Arina.id ~ Muktamar Pemikiran NU yang berlangsung sejak Jumat (1/12/2023) resmi ditutup hari ini oleh Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ulil Abshar Abdalla di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta.
Gus Ulil, sapaan akrabnya mengatakan, sejumlah forum diskusi yang digelar dalam kegiatan itu menghasilkan banyak rumusan yang akan menjadi langkah-langkah NU ke depannya. Salah satu rumusan tersebut adalah menggalakkan serta mengarusutamakan tema dan riset tentang masyarakat dan pentingnya masyarakat di kalangan warga Nahdliyin dan masyarakat umum.
"Kita juga akan melakukan kerja sama dengan pihak-pihak lain, baik di dalam negeri maupun di luar negeri yang punya keprihatinan serupa. Karena kami tahu bahwa pihak-pihak yang prihatin dengan runtuhnya masyarakat sebagai lembaga menjadi yang dasar hidup bersama umat manusia itu sekarang juga dimiliki oleh banyak kelompok, baik di dalam Islam sendiri maupun di luar Islam, di Indonesia maupun di luar negeri," tuturnya saat jumpa pers di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Minggu (3/12/2023).
Dari banyaknya rumusan yang dihasilkan forum diskusi Muktamar Pemikiran NU, Gus Ulil menyampaikan bahwa target utama kegiatan tersebut adalah melahirkan masyarakat yang ideal. Adapun kriteria ideal yang dimaksud adalah kriteria-kriteria yang telah dirundingkan oleh pihak-pihak dalam forum diskusi.
Ia juga mengatakan, upaya tersebut harus dibarengi dengan aksi nyata, baik aksi untuk mencapai target maupun untuk menghadapi tantangan. Sebab, ia mendapati bahwa perilaku masyarakat modern cukup memprihatinkan. Fenomena digitalisasi dewasa ini dinilai telah memengaruhi tingkah laku muda-mudi Indonesia sehingga memunculkan yang namanya gangguan kesehatan mental.
"Perilaku manusia modern, terutama di kalangan anak-anak kecil, remaja, dan generasi z pada saat ini itu, terus terang mencemaskan kami. Muncul banyak penyakit-penyakit gejala kesehatan mental yang muncul di kalangan generasi ini karena perilaku media sosial, gawai atau gadget yang kurang bijaksana. Kami punya rencana atau desain bagaimana menanggapi hal ini di masa depan," kata dia.
Pada kesempatan yang sama, Ketua PBNU Ahmad Suaedy, menyebutkan beberapa kriteria masyarakat yang ideal, yakni kreatif, responsif, inovatif, dan kritis.
"Mengeluarkan kritik berdasarkan nila-nilai yang kita yakini dan juga nilai-nilai yang kita temukan. Nilai itu kan terus berkembang. Jadi, itulah sebenarnya target kami. Kalau masyarakat sudah mendiskusikan masalah ini, artinya salah satu targetnya sudah tercapai karena tidak harus terbentuk satu ideologi utuh, lalu bersama-sama. Tidak, bukan itu. Tumbuhnya pemikiran inovatif, responsif, dan kritis," jelasnya.
11 poin hasil Muktamar Pemikiran NU:
- Muktamar ini tidak punya pretensi politik untuk terlibat dalam politik dukung-mendukung dalam konteks Pemilu 2024. Gejala dukung-mendukung yang terlalu menguasai percakapan publik menjelang Pemilu 2024 saat ini justru kurang sehat. Perhatian publik terhadap platform yang dibawa oleh masing- masing kandidat cenderung minimal.
- Muktamar ini dengan sengaja disebut sebagai “muktamar pemikiran” karena kami sadar bahwa aspek pemikiran inilah yang kurang mendapatkan porsi cukup dalam percakapan publik saat ini. Percakapan publik hari-hari ini kerap dilakukan secara instan, emosional, cepat tetapi sekaligus dangkal di ruang-ruang media sosial.
- Perlunya terus mengusahakan adanya ruang percakapan yang lebih mendalam dan serius tentang pelbagai masalah yang dihadapi oleh bangsa ini, di tengah-tengah pendangkalan komunikasi dan pemiskinan ide karena munculnya komunikasi baru melalui media sosial.
