat harus menyambutnya dengan keluhuran niat, kejernihan pikiran, lapang dada, kekuatan rohani dan batin, seperti yang dilakukan Habib Syech.
=============
Liputan ini terbit atas kerja sama Arina.id dengan LTN PBNU dan Direktorat Pendidikan Tinggi Agama Islam (PTKI) Kementerian Agama.
Agus Wedi
Penikmat kajian sosial dan Keagamaan
Editor: Fajar WH


