Oleh Toto Suharto
Film Emak Ingin Naik Haji (EINH) yang rilis pada 2009 memotret bagaimana masyarakat Indonesia memiliki animo yang tinggi untuk melakukan ibadah haji ke Tanah Suci. Film ini paling tidak menjadi gambaran tentang kuatnya niat berhaji di kalangan masyarakat.
Dalam film ini, Emak yang diperankan oleh aktris Aty Canser Zein, merupakan sosok wanita yang berusia lanjut, namun memiliki ketabahan dan kesabaran yang kuat, serta niat yang besar untuk dapat menjalankan rukun Islam yang kelima. Meskipun hanya berjualan kue, Emak selalu berusaha untuk dapat menabung sisa hasil jualan kuenya.
"Jadi naik hajinya umur 86 tahun ya, Zein, mudah-mudahan masih ada umur, ya!” Inilah penggalan dialog sebagaimana dimuat tempo.co pada 12 November 2009, yang menceritakan harapan Emak untuk naik haji kepada puteranya, Zein yang diperankan oleh aktor Reza Rahadian.
Film EINH hanyalah satu potret dari ribuan masyarakat Indonesia yang senantiasa memiliki niat yang besar untuk naik haji. Keinginan untuk naik haji dan umrah di kalangan umat Islam ini merupakan buah dari doa Nabi Ibrahim yang diabadikan Al-Qur’an dalam Surat Ibrahim ayat 37: “Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka”.
Imam al-Thabari dalam tafsirnya menukil pandangan al-Hakam bahwa yang dimaksud “cenderung” menurut riwayat Atho’, Thowus dan ‘Ikrimah adalah menunaikan haji. Demikianlah, di usia lanjut sekalipun, seorang Muslim akan terpaut dan cenderung hatinya untuk ingin berhaji, sebagai buah dari doa Nabi Ibrahim.
Faktanya, dari tahun ke tahun jumlah, jemaah haji Indonesia yang berusia lanjut selalu ada. Untuk tahun 2024, aplikasi Siskohat milik Dirjen PHU (haji.kemenag.go.id) mencatat sejumlah 45.524 jemaah haji yang masuk kategori lansia (lanjut usia). 98.72 % dari jumlah ini belum pernah mengalami atau menunaikan haji sama sekali. Artinya, mereka baru pertama kali melakukan ibadah haji.
Menariknya, dari jumlah ini mayoritas berasal dari kalangan ibu rumah tangga (12.596) dan dari kalangan petani (11.834), sisanya berasal dari kalangan beragam. Dilihat dari kelompok umur, yang berusia 60-70 tahun mencapai jumlah 22.924 sebagai kelompok usia mayoritas. Sisanya adalah kelompok umur 70-80 tahun yang mencapai 16.967, kelompok umur 80-90 tahun mencapai 5.214, kelompok umur 90-100 tahun berjumlah 411, serta yang berusia 100-110 mencapai 8 orang jemaah haji.
Bisa dibayangkan bagaimana repot dan susahnya Kementerian Agama dalam melayani haji lansia dengan jumlah ribuah jemaah ini. Untuk itu, Kementerian Agama senantiasa memprioritaskan layanan hajinya kepada jemaah yang masuk kategori lansia ini, sehingga tema haji tahun ini sama dengan tahun kemarin, yaitu Haji Ramah Lansia (HRL).
Kebijakan prioritas HRL ini tentunya mendapat sambutan positif dari kalangan netizen Indonesia. Hal ini terlihat dari rekam jejak di media sosial yang kemudian, tema haji ramah lansia ini menjadi tagar di medsos. Tulisan ini ingin menyoroti sentimen terhadap kebijakan Haji Ramah Lansia oleh Kementerian Agama, untuk jangka tren di medsos dari 1 Juni hingga 1 Juli 2024. Analisa sentimen ini menggunakan analisis berbasis aplikasi Brand24 (app.brand24.com) dengan tagar #HajiRamahLansia.
Haji Ramah Lansia: Sentimen Positif 96%
Aplikasi Brand24 menampilkan ringkasan penyebutan untuk tagar #HajiRamahLansia dengan volume penyebutan berjumlah 2.136, jangkauan medsos 6.1 M, jangkauan non-medsos 159 K, dengan jumlah penyebutan positif sebanyak 344 dan negatif sebanyak 16 penyebutan.

Untuk sebutan kategori di medsos dengan tagar #HajiRamahLansia, medos Tiktok adalah yang terbanyak, yaitu mencapai 1.534, diikuti oleh media YT dengan jumlah 306 video, lalu X Twitter dengan jumlah 186 postingan.

Ringkasan aplikasi Brand24 menyebutkan bahwa secara numerik, netizen yang memiliki sentimen positif terhadap tagar #HajiRamahLansia mencapai 96% atau berjumlah 344 sebutan. Sedangkan netizen yang menyampaikan sentimen negatif hanya mencapai 4% atau berjumlah 16 sebutan.

Dengan catatan digital ini, dapat dikatakan bahwa kebijakan Haji Ramah Lansia oleh Kementerian Agama telah direspons positif oleh netizen sebagai kebijakan maslahat untuk jemaah, yaitu mencapai sentimen positif di angka 96%.
Untuk itu, kebijakan Kementerian Agama ini patut diapresiasi, dan ke depannya perlu dikembangkan lagi, mengingat jemaah haji Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat, karena bagaimanapun juga hati kaum Muslim Indonesia sudah “terpaut” dengan Tanah Suci, sebagai perwujudan doa Nabi Ibrahim, dengan mengabaikan usia yang dimilikinya. Wallāh a’lam.
Penulis adalah Rektor UIN Raden Mas Said Surakarta
Toto Suharto
Rektor UIN Raden Mas Said Surakarta, Wakil Rais PCNU Sukoharjo, dan Ketua Umum Pengurus Masjid Agung Sukoharjo.
Editor: Muhammad Faizin


