Jakarta, Arina.id - Frasa dalam judul di atas hakikatnya tidak saling berkaitan. Apa coba hubungan antara malam Jumat, kemudian malam Takbiran dengan kemenangan Timnas? Tidak ada. Apalagi hubungan kausalitas sebab-akibat. Timnas menang karena malam ini Jumat keramat misalnya. Atau tidak pula Timnas menang gara-gara takbir dikumandangkan dari towa-towa, atau takbir keliling umpamanya.
Tapi kebahagiaan malam ini seperti bertubi-tubi. Malam Jumat, bagi sebagian besar muslim--di Nusantara pastinya--menjadi malam penuh keberkahan dan kebahagian. Tahlilan, istighasah, zikir-zikir, banyak dilafalkan di surau, langgar, sampai rumah-rumah. Ini tentu karena Jumat merupakan hari paling mulia, paling utama (afdhal). Hadits-nya tegas pula, diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah Ra, bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bersabda:
“خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ إِلاَّ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ.”
“Sebaik-baik hari dimana matahari terbit di saat itu adalah hari Jum’at. Pada hari ini Adam diciptakan, hari ketika ia dimasukan ke dalam Surga dan hari ketika ia dikeluarkan dari Surga. Dan hari Kiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari Jumat.”
Lalu malam ini juga bertepatan dengan momen takbiran Idul Adha, malam 10 Zulhijjah 1446, kalender Hijriyah. Sebagian orang menyebutnya takbiran hari raya 'besar' sebagai peringatan peristiwa kurban Nabi Ibrahim yang diperintahkan Allah menyembelih putranya: Ismail. Namun Allah mengganti Ismail dengan seekor domba.
Seluruh umat Islam Indonesia bersuka ria pada malam ini. Pekik takbir berkumandang dari towa-towa, lainnya menggelar takbir keliling di desa-desa. Setelah malamnya takbiran, paginya salat Idul Adha, lalu menyembelih hewan kurban, kemudian membagikannya pada orang-orang sekitaran. Gembira sudah pasti, dapat daging, masak-masak, nyate bersama keluarga dan tetangga.
Sementara di belahan bumi lain, di Tanah Suci Mekkah, jutaan umat Islam juga sedang melaksanakan puncak ibadah haji: Wukuf di Arafah, hari berikutnya mabit di Muzdalifah dan Mina. Bagi keluarga di Tanah Air, ini tentu menjadi momentum yang ditunggu. Pada akhirnya kerabat mereka; mamak, bapak, kakak, paman, sebentar lagi mentas menjalankan ritual puncak ibadah haji. Zikir dideras; takbir, tahlil, tahmid, dan bumi pun menjadi saksi betapa manusia mengagung-agungkan asma Tuhannya.
Kegembiraan seperti tidak putus. Umat Islam Indonesia, terutama mereka yang mencintai sepak bola, sedang bersuka ria. Beberapa jam lalu, Timnas Indonesia memenangi laga Putaran Ketiga Grup C Kualifikasi Piala Dunia 2026 di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta. Timnas Garuda menggebuk China dengan sekor 1-0 lewat gol yang dicetak Romeny. Dari hasil ini, Timnas pun naik ke peringkat tiga menggeser Arab Saudi.
Adapun klasemen Grup C saat ini berturut-turut dari peringkat pertama masih Jepang dengan 20 poin, lalu Australia 16 poin, Indonesia 12 poin, keempat Arab Saudi dengan 10 poin. Dengan posisi klasemen sekarang ini, Jepang dan Australia otomatis lolos Piala Dunia. Sementara Indonesia harus melakoni putaran keempat bersama peringkat tiga dan empat di grup lain.
Meskipun begitu, kemenangan anak asuh Patrick Kluivert malam ini seolah cukup mengobati kegundahan fans sepak bola tanah air. Walhasil, kemenangan Timnas seperti melengkapi kegembiraan umat malam ini. Malam Jumat, Malam Takbiran, Timnas Indonesia menang, otomatis ada harapan lolos Piala Dunia 2026. Jadi judul memang tidak berkaitan, tapi nuansa kegembiraannya saja yang datang bersamaan.
Editor: Muhammad Taufiq


