Dark
Light
Dark
Light

Belajar dari Kasus Al Khoziny, Perlu Ada Pembenahan Standar Bangunan Pesantren

Belajar dari Kasus Al Khoziny, Perlu Ada Pembenahan Standar Bangunan Pesantren

Jakarta, Arina.id— Robohnya bangunan di pesantren bukan lagi peristiwa baru. Kejadian semacam ini terus berulang, sehingga peristiwa yang menimpa ratusan santri di Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur, tak bisa sekadar disebut musibah semata.

Kasus serupa pernah terjadi di Pondok Pesantren Cipanas, Jawa Barat, saat bangunan pesantren ambruk dan menyebabkan puluhan santri luka-luka. Di Sukabumi dan Magelang, empat santri meninggal dunia setelah dinding kolam dan tembok kamar pesantren roboh.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkap kegagalan teknologi konstruksi menjadi pemicu kejadian ambruknya musala Pondok Pesantren Al Khoziny Sidoarjo.

Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, kejadian seperti ini perlu diantisipasi melalui penerapan standar keselamatan konstruksi secara ketat.

"Masyarakat dan pengelola bangunan bertingkat diimbau untuk memastikan pengawasan teknis pembangunan agar kejadian serupa dapat dicegah di masa mendatang," ungkapnya dalam keterangan resmi.

Selaras dengan pandangan itu, pakar teknik sipil struktur Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Mudji Irmawan menyebut pembangunan musala itu tak terencana dan tidak sesuai kaidah teknis.

"Kalau kita lihat sejarah pembangunan ruang kelas pondok pesantren ini awalnya merupakan bangunan yang direncanakan cuman satu lantai," kata Mudji.

Namun, pengurus ponpes menambah ruang baru di lantai dua dan tiga. Penambahan lantai itu, lanjut Mudji, membuat beban yang ditanggung lantai satu semakin bertambah, namun tidak diimbangi oleh kaidah teknis, berupa perhitungan dan perencanaan.

Menteri Agama Nasaruddin Umar beberapa waktu lalu saat berkunjung ke Sidoarjo menekankan perlu ada ketentuan terkait standar bangunan agar peristiwa gedung ambruk di Pesantren Al Khoziny tidak terjadi lagi di masa mendatang.

"Menag sudah berkunjung beberapa hari lalu. Menag melihat langsung sebagai upaya Kemenag memahami masalah dan berempati kepada para korban dan pesantren. Menag hadir untuk mengetahui dan melihat langsung apa yang terjadi di sana," sebut Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Thobib Al Asyhar.

Kemenag berkepentingan melakukan perbaikan ke depan bersama pesantren untuk menjaga dan memastikan seluruh gedung bisa memberikan keamanan dan kenyamanan bagi santri. 

"Ini akan kami diskusikan bersama pimpinan pesantren, terkait prosedur pembangunan," papar Thobib.

Kemenag juga akan berkoordinasi dengan Kementerian PU (Pekerjaan Umum) dan pihak terkait untuk mensosialisasikan dan memberikan pengetahuan agar seluruh proses pembangunan ke depan sesuai standar.

"Masyarakat tidak perlu khawatir memasukan anaknya ke pesantren. Kami dari Kemenag akan terus mengawal hal ini agar masalah ini tidak terjadi di masa mendatang,” tandasnya.

Sebanyak 14 Santri Wafat, 49 Orang Masih Dicari

Hingga Jumat (3/10/2025) pukul 23.05 WIB, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis data terbaru korban akibat ambruknya gedung Pondok Pesantren Al Khoziny Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur terus berkembang. Total korban tercatat sebanyak 167 orang.

Dari jumlah tersebut, 118 orang telah ditemukan dengan rincian; 103 orang dalam kondisi selamat, 14 orang meninggal dunia dan satu orang kembali ke rumah tanpa memerlukan penanganan medis lanjutan.

Sebanyak 14 orang masih menjalani perawatan di rumah sakit, 89 orang telah diperbolehkan pulang dan satu orang dirujuk ke rumah sakit di Mojokerto. Sementara itu, sebanyak 49 orang lainnya (berdasarkan daftar absensi yang dirilis pihak pondok pesantren) masih dalam pencarian oleh tim SAR gabungan.


Editor: Muhammad Taufiq
Al-Quran Digital

Berita Lainnya

Hadits Online

Terbaru Lainnya

logo