- Perlunya membawa kembali tema tentang “masyarakat” ke tengah-tengah percakapan publik, melihat adanya tantangan-tantangan, bahkan ancaman terhadap lembaga masyarakat itu sendiri, termasuk lembaga keluarga.
- Bagaimana bentuk “masyarakat” ini di masa depan tidak bisa dirumuskan dalam bentuk yang terlalu “rigid” sehingga bisa merosot menjadi sebuah ideologi yang malah berbahaya. Bentuk masyarakat ini harus menjadi tema terbuka yang dipercakapkan oleh semua pihak. Dan bentuk masyarakat itu pun, jika akhirnya berhasil dirumuskan, harus merupakan “bentuk yang terbuka” (katakan: open society), bukan tertutup yang meng-eksklusi yang lain.
- Meskipun demikian, haruslah ada nilai-nilai yang mendasari bentuk masyarakat apapun yang akan dibayangkan di masa depan. Lima nilai yang dirumuskan dalam “mabadi’ khaira ummah” (yaitu kejujuran, amanah dan memenuhi janji, keadilan, kerjasama, dan istiqamah/konsistensi) harus menjadi dasar dari bentuk masyarakat apapun yang dibayangkan di masa depan.
- Apapun bentuk masyarakat yang akan dirumuskan di masa depan itu, kedudukan utama haruslah diberikan kepada manusia. Masyarakat yang dibayangkan di masa depan adalah masyarakat manusia, dan karena itu manusia haruslah menempati posisi sentral (human centered society). Segala upaya dan tendensi yang berujung kepada pemerosotan derajat manusia (dehumanisasi) haruslah ditolak.
- Meskipun ini adalah masyarakat yang berpusat pada manusia, ini tidak berarti bahwa aspek-aspek ekologis harus diabaikan. Masyarakat manusia jelas tidak bisa tegak jika tidak ada habitat, termasuk habitat fisik dan alam, yang sehat. Karena itu spiritualitas ekologis adalah dimensi penting dalam konstruksi masyarakat di masa depan.
- Perkembangan-perkembangan yang begitu cepat dalam bidang kecerdasan buatan perlu terus dicermati. Perkembangan-perkembangan ini tidak perlu dicurigai, apalagi ditakuti. Karena adanya unsur ilahiah dalam diri manusia, dan karena kemuliaan derajat yang diberikan oleh Allah SWT kepadanya, manusia akan bisa mengarahkan perkembangan dalam kecerdasan buatan untuk kemanfaatan. Meskipun ada kapasitas dalam diri manusia untuk melakukan kejahatan, tetapi kapasitas kebaikan jelas lebih dominan pada dirinya. Karena itu, perkembangan kecerdasan buatan pada akhirnya adalah salah satu perkembangan saja dalam jenis alat-alat hasil rekayasa manusia untuk mengatasi sejumlah masalah yang dihadapinya. Pada awal dan akhirnya, manusia lah yang menduduki posisi utama.
- Selain berbasiskan mabadi’ khaira ummah yang sudah pernah dirumuskan oleh Kiai Mahfudz Shiddiq dahulu, apapun bentuk dan bayangan tentang masyarakat di masa depan, ia haruslah masyarakat yang dilandaskan pada sejumlah visi ini: keterbukaan, keadilan, penghormatan kepada keragaman, akhlak mulia, pentingnya keluarga dan pengasuhan anak, pentingnya pendidikan anak dalam keluarga sebagai basis awal penanaman nilai-nilai mulia, dan kesetaraan yang tidak bertentangan dengan masqashid al-shari’ah atau visi universal agama.
- Sikap kami terhadap modernitas, modernisasi, dan perkembangan sosial adalah bukan menolak secara total (rejeksionis) dan bukan pula menyerah kalah kepada perkembangan itu. Kami hadir secara aktif untuk merumuskan sikap terhadap perkembangan itu, dan kami hendak berubah dengan “syarat-syarat” yang kami kehendaki dan tentukan sendiri.
Editor: Muhammad Zunus


