Jakarta, Arina.id – Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fahruddin Faiz, menjelaskan empat tipe kesadaran diri yang dapat membantu seseorang memahami karakter, mengenali keinginan pribadi, dan menyikapi pendapat orang lain.
Menurut Fahruddin Faiz, kesadaran diri tidak hanya berkaitan dengan kemampuan seseorang mengenali dirinya sendiri, tetapi juga bagaimana ia memahami pandangan orang lain terhadap dirinya. Kedua aspek tersebut penting untuk membentuk pribadi yang lebih terbuka dan mampu berkembang.
Mengutip The Fal Self Awareness Archetypes karya Tasayuri, Faiz menjelaskan, terdapat empat tipe kesadaran diri, yakni introspector, seeker, aware, dan pleaser. Keempatnya dibedakan berdasarkan tingkat kesadaran seseorang terhadap dirinya sendiri (internal self-awareness) dan lingkungan sosialnya (external self-awareness).
“Kesadaran itu ada yang diarahkan ke dalam pada diri kita, ada yang diarahkan keluar pada orang lain,” jelas Fahruddin sebagaimana dalam tayangan Ruang Sinau diakses Jumat (16/10/2026).
Tipe pertama adalah introspector, yakni orang yang memiliki kesadaran tinggi terhadap dirinya sendiri, tetapi rendah dalam memperhatikan pandangan orang lain. Orang dengan tipe ini cenderung mengenali karakter dan pendiriannya, tetapi kurang terbuka terhadap kritik maupun masukan dari lingkungan sekitarnya.
Menurut Fahruddin Faiz, sikap tersebut dapat menghambat perkembangan diri. Sebab, seseorang tidak cukup hanya memahami dirinya sendiri, tetapi juga perlu mempertimbangkan pandangan orang lain sebagai bahan evaluasi.
“Orang seperti ini nanti jadinya tidak berkembang, karena kadang-kadang masukan dari orang lain juga penting,” ujarnya.
Tipe kedua adalah seeker, yaitu orang yang masih berada dalam proses pencarian jati diri. Tipe ini memiliki tingkat kesadaran yang rendah, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap pandangan orang lain.
Akibatnya, orang dengan tipe seeker cenderung belum memahami keinginan dan karakter dirinya secara jelas. Pada saat yang sama, ia juga belum memiliki kepekaan yang kuat terhadap masukan dari lingkungan sosialnya.
Tipe ketiga adalah aware, yakni orang yang memiliki kesadaran tinggi terhadap dirinya sendiri sekaligus terbuka terhadap pendapat orang lain. Menurut Fahruddin, tipe ini menjadi kondisi yang perlu diupayakan karena seseorang mampu mengenali keinginan dan karakternya tanpa menutup diri dari kritik.
Dengan kesadaran tersebut, seseorang dapat mempertahankan prinsip pribadi sekaligus menjadikan pandangan orang lain sebagai bahan pertimbangan untuk memperbaiki diri.
Sementara itu, tipe keempat adalah pleaser. Tipe ini ditandai dengan tingginya perhatian terhadap pendapat dan harapan orang lain, tetapi rendahnya kesadaran terhadap keinginan diri sendiri.
"Orang dengan tipe pleaser cenderung berusaha menyenangkan orang lain agar diterima atau disukai. Mereka bahkan dapat mengabaikan kebutuhan dan keinginannya sendiri demi memenuhi harapan lingkungan," jelasnya.
Fahruddin Faiz mencontohkan, seseorang yang gemar mentraktir teman-temannya demi mendapatkan penilaian positif dapat menunjukkan kecenderungan tersebut apabila tindakannya lebih didorong oleh keinginan menyenangkan orang lain daripada pilihan yang benar-benar berasal dari dirinya.
Melalui penjelasan tersebut, Fahruddin Faiz mengajak masyarakat untuk mengenali kecenderungan masing-masing. Pengenalan diri menjadi penting agar seseorang tidak hanya terpaku pada penilaiannya sendiri, tetapi juga tidak terus-menerus menggantungkan keputusan pada pendapat orang lain.
Ia pun mengajak pendengar untuk merefleksikan tipe kesadaran diri yang paling mendekati karakter mereka, baik sebagai introspector, seeker, aware, maupun pleaser.
Editor: Kendi Setiawan


