Dark
Light
Dark
Light

Mikroplastik dalam Air Hujan Jakarta Ancam Kesehatan Warga

Mikroplastik dalam Air Hujan Jakarta Ancam Kesehatan Warga

Jakarta, Arina.id-Fenomena ditemukannya mikroplastik dalam air hujan di Jakarta menandai fase baru pencemaran lingkungan yang berpotensi mengancam kesehatan manusia.

Kini, plastik bukan masalah lingkungan saja tapi juga masalah kesehatan manusia yang menembus ke dalam tubuh kita sendiri.

Temuan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan partikel plastik mikroskopis tersebut berasal dari serat sintetis pakaian, debu kendaraan, hingga sisa pembakaran sampah plastik.

Mikroplastik yang melayang di udara kemudian terbawa angin dan turun kembali bersama air hujan.

Dosen Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada Annisa Utami Rauf menyebutkan ancaman mikroplastik terhadap kesehatan manusia sangat besar.

Pada studi hewan, misalnya, partikel ini sudah ditemukan di beberapa organ dan berpotensi menyebabkan gangguan reproduksi.

Annisa menilai risiko paparan mikroplastik lebih tinggi di wilayah perkotaan yang padat penduduk. Aktivitas masyarakat yang masih bergantung pada plastik sekali pakai berkontribusi besar terhadap akumulasi partikel plastik di udara dan lingkungan. Kesadaran masyarakat untuk membatasi konsumsi plastik perlu ditingkatkan agar dampaknya dapat ditekan.

"Risikonya memang tinggi di kota besar seperti Jakarta dan Yogyakarta. Namun, upaya mengganti plastik dengan bahan ramah lingkungan sudah mulai terlihat di beberapa tempat, dan hal ini perlu terus didukung," kata Anisa dikutip Arina.id dari laman UGM, Senin (3/11/2025).

Gaya hidup praktis di kota membuat masyarakat sering tidak sadar terhadap bahaya tersebut. "Paparan paling tinggi biasanya dari makanan dan minuman yang dikemas plastik. Kebiasaan ini memang perlu diubah secara bertahap," tuturnya.

Kemasan dikonsumsi sehari-hari

Sumber utama paparan mikroplastik di kehidupan sehari-hari berasal dari kemasan makanan dan minuman berbahan plastik. Air dalam botol sekali pakai, wadah makanan panas, serta lapisan plastik pada produk makanan berpotensi menjadi media perpindahan mikroplastik ke tubuh manusia.

Penelitian dari University of Playmouth berjudul First evidence that plastic nanoparticles can accumulate in the edible parts of vegetables yang terbit dalam jurnal Environmental Research menunjukkan partikel plastik juga ditemukan pada sayuran. Butiran plastik berukuran lebih kecil dari sehelai rambut dapat menembus akar, daun, dan umbi tanaman.

Dalam uji coba terhadap lobak dalam sistem hidroponik, peneliti menemukan hampir 5% partikel plastik pada larutan awal tertahan di sistem akar. Dari jumlah itu, sekitar seperempatnya masuk ke akar berdaging yang dapat dimakan, sementara 10% terakumulasi di daun.

Direktur Institut Kelautan, Profesor Richard Thompson mengatakan," temuan ini seharusnya tidak mengejutkan – lagipula, dalam semua penelitian sebelumnya, kami telah menemukan polusi mikroplastik di mana pun kami mencarinya."

Penelitian yang sama diungkap Greenpeace dan Fakultas Kedokteran UI yang menemukan partikel mikroplastik di dalam tubuh manusia. Jenis mikroplastik yang banyak ditemukan adalah jenis PET yang sering ditemukan di kemasan air minum dan makanan siap saji.

Keberadaan mikroplastik juga ditemukan di atmosfer, bahkan pada air hujan dan awan, memperlihatkan bahwa siklus plastik telah menjangkau seluruh lapisan lingkungan. Riset di Jepang menunjukkan partikel mikroplastik ditemukan di awan, menandakan bahwa polusi ini telah bersifat global.

"Mikroplastik sudah menyebar di berbagai media lingkungan, termasuk udara dan awan. Kalau kita tidak menghentikan sumbernya, dampaknya bisa semakin luas," kata Annisa.

Butuh kesadaran kolektif

Tantangan terbesar dalam pengendalian mikroplastik, kata Annisa, terletak pada rendahnya kesadaran publik. Langkah sederhana seperti membawa tumbler, mengurangi kantong plastik, dan memilih wadah non-plastik bisa menjadi awal perubahan.

"Kita bisa mulai dari hal kecil seperti membawa botol minum sendiri atau menghindari kantong plastik saat berbelanja. Upaya kecil ini berkontribusi besar dalam menekan akumulasi mikroplastik di lingkungan," ujarnya.

Annisa juga menyoroti pentingnya tanggung jawab industri dalam pengelolaan limbah plastik. Produsen besar dinilai memiliki peran strategis untuk mengembangkan sistem pengembalian kemasan dan daur ulang produk.

"Produsen yang menghasilkan plastik semestinya punya program taking back trash. Pemerintah dan industri harus bekerja sama agar sampah tidak berakhir di tempat pembuangan akhir," tegasnya.

Annisa menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif mulai dari individu hingga pembuat kebijakan. Pemerintah daerah dapat mengambil langkah konkret dengan membatasi penjualan air minum dalam kemasan plastik di sekolah atau fasilitas publik. Pendidikan sejak dini juga penting untuk membentuk perilaku ramah lingkungan.

"Kesadaran harus dibangun dari diri sendiri dan lingkungan sekitar. Kalau sejak anak-anak sudah dibiasakan membawa botol minum sendiri, kita bisa berharap generasi berikutnya lebih peka terhadap isu plastik," Annisa memungkasi.


Editor: Muhammad Taufiq
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo