Jakarta, Arina.id — Tepat hari ini, 16 Rajab di kota Pahlawan Surabaya, Jawa Timur, para ulama mendeklarasikan organisasi massa (Ormas) Islam terbesar di Indonesia yakni Nahdlatul Ulama. Kini organisasi yang didirikan oleh Hadratussyeikh Hasyim Asyari bersama ulama lainnya telah berusia 102 tahun.
Ini merupakan inisiatif luar biasa, tidak hanya membawa bobot strategis dalam skala peradaban, tetapi juga membawa bobot ruhani untuk menciptakan kasih sayang kepada umat Nabi Muhammad saw lewat terbentuknya organisasi ini.
Demikian dikemukakkan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf dalam membuka Kick Off Hari Lahir (Harlah) Ke-102 Nahdlatul Ulama (NU) di Kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, Kota Surabaya, Kamis (16/1/2025). Kick off ini menandai dimulainya rangkaian perayaan Harlah ke-102 NU yang akan puncaknya pada 6 Februari 2025 mendatang di Jakarta.
Gus Yahya mengungkapkan takdir Allah swt menjadikan generasi saat ini sebagai pewaris dari lebih 100 tahun atsar dan barokahnya para muassis. Warisan itu berupa berbagai lembaga, aset, pemikiran, gagasan, dan lain sebagainya.
"Saya tidak melihat ada atsar yang lebih besar dari inisiatif apa pun sepanjang sejarah dunia Islam modern ini yang lebih dalam maknanya daripada atsar yang ditinggalkan oleh para muassis NU," ungkap Gus Yahya.
Gus Yahya juga mengingatkan hari ini, seluruh warga NU memikul tanggung jawab atas atsar yang diberikan para pendahulu bagi kemanusiaan dan agama secara menyeluruh, warisan ini bukan sekadar aset tetapi harus dijaga dan dilestarikan. Oleh karena itu untuk melanjutkan warisan yang ada diperlukan konsolidasi.
"Saatnya kita konsolidasi, mengoptimalkan seluruh kekayaan yang diwariskan ini agar semakin memudahkan upaya-upaya seluruh warga NU untuk mewujudkan cita-cita para muassis NU," tegasnya.
Tiga Matra Konsolidasi
NU memiliki agenda konsolidasi yang meliputi tiga hal, yakni tata kelola organisasi, agenda organisasi, dan sumber daya. Matra pertama adalah konsolidasi tata kelola organisasi. Gus Yahya berharap dapat merapikan mekanisme dan prosedur agar jalannya organisasi lebih terukur dan pasti.
Setiap unit kepemimpinan semua jajaran kepengurusan menjadi unit organisasi mapan dengan kepercayaan yang lebih tinggi, martabat yang lebih tinggi sehingga dapat menjalankan tugasnya dengan lebih baik.
Matra kedua adalah konsolidasi sumber daya yang menyangkut sumber daya manusia maupun sumber daya pembiayaan organisasi. PBNU telah melaksanakan sistem pelatihan kader berjenjang dan hasilnya sangat signifikan.
"Dalam dua tahun terakhir, kami berhasil melaksanakan lebih dari 1.000 kali PD PKPNU dan meluluskan lebih dari 94. 000 kader PKPNU, dan melaksanakan 43 kali Pendidikan Kepemimpinan Menengah NU (PKMNU) dan meluluskan lebih dari 2.600 kader," jelas Gus Yahya dihadapan ratusan pengurus NU Jawa Timur.
Meskipun masih jauh dari target yang ditetapkan, Gus Yahya bertekad kedepannya, pelatihan kader ini dapat dilakukan dengan lebih sering dan lebih masif sekurang-kurangnya 2.864 kali gelaran PD PKPNU dan 800 kali PKMNU setiap tahun.
"Insyaallah, kami mohon doa restu dari para kiai, sesepuh, nyai, kami berharap pertengahan tahun ini bisa memulai penyelenggaraan Akademi Kepemimpinan Nasional NU," imbuhnya.
Untuk konsolidasi sumber daya pembiayaan, Gus Yahya mengungkapkan bahwa PBNU kini berhasil membiayai operasional rutin dengan dana yang berasal dari unit-unit usaha yang telah dibentuk. "Dengan usaha sendiri, kami dapat memenuhi kebutuhan operasional PBNU tanpa harus mengandalkan donasi. Setiap bulan, pengeluaran PBNU rata-rata mencapai 1,3 miliar," tuturnya.
Konsolidasi Agenda dan Rencana Strategis (Renstra)
Matra ketiga yang tidak kalah penting adalah konsolidasi agenda. Gus Yahya mengatkan bahwa PBNU telah menyusun rencana strategis yang akan diteruskan ke tingkat PWNU dan PCNU. "Lakpesdam PBNU telah menyusun rancangan program yang selaras dengan rencana strategis PBNU dan selanjutnya akan disampaikan kepada seluruh PWNU dan PCNU," ujarnya.
Ia berharap agar seluruh pengurus NU dapat terus melakukan konsolidasi dan eksekusi agenda-agenda besar yang telah direncanakan. Gus Yahya mengapresiasi kerja keras seluruh jajaran PBNU hingga PCNU dalam mengupayakan agenda konsolidasi ini selama tiga tahun terakhir yang dinilai sangat intensif.
"Saya mengucapkan rasa terima kasih dan apresiasi kepada seluruh jajaran pengurus dari PBNU, PWNU, PCNU, MWCNU hingga Ranting NU atas ketekunan, kesabaran, ketahanan di dalam bersama-sama mengupayakan agenda tersebut selama tiga tahun terakhir ini," jelasnya.
Gus Yahya mengibaratkan jalannya organisasi seperti situasi jalanan macet. Jika jalanan macet orang-orang akan mengeluh tapi jika jalanan lengang pasti yang ketar-ketir adalah pemerintah karena jalanan macet menunjukkan ekonomi berjalan dengan baik.
"Jika jalanan kosong, pemerintah bingung itu tanda ekonomi tidak berjalan, itu cara gampang kita mengukur apakah agenda kita jalan. Semakin sibuk kita, berarti agenda kita berjalan baik," ungkapnya.
Ia mengucapkan terima kasih dan apresasi kepada seluruh jajaran pengurus NU yang telah berjuang bersama-sama untuk menyukseskan konsolidasi ini. "Mari senantiasa kita sambungkan semua yang kita lakukan ini dalam tabarruk kepada para muassis NU, sehingga semua yang kita lakukan akan terus membawa ruh dari barokah para muassis," pungkas Gus Yahya.
Editor: Kendi Setiawan